Artikel Terbaru

Pastoral Keluarga Muda di “Pinggiran” Jakarta

Pastor Rekan Paroki Sanmare Romo Anton Baur memberikan bunga kepada keluarga yang berulang tahun saat Misa ulang tahun perkawinan.
[NN/Dok.Pribadi]
Pastoral Keluarga Muda di “Pinggiran” Jakarta
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comParoki-paroki di Bekasi dan Tangerang kebanjiran keluarga muda. Tantangan keluarga pun bermunculan, pastoral keluarga mesti diperkuat, termasuk pendampingan keluarga hingga ke tingkat Lingkungan.

Sekitar satu dekade terakhir, banyak perumahan menjamur di wilayah Bekasi dan Tangerang. Keluarga-keluarga muda, tak terkecuali keluarga-keluarga Katolik, memilih tinggal di sekitar dua wilayah tersebut usai menikah.

Kehadiran keluarga-keluarga baru di “pinggiran” kota Jakarta ini, membuka mata setiap paroki yang berada di kedua wilayah tersebut untuk semakin kreatif dalam mengoptimalkan pastoral keluarga. Ketua Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki St Albertus Agung Harapan Indah, Yohanes Yoppi Oktoriyandi Y. mengatakan, Paroki Harapan Indah punya kegiatan rutin, yakni dua bulan sekali mengadakan Misa hari ulang tahun pasangan suami istri (HUT Pasutri). Kegiatan ini diadakan pada hari Sabtu setiap dua bulan. Dalam Misa inilah, keluarga-keluarga yang berulang tahun membarui janji perkawinan.

Yoppi sudah menjadi Ketua SKK sejak Paroki Harapan Indah berdiri, 14 Mei 2015. Ia diserahi tugas menangani Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Selain itu, ia bekerjasama dengan pihak Catatan Sipil Bekasi untuk urusan catatan sipil perkawinan. “Tapi kalau ada pasangan yang mau mengurus sendiri, silakan, kami hanya menawarkan, bukan mewajibkan,” ujar Yoppi.

Sejak tahun lalu, Paroki Harapan Indah juga membentuk Tim Advokasi yang bertugas menangani masalah yang timbul di kalangan keluarga Katolik. Tim ini beranggotakan tiga orang dan diketuai Yustina Setianingsih. Tim ini pernah menangani sebuah keluarga yang sedang dalam proses cerai. Waktu itu, keluarga tersebut sedang menunggu sidang cerai. Tim Advokasi, SKK, dan Kepala Paroki Harapan Indah Romo Yustinus Kesaryanto memanfaatkan waktu tersebut untuk membantu pasangan itu agar rujuk kembali. Usaha itu berhasil, proses cerai di pengadilan dibatalkan.

Setidaknya, pengalaman ini meninggalkan tugas tambahan baik bagi SKK, Tim Advokasi, maupun Romo Paroki Harapan Indah. Pastoral keluarga mesti diperkuat dengan mencoba berbagai pendekatan sehingga bisa menyingkapkan solusi ketika keluarga muda Katolik sedang kebingungan menentukan haluan rumah tangga mereka.

Romo Kesar mengatakan, tantangan keluarga di paroki yang ia gembalakan beraneka ragam. Keluarga muda dengan usia perkawinan 0-10 tahun mempunyai persoalan tersendiri. Usia perkawinan 11-20 tahun juga hadir dengan aneka soal sendiri. Begitupun dengan usia pernikahan di atas 20 tahun. Karena itu, SKK dan seksi-seksi paroki yang terkait keluarga dituntut untuk kreatif mencari cara supaya pendampingan pastoral keluarga lebih efektif.

Menurut Romo Kesar, salah satu tantangan pastoral keluarga yang paling besar di Paroki Harapan Indah adalah soal pernikahan beda agama. Grafik pernikahan beda agama dan beda Gereja sedang menanjak akhir-akhir ini. Karena itu, proses hukum dan administrasi yang harus dilalui oleh pasangan yang memilih untuk nikah beda agama atau beda Gereja perlu disosialisasikan.

Keluarga Terbuka
Salah satu keprihatinan Romo Kesar terkait masalah keluarga adalah pilihan sikap keluarga-keluarga tertentu yang memilih untuk diam. Mereka memilih menyembunyikan persoalan-persoalan keluarganya dari keluarga besar atau SKK. Keluarga-keluarga seperti ini biasanya tidak nyaman ketika masalahnya diketahui orang lain. Persoalan-persoalan itu menumpuk dan pada suatu ketika akan berakibat perceraian.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*