Artikel Terbaru

Remah-Remah Refleksi Pendamping BIA

Pendamping BIA Paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda Tangerang dalam rekoleksi pendamping BIA sedekenat Tangerang.
Remah-Remah Refleksi Pendamping BIA
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAnak-anak tidak saja Gereja masa depan, tapi juga Gereja kini. Pembinaan iman anak di paroki membuktikan motivasi dan komitmen yang besar dari para pendamping sukarela BIA.

Kadang Videlia Suryati merasa kewalahan. Kak Ety, demikian ia biasa disapa anak-anak BIA ini, adalah salah seorang pendamping Bina Iman Anak (BIA) di Paroki St Arnoldus Janssen Bekasi, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Saat mendampingi kegiatan BIA, ia harus menghadapi macam-macam polah tingkah anak-anak usia 3-7 tahun. Tiba-tiba ada yang menangis atau berteriak. Kadang ada juga yang ngompol. Ada saja polah bocah yang mengundang perhatian ketika kegiatan BIA berlangsung.

Meski kewalahan, Ety tetap tegar. Bermacam polah tingkah anak-anak itu ia hadapi dengan enteng. Sudah 15 tahun, ia bergelut dengan dunia BIA di Paroki Bekasi. Puluhan angkatan anak-anak BIA pernah ia rengkuh dengan kasih. Yang menjadi kepeduliannya hanyalah bagaimana anak-anak mengalami perkembangan iman. Inilah yang memicunya untuk setia melayani sebagai Pembina Iman Anak (PIA). “Ya, kita harus siap apapun yang terjadi di situ, karena sudah memutuskan untuk terlibat,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Tanpa Sengaja
Awalnya, Ety prihatin dengan perkembangan iman anaknya. Lingkungan tempat tinggalnya mayoritas beragama Islam. Ia berpikir, bagaimana anaknya dapat mengenal nilai-nilai kekatolikan dan mampu menghidupinya. Apalagi ia mengaku, sebelum menjadi Katolik, Ety beragama Kristen Protestan. Ia pun melihat, banyak anak Katolik yang kurang dikenalkan dengan agamanya sendiri. Contohnya saja, beberapa anak tak tahu bagaimana membuat tanda salib.

Kegelisahannya memantik hasrat untuk mencari tahu tentang Sekolah Minggu dan mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan BIA Paroki. Ia rajin menemani anaknya ikut Sekolah Minggu. Praktis, ia mengikuti dan memperhatikan kegiatan itu, dan sesekali membantu para PIA dalam mendampingi anak-anak. Lambat laun, ia jatuh hati pada kerasulan BIA dan terjun menjadi PIA di Paroki Bekasi. Keterlibatan Ety sungguh tak disengaja. Namun, Tuhan punya rencana lain dan melimpahkan sukacita berlimpah melalui pelayanan yang ia geluti.

Setali tiga uang dengan Ety, F.X. Galih Wirahadi juga mengalaminya. PIA asal Yogyakarta ini mengaku, dirinya terjun dalam kerasulan BIA atas paksaan kakaknya. Sang kakak sudah lebih dulu menjadi PIA di Paroki Hati St Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Keuskupan Agung Semarang (KAS). Meski biasanya PIA didominasi kaum Hawa, pelayanan ini sangat membutuhkan tenaga kaum lelaki, terutama bila ada kegiatan besar. Mereka diberi tugas untuk mendekor atau mengurusi perlengkapan. Galih, sapaan akrabnya, diminta sang kakak untuk membantu menyiapkan dekorasi dan perlengkapan. Lama kelamaan tanpa disadari, Galih pun terlibat aktif di paroki.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*