Artikel Terbaru

PAPSB: Rumah untuk Bocah Tersisih dan Ditolak

Anak-anak Pondok Si Boncel bergoyang ria dalam sebuah acara ulang tahun, Sabtu, 25/6.
[HIDUP/Edward Wirawan]
PAPSB: Rumah untuk Bocah Tersisih dan Ditolak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAnak-anak ini terpaksa tinggal di panti karena orangtuanya bermasalah. Diasuh para suster Dominikan, mereka diajar berdoa Katolik, tapi tidak dibaptis.

Lagu Goyang Dumang mengiringi gerak sekelompok bocah. Mereka menari dengan gerakan yang sama, rapi dan teratur. Dasar bocah, sesekali ada yang salah gerak. Tetapi ia segera mengikuti ritme teman-temannya. Lagu berakhir, tari berhenti, mereka pun tertawa. Demikian salah satu aktivitas bocah-bocah penghuni Panti Asuhan Pondok Si Boncel (PAPSB), Jagakarsa Jakarta Selatan ketika HIDUP menyambangi panti yang diasuh oleh Kongregasi Suster St Dominikus (OP) ini, pada Sabtu, 25/6.

Usai bergoyang, Sr Gaudensia OP mengajak anak-anak PAPSB ke permainan berikutnya. Tak ada kelelahan terlihat di wajah mereka. Hari itu mereka juga sedang kedatangan tamu. Sebuah keluarga beragama Kristen Protestan yang merayakan ulang tahun salah satu anggota keluarganya di tempat tersebut.

Tepat tengah hari, mereka bergabung dalam sebuah jamuan makan siang. Seorang bocah tampil memimpin doa. Semua menyahut dengan keras. Doa Bapa Kami dipanjatkan dalam nada histeria. Sebagian berdoa sambil menutup mata, sebagian melongok ke kiri dan ke kanan, mungkin karena sudah lapar. Namun saat menjelang tidur siang, dari unit-unit terdengar lagi doa dengan histeria itu.

Ditolak Dunia
Di PAPSB, bocah-bocah selamat dari amuk kekejaman dunia. Kedatangan mereka ke dunia tak diharapkan. Mereka ditolak oleh keadaan orangtua yang tak siap, entah secara lahiriah maupun batiniah.

Suster M. Thomasine OP, Ketua PAPSB, menjelaskan, ada banyak alasan mengapa anak-anak ini ada di panti. Ada yang datang dari keluarga yang retak; sang ayah meninggalkan ibunya atau sebaliknya. Karena ditinggal pergi salah satu atau kedua orangtuanya, maka keluarganya terpaksa menitipkan anaknya di PAPSB. Ada juga orangtua yang masih berstatus siswa sekolah atau sudah kerja, tapi hamil di luar nikah.

Panti yang berdiri pada 1 April 1972 ini, tidak menerima begitu saja anak-anak yang datang. Pihak panti akan memeriksa kelengkapan surat RT, RW, surat nikah dan kelengkapan administrasi lainnya. Tim dari panti akan mengadakan home visit, untuk mengetahui kondisi keluarga si bocah. Home visit dilakukan supaya panti tidak salah dalam melangkah. “Pernah ada keluarga yang tinggal di apartemen datang menitipkan anak di panti. Kami tolak, kan bisa ia mencarikan pengasuh, di sini bukan tempat orang-orang mampu,” kata suster yang mengucapkan kaul kekal 1987 ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*