Artikel Terbaru

Salib dan Kehidupan

[google image]
Salib dan Kehidupan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sentilan Montfort masih aktual dalam merefleksikan salib dan kehidupan. “Salib adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah salib. Barangsiapa menyangkal salib Yesus, dia pun akan disangkal Yesus di hadapan Bapa,” katanya. Percikan refleksinya itu menyentuh relung kalbu untuk melihat bagaimana memahami
salib Yesus.

Yesus juga memberikan mandat sebagai murid. Kemuridan bagi Yesus adalah saat orang yang menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia. Yesus memaklumatkan kemuridan sejati dengan memanggul salib-Nya. Refleksi tentang salib tidak bisa terlepas dari teologi inkarnasi. Peristiwa inkarnasi memungkinkan teologi sa lib. Salib adalah kenosis tertinggi Allah. Dia mau menanggung dan menebus dosa manusia.

Salib bagi orang tak percaya adalah sebuah kebodohan. Namun bagi orang yang percaya, salib adalah simbol kemenangan. Salib menjadi tanda penyilihan dosa manusia. Salib sebagai a remedy of satisfication and sacrament. Jadi, salib adalah Sakramen Cinta Allah.

Dalam dokumen Konsili Vatikan II (KV II) secara jelas dilukiskan, salib sebagai jalan kesucian. “Yesus Putera Allah telah menyatakan cinta kasih-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Maka, tidak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar dari pada dia yang merelakan nyawanya untuk Dia dan untuk saudara-saudara-Nya. Maka, Gereja melihat salib sebagai karunia luar biasa dan bukti cinta kasih tertinggi kematian martir, yang menjadikan murid serupa dengan guru.”

Menarik bahwa teologi Montfort sama seperti yang dikatakan KV II. Orang yang mengikuti Yesus dipanggil untuk memanggul salib. Maka dalam merefleksikan salib Yesus, kita melihatnya bukan sebagai nasib, tetapi sebuah revelasi cinta Allah yang paling tinggi. Yesus sudah dari semula datang untuk menghantar manusia kepada Allah. Manusia yang telah dinodai dosa kini dipulihkan oleh salib Yesus.

Kehilangan makna seandainya Yesus memanggul salib bukan karena cinta. Ada sebuah seruan cinta yang mengalahkan maut. Di sini, Yesus menunjukkan cinta sampai maut, cinta sampai merasa sakit dan memberikan semua yang dimiliki hingga bertaruh nyawa. Lebih jauh, Montfort merefleksikan hanya dan melalui salib, manusia bisa naik kehadirat Allah.

Salib adalah lambang ketaatan Adam baru. Adam lama telah jatuh dalam dosa ketidaktaatan. Kehadiran Adam baru melepaskan manusia dari budak dosa. Salib adalah lolosnya cinta Allah kepada manusia. Atau dalam refleksi yang agak tinggi, Montfort melihat bahwa “Jumat Agung tidak terjadi setelah Paskah. Jumat Agung adalah Paskah itu sendiri”.

Kebangkitan terjadi setelah kematian. Bahkan, kematian itu sendiri adalah kemuliaan dan kemenangan. Sebuah sentilan yang meruntuhkan konsep, bahwa salib adalah kematian bodoh. Salib adalah kekalahan. Atau menolak secara terang-terangan salib. Panggilan para pengikut Kristus adalah panggilan menjadi murid dengan belajar dan menimba semangat Sang Guru. Aneh jika orang menyangkal salib atau menyembunyikan salib dan hanya mengakui kebangkitan-Nya.

Sejatinya, hidup itu sendiri adalah salib. Di sana, mengalir cinta Allah. Setiap pilihan memiliki risiko. Risiko itu sendiri adalah salib. Hanya rahmat Allah yang memampukan manusia menerima risiko itu. Salib bukan untuk dihindari, melainkan dipikul dalam persatuan dengan salib Yesus.

Belajar dari salib berarti belajar untuk taat. Hanya dalam ketaatan, Yesus bisa melewati semunya. Selain itu, belajar mencintai tak pilah-pilah dan mengasihi tak pilih-pilih. Yesus di atas salib menebus dosa umat manusia, bukan hanya dosa orang Kristen. Itulah yang perlu diaksentuasi dalam peristiwa salib.

Melihat salib, kita belajar menjadi pemberi. Dia memberikan diri-Nya untuk manusia. Kecenderungan manusia yang mau menjadi penerima di sentakkan oleh salib. Pelajaran lebih berharga, manusia ternyata mudah menjadi pengambil. Jangan banyak mengambil, melainkan mudah memberi. Maka spiritualitas salib perlu dihidupi dalam kehidupan.

Eugen Sardono SMM, Mahasiswa STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*