Artikel Terbaru

BIA Tak Boleh Diabaikan

Romo Viktorius Rudi Hartono.
[HIDUP/R.B.E. Agung Nugroho]
BIA Tak Boleh Diabaikan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKerasulan BIA butuh sinergi banyak pihak untuk penyediaan SDM berkualitas dan sarana-prasarana penunjang dalam konteks katekese berjenjang dan sinambung.

Kerasulan Bina Iman Anak (BIA) menjadi salah satu divisi di Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta (Komkat KAJ). Hal ini menunjukkan pentingnya pembinaan iman sejak dini; pun melihat kondisi BIA di paroki-paroki KAJ yang masih berpeluang ditingkatkan. Merefleksikan kerasulan BIA ini, HIDUP berkesempatan mewawancarai Ketua Komkat KAJ sekaligus Pastor Kepala Paroki St Ignatius Loyola Jalan Malang, Jakarta Pusat, Romo Viktorius Rudi Hartono. Berikut petikannya:

Bagaimana kerasulan BIA dalam konteks hidup Gereja?

Bagi saya, kerasulan BIA adalah bagian karya Gereja. Gereja hidup dan terbentuk dari pewartaan. Dalam Roma 10:14-15, Gereja merumuskan moto, “Tanpa pewartaan tidak ada Gereja; dan tanpa Gereja tidak ada pewartaan”. Artinya, pewartaan adalah jantung Gereja. Kita tak bisa mengembangkan iman tanpa pewartaan. Kekatolikan ada, juga karena pewartaan. Karya yang dirumuskan dalam pewartaan inilah yang disebut katekese atau dakwah.

Harus diingat, katekese bukan sekadar mempersiapkan katekumen untuk menerima Sakramen Baptis, tapi juga meningkatkan iman yang sudah dibaptis secara bertahap dan berkesinambungan. Inilah pembinaan iman umat. Maka pembinaan iman di segala jenjang usia adalah keharusan. Dasarnya, amanah atau perintah perutusan Yesus untuk pewartaan Injil (Mrk 16:15-20). Maka pewartaan Injil adalah keharusan (1Kor 9:16). Singkatnya, katekese menjadi prioritas bagi Gereja, salah satu pilar selain Kitab Suci, liturgi dan karya sosial.

Di sini dapat dilihat, BIA menjadi salah satu karya katekese dalam Gereja. Maka BIA sangat penting dan tak pernah boleh diabaikan. Bahkan seharusnya ada wadah pembinaan iman anak–juga Bina Iman Remaja (BIR) untuk melihat kontinuitasnya–karena di paroki, BIA dan BIR kadang menyatu.

Apa dasar teologis BIA sebagai karya katekese?

Karya katekese juga menjadi usaha menyelami misteri Kristus dan keselamatan-Nya (Mat 26:55). Inilah lan dasan teologisnya. Wujud nyata yang dihayati dan direnungkan Gereja secara teologis terdapat dalam Lumen Gentium art. 19. Dikatakan, karya katekese dimengerti sebagai pengajaran iman di mana karya pengajaran Kristus diwariskan kepada para rasul-Nya turun-temurun. Bahkan, Gereja merefleksikan sumber pewartaan katekese dari Gereja Perdana (Kis 2:41-47). Inilah titik berangkat tradisi karya katekese Gereja, mulai dari pengajaran, pendidikan, dan pembinaan iman. Tradisi ini dapat dilihat–misalnya–seperti dalam pembinaan iman secara berjenjang dan berkesinambungan yang dilakukan Regio Jawa sekarang.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*