Artikel Terbaru

Mengikuti Ayah atau Ibu

[google image]
Mengikuti Ayah atau Ibu
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comSelamat bertemu, Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga. Salam kenal dengan saya, Jacob dari Jakarta. Saya adalah anak dari keluarga Katolik “broken home”. Awalnya keluarga kami baik-baik, tetapi masalah muncul setelah perusahaan ayah saya bangkrut. Kami jatuh miskin dan itu berakibat pada keharmonisan ayah dan ibu. Setelah ayah jatuh miskin, ibu ingin cerai dan tidak mau hidup bersama lagi. Saya dan dua adik bingung memutuskan mengikuti ibu atau ayah. Kami bertiga harus mengikuti siapa? Kalau mengikuti ayah atau ibu, pertimbangannya apa sebelum membuat pilihan? Karena kami sementara dilanda kebingungan. Terima kasih.

Jacob, Jakarta

Saudara Jacob yang baik, saya ikut prihatin atas kejadian dalam keluarga kalian. Pertama, harus dikatakan bahwa keluarga kalian dalam situasi yang tidak normal. Keluarga dalam keadaan pecah, maka penanganan tidak boleh mengambil cara biasa yang dipakai oleh keluarga dalam kondisi normal. Mari saya ajak Anda untuk memahami situasi Anda yang sedang kurang nyaman ini.

Perpisahan atau perceraian saja merupakan hal yang sangat dibenci dalam hidup perkawinan Katolik. Kita tidak mengenal perceraian karena masalah-masalah rumah tangga yang terjadi, kecuali masalah itu ada sebelum pernikahan dilakukan dan membatalkan perkawinan (anulasi). Maka, secara Hukum Gereja, keluarga Anda membutuhkan permenungan yang mendalam dan kembali ke janji perkawinan yang suci untuk saling menerima dan saling mendukung dalam suka dan duka.

Membaca pertanyaan Anda, semoga saat ini ayah dan ibu belum bercerai secara definitif, karena itu akan sangat mengubah kehidupan mereka dan seluruh keluarga. Anda masih dapat berperan dalam peristiwa ini. Mintalah dan mohonlah pada kedua orangtua Anda untuk memikirkan kembali dan membuat keputusan yang bijaksana terkait dengan kekudusan perkawinan, janji perkawinan, peran sebagai orangtua, dan peran sebagai anak-anak Allah. Jika memang perceraian disebabkan oleh situasi keuangan, betapa miskinnya relasi kedua pihak? Apakah pernikahan harus bersyarat pada kondisi keuangan yang selalu sejahtera dan kaya?

Kedua, sebagai anak, Anda berhak mengajukan permohonan dan diperhatikan. Anda mempunyai kesempatan untuk menyadarkan, mengembalikan ke jalur, dan “merayu” orangtua Anda untuk tidak melanjutkan perceraian. Inilah saat kedua pihak menunjukkan bukti janji perkawinan sehidup semati dalam suka dan duka. Anda juga dapat menunjukkan jalan pada orangtua untuk menghubungi konselor atau penasihat perkawinan Katolik yang ada di paroki atau di tempat Anda berada.

Jika memang harus bercerai, siapa yang harus diikuti? Menurut saya, Anda harus mengikuti pihak yang dapat menjamin hidup Anda, jika Anda belum dapat mandiri atau masih sekolah atau studi. Jangan mengaitkan hal mengikuti orangtua mana dengan hal dosa. Anda bukanlah pihak yang berdosa, karena kesalahan bukan di pihak Anda. Anda hanyalah korban dari orangtua yang bercerai (Anda menyebut “broken home”). Anda berhak atas masa depan yang baik dan lebih menjamin Anda hidup bahagia dan sukses secara logis. Dalam hal ini, Anda pasti sudah dapat memutuskan siapa yang paling dapat mewujudkan masa depan Anda dan saudara kandung Anda di kemudian hari.

Akan tetapi, saya lebih suka mengajak Anda melawan situasi dan kondisi ini dengan itikad dan usaha yang suci, melawan keinginan bercerai dari kedua orangtua Anda dengan mengusahakan persatuan kembali kedua orangtua Anda. Jangan menyerah! Tuhan menjanjikan kebaikan dan pengabulan doa bagi siapa saja yang berdoa kepadanya. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakanbagimu” (Mat 7:7).

Semoga Anda setuju dengan saya untuk mengajak saudara-saudari Anda berjuang melawan perpisahan ini dengan iman dan peran sebagai anak. Selamatkan keluarga Anda dengan kasih. Jangan biarkan masalah merenggut persatuan keluarga Anda! Segera hubungi Romo Paroki dan konselor untuk membantu. Tuhan memberkati Anda sekeluarga. Amin.

Alexander Erwin Santoso MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*