Artikel Terbaru

Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja: Menata Langkah Masa Depan

Anak-anak PARY sedang bekerja menggarap kebun.
[Dok. M. Fransiska FSGM]
Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja: Menata Langkah Masa Depan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAnak-anak Panti Asuhan Rumah Yusup datang dari latarbelakang keluarga retak. hingga yatim piatu. Di sini mereka ditempa, menyambut masa depan.

Cia Siu Cai, akrab disapa Asen telah berumur kepala lima. Tetapi wajah, gaya, dan cara dia berbicara seperti anak belasan tahun. Asen mengalami keterbelakangan mental. Kata ibunya, itu bermula sejak kecil akibat panas tinggi yang menimpanya.

Asen tinggal di rumah bersama ibunya, dalam satu kompleks dengan Panti Asuhan Rumah Yusup (PARY) Baturaja, Sumatra Selatan. Sehari-hari Asen menghabiskan waktunya di panti itu. Panti itu adalah dunianya. Setiap kali berjalan sekitar dua kilometer dari panti, Asen sudah kehilangan orientasi. Dia tak mampu lagi mengingat jalan pulang. Kalau sudah seperti itu, biasanya ia akan diantar oleh siapapun yang menjumpainya di jalan.

Bernardus Nurdin berada di PARY sejak kecil hingga rambutnya semua memutih. Ia biasa dipanggil Pak Nol. Ia mendapat julukan ini karena ketika sekolah sering mendapat nilai nol. Tenaga Pak Nol sudah surut dan tidak mampu lagi melakukan pekerjaan berat.

Asen dan Pak Nol adalah keluarga PARY. Selain mereka, ada juga 18 putra dan 13 putri siswa-siswi SMA dan SMP yang tinggal di panti ini. Tak hanya membantu anak-anak yang tinggal di panti, PARY juga memberi bantuan biaya sekolah enam orang anak di luar panti.

Kuntum Gereja
PARY mulanya bertempat di Dusun Saung Naga Sumatera Selatan, tepatnya di rumah kontrakan milik H. Tjik Ebek. Setelah sepuluh tahun berdiri, pertengahan Juni 1948, atas izin Mgr Henri Martin Mekkelholt SCJ, Vikaris Apostolik Palembang kala itu, PARY dipindahkan ke Baturaja di bawah pimpinan Romo Theodorus Willibrodus Borst SCJ. Itulah awal munculnya umat Katolik Baturaja. Pada 1956, panti ini pindah ke desa Pusar dan menempati gedung baru yang dilengkapi kapel untuk berdoa penghuni panti dan umat sekitar.

Sejak awal, PARY menampung anak-anak yatim piatu, ekonomi lemah, anak terlantar, broken home, dan anak-anak yang secara sosial “terganggu”. Tempat ini juga menjadi rumah bagi siswa yang berasal dari daerah terpencil dan jauh dari tempat pendidikan. Bagi anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental, mereka akan dirawat PARY hingga ajal seperti Asen dan Pak Nol. Bagi yang sekolah, jika sudah selesai sekolah diizinkan untuk meninggalkan panti.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*