Artikel Terbaru

PAPSB: Rumah untuk Bocah Tersisih dan Ditolak

PAPSB: Rumah untuk Bocah Tersisih dan Ditolak
Mohon Beri Bintang

Tak semua anak-anak dikunjungi lagi oleh keluarganya. Saat ada orangtua anak yang berkunjung, beberapa anak bertanya, “Suster, saya kok nggak pernah ditengok?” Pertanyaan itu kadang membuat Sr Thomasine dan para pengasuh dilanda perasaan luluh lantak. “Kami biasanya akan menjawab, mereka nengok kamu juga kok.”

Dalam perawatan, menurut Sr Thomasine, kadang-kadang tidak mudah mengasuh bocah-bocah PAPSB. Mereka harus didampingi dari nol hingga bisa bicara dan sekolah TK. Karena itu, ia selalu mengajak para pengasuh, agar merawat dengan sepenuh hati, kasih, dan tulus ikhlas.

Hal itu terlihat dalam keakraban antara pengasuh dan anak-anak panti. Mereka yang berusia tiga sampai enam tahun akan menemani pengasuh membuat hiasan dinding untuk memperindah tampilan kamar. Anak-anak dua tahun juga sudah dilatih menemani pengasuh bekerja. Kasih sayang dan kebersamaan tampak dalam karya tangan mereka, hiasan sederhana di dinding-dinding panti.

Agar pendampingan berjalan baik, dua Minggu sekali ada bimbingan psikologi untuk anak-anak dan sekali sebulan untuk pengasuh. “Anak-anak datang dari latar belakang keluarga retak, ditolak dan luka batin. Jadi perlu ditangani dengan baik,” jelas Sr Thomasine.

Baru-baru ini ada program pendampingan khusus selama lima bulan untuk anak-anak tiga sampai enam tahun. Sebelum pergi ke sekolah, anak-anak unit I dipeluk dengan hangat. Unit II, pengasuh mengatakan “Kamu hebat, kamu pintar, kamu bisa.” Sedangkan di Unit III pengasuh memberikan tanda Salib di dahi diiringi ucapan, “Kamu disayang Tuhan.”

Setelah sebulan, program dievaluasi, apakah ada perubahan atau tidak. Hasilnya anak-anak menjadi lebih percaya diri dan berubah sikapnya. Bulan berikutnya, cara unit I dilakukan ke anak unit II, dan unit II ke unit III lalu kembali ke unit I dan seterusnya.

Panti ini hidup dari dana yayasan Perkumpulan Vincentius Jakarta dan donatur. Jika anak-anak sudah lulus TK Si Boncel dan keluarga tak mengambil, maka yang putri akan hijrah ke panti Vincentius Putri. Sedang anak putra ke Vincentius Putra atau Desa Putra. “Tapi kami selalu menganjurkan agar anak dikembalikan ke keluarga,” kata suster asal Maumere, Flores ini.

Senyum manis beberapa anak PAPSB mengiringi saat HIDUP melangkah pergi meninggalkan mereka. Senyum yang seakan mengatakan, “Kami bahagia dan kami akan menjadi orang-orang yang hebat kelak.”

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*