Artikel Terbaru

Stasi St Polikarpus Sudah Mandiri

Antonius Heru Jati Wahyuno MSC
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Stasi St Polikarpus Sudah Mandiri
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comLima tahun lalu, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo memberkati Gereja Stasi St Polikarpus Grogol. Hingga kini, belum dipikirkan untuk menjadi paroki baru.

Stasi St Polikarpus masuk dalam reksa pastoral Paroki St Kristoforus Grogol, Jakarta Barat. Secara umum, stasi yang terletak di belakang Terminal Bus Grogol itu sudah mandiri. Mereka sudah memiliki dewan stasi dan seksi-seksi layaknya susunan dewan harian di sebuah paroki. Berikut ini petikan wawancara wartawan HIDUP, Christophorus Marimin dan Stefanus P. Elu dengan Kepala Paroki Grogol Romo Antonius Heru Jati Wahyuno MSC, dua pekan lalu:

Apakah ada kemungkinan Stasi St Polikarpus menjadi paroki?

Ada dua hal yang perlu dipertimbangan untuk menjadi sebuah paroki. Pertama, letak gereja stasi ini sangat dekat dengan paroki, sehingga rasanya tidak sangat diperlukan untuk dipecah menjadi paroki baru. Kedua, setiap tahun jumlah umat di paroki-paroki yang terletak di pusat kota Jakarta semakin berkurang, karena keluarga-keluarga muda le bih memilih tinggal di pinggir Jakarta. Jangan-jangan, ke depan Stasi St Polikarpus akan bernasib sama.

Berapa jumlah umat Stasi St Polikarpus?

Sekitar 5000 jiwa. Ini data sementara yang kami punya dan sedang diproses untuk dimasukkan ke Basis Integrasi Data Umat Keuskupan Agung Jakarta (BIDUK). Tapi harus diakui, banyak umat yang tinggal di kos-kosan atau rumah kontrakan yang tentu tidak bisa kami data dengan pasti, karena mereka sering berpindah-pindah. Jumlah umat ini tersebar di enam wilayah dengan 20 lingkungan. Sebagian besar umat berprofesi sebagai pekerja kantoran, pebisnis, guru, serta pedagang di sekitar Pasar Grogol dan sepanjang rel kereta api.

Dari sisi finansial, apakah Stasi St Polikarpus bisa mandiri?

Stasi ini sudah mandiri secara finansial. Bahkan mereka turut membantu keuangan Paroki Grogol. Saat ini kami sedang mencari dana untuk merenovasi gereja paroki. Umat di stasi ini malah bertanya, “Kami bisa bantu berapa?” Ini kan menunjukkan bahwa mereka sudah bisa membiayai kehidupan mereka sendiri sebagai gereja stasi. Saya sebagai pastor paroki hanya terlibat dalam hal-hal yang memang sangat membutuhkan. Selanjutnya saya serahkan kepada umat. Biarlah mereka yang menata kehidupan menggereja sendiri. Sejak beberapa tahun terakhir ada satu romo yang bertugas di Paroki Grogol diserahi tanggung jawab menjadi pendamping stasi. Sebelumnya Romo Melki Torre MSC dan sejak Juni lalu, tugas ini diemban Romo Piet Mogi MSC.

Dari sisi litugi pun mereka sudah mandiri. Mereka bebas menentukan jadwal Misa Natal dan Paskah. Mereka sudah membentuk kepanitiaan sendiri. Acara-acara devosi pun mereka mengadakan sendiri. Pada prinsipnya mereka merencanakan, mengkonsultasikan, lalu menjalankan secara mandiri. Misa Harian pagi juga sudah rutin diadakan.

Apakah Romo sudah menyiapkan Stasi St Polikarpus menjadi paroki?

Saya tidak masalah, apakah nanti mau jadi paroki atau tidak. Pada prinsipnya saya taat kepada keuskupan. Kalau keuskupan meminta stasi ini dikembangkan menjadi sebuah paroki, ya kami siapkan. Kami akan menggarap dengan serius, karena toh semua sudah siap. Dewan stasi dan peng urus seksi sudah ada, tinggal dimatangkan saja.

Apa harapan Romo untuk umat Stasi St Polikarpus?

Saya kira yang diharapkan sekarang adalah kaderisasi. Kami mesti mencari cara untuk menarik orang muda agar mau terlibat mengurusi Gereja. Tahun depan, Paroki Grogol akan menghadapi pemilihan dewan paroki harian, termasuk dewan stasi. Saya sangat berharap ada aktivis-aktivis orang muda yang mau mengambil tanggung jawab menjadi pengurus paroki ataupun stasi.

Christophorus Marimin dan Stefanus P. Elu

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*