Artikel Terbaru

Tradisi Penumpangan Tangan

[google image]
Tradisi Penumpangan Tangan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah penumpangan tangan oleh umat awam bisa dibenarkan menurut Ajaran Gereja? Bukankah dalam tradisi Gereja penumpangan tangan hanya dilakukan mereka yang tertahbis? Apakah selama ini Magisterium melakukan pembiaran praktik penumpangan tangan oleh awam meskipun salah?

Amel Christine, Jakarta

Pertama, penumpangan tangan itu sendiri tak mempunyai kuasa magis yang dapat memberikan kekuatan tertentu. Dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja tindakan penumpangan tangan dimaknai sebagai tindakan simbolis religius untuk memohonkan rahmat Roh Kudus atau biasa disebut epiklese. Sebagai doa, orang yang menumpangkan tangan memohon kepada Allah karunia Roh Kudus. Menurut Ajaran Gereja, penumpangan tangan adalah “tanda pencurahan Roh Kudus” (KGK 699). Ajaran ini harus dimengerti bahwa karunia Roh Kudus yang diterima bukan berasal dari orang yang menumpangi tangan, tetapi pemberian Roh Kudus melalui doa orang yang menumpangi tangan.

Kedua, ada bermacam-macam karunia Roh Kudus yang bisa dimohonkan dan masing-masing permohonan bisa diungkapkan dengan tindakan simbolis penumpangan tangan. Karena itu dalam Gereja-Gereja Kristen, penumpangan tangan digunakan dalam aneka upacara, baik yang resmi maupun yang tak resmi, misal upacara sakramen-sakramen, pelantikan fungsionaris Gereja, pelayanan penyembuhan, permohonan berkat secara umum dan upacara-upacara religius lainnya.

Dalam Kitab Suci tidak ada pembatasan tentang siapa yang boleh secara eksklusif menggunakan tindakan simbolis penumpangan tangan. Tentu saja karunia Roh Kudus yang dimohonkan dan kemudian diberikan Tuhan tergantung kepada status dan wewenang orang yang menumpangkan tangan. Misal hanya uskup yang bisa memohonkan dan menerimakan karunia tahbisan Uskup, imam, dan diakon. Hanya imam yang boleh menumpangkan tangan atas roti dan anggur dan memohon perubahan menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kaum awam boleh menumpangkan tangan untuk memohon karunia Roh Kudus kesehatan, pencerahan, juga yang terkait dengan sakramentali, dan lain-lain.

Ketiga, dalam tradisi Gereja, terutama sejak Konsili Trente, penumpangan tangan memang banyak dilakukan mereka yang tertahbis sehingga terkesan seolah tindakan simbolis itu menjadi eksklusif milik kaum tertahbis. Hal ini terjadi karena Gereja pada waktu itu sangat menekankan imamat ministerial yang diserang kaum Protestan dan sebaliknya kurang menekankan imamat umum, yaitu imamat semua orang yang dibaptis, yang dipromosikan kaum Protestan. Konsili Vatikan II mengembalikan fungsi imamat umum (1 Ptr 2:4-10) yang seolah terlupakan itu (LG 10-11). Maka sebagai konsekuensinya, kaum beriman awam juga bisa memohonkan karunia Roh Kudus sesuai dengan imamat umum mereka. Itulah yang diungkapkan dalam SC 79 (tahun 1963) dan lebih lanjut dituangkan dalam KHK 1168 (1983), “… beberapa sakramentali, sesuai norma buku-buku liturgi, menurut penilaian Ordinaris wilayah, dapat juga dilayani oleh orang awam yang memiliki sualitas yang sesuai.” Katekismus No. 1669 (1993) merinci dengan lebih jelas, “Sakramentali termasuk wewenang imamat umum semua orang yang dibaptis, setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi ‘berkat’ dan untuk memberkati. Karena itu, kaum awam dapat melayani pemberkatan-pemberkatan tertentu. Semakin satu pemberkatan menyangkut kehidupan Gereja dan sakramental, semakin pelaksanaannya dikhususkan untuk jabatan tertahbis (Uskup, Imam, dan diakon).”

Keempat, jika setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi berkat dan memberkati, maka mereka secara absah dapat menggunakan tindakan simbolis penumpangan tangan sebagai tandanya, misal untuk memohonkan rahmat bagi anak-anak mereka, memberkati makanan, memberkati anak-anak pada saat Ekaristi. Jadi penumpangan tangan oleh mereka yang tidak tertahbis yang dilakukan dalam doa penyembuhan bisa dibenarkan, dan bukan bentuk pembiaran oleh hirarki.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*