Artikel Terbaru

Suster Maria Gertrud FSGM: Kerasulan Dari Ruang Jahit

Suster Maria Gertrud FSGM
[HIDUP/Nicolaus Heru Andrianto]
Suster Maria Gertrud FSGM: Kerasulan Dari Ruang Jahit
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDapur, sumur, dan ruang jahit menjadi medan kerasulannya selama lebih dari 50 tahun hidup membiara. Sentuhan karyanya amat terasa bagi orang-orang di sekitar.

Mahkotanya telah berkelir putih. Demikian juga dengan kedua alis matanya. Kerut telah menghias rona, pertanda ia sudah berada di tapal senja. Langkah kakinya tak lagi gesit. Jemari tangannya pun tak lagi lincah menari di atas mesin jahit. Namun ada satu yang tak tergerus waktu dalam diri Suster Maria Gertrud FSGM, yakni semangatnya.

Setiap hari, entah pagi atau sore, biarawati kelahiran Ganjuran, Bantul, DI Yogyakarta, 4 Mei 1942 ini, tak pernah absen menuju ladang kerasulan. Ia melangkah ke sebuah ruangan di sudut belakang Biara Susteran St Fransiskus Pahoman, Lampung, Keuskupan Tanjungkarang. Di bilik itulah sejumlah mesin jahit dan obras telah begitu akrab dengan dia.

Sr Gertrud, demikian panggilannya, berhenti di depan sebuah mesin jahit berpoleng hitam. Ia memasukan benang, lalu mengulur ke sebuah jarum. Setelah yakin semua lengkap, ia mengambil potongan kain dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda kemarin. “Jika Tuhan masih menghendaki bekerja, saya akan melakukan sungguh-sungguh. Tetapi, bila Dia ingin saya istirahat, saya pun nurut,” katanya saat dihubungi melalui telepon, Selasa pekan lalu.

Perkenalan pertama
Selama beberapa jam, Suster Gertrud menyelam dalam kegiatan rutin itu. Sesekali, ia menghentikan laju mesin jahit itu. Sejenak ia mengambil napas, menyeka peluh, dan mengusap bola mata. Pandangannya sudah tak seawas dulu lagi. Pada usia yang telah merangkak senja, kelelahan kian gesit menyergah raganya.

Dulu, kala masih muda, katanya mengenang, Sr Gertrud bisa menuntaskan satu habet (jubah) suster hanya dalam dua hari. Namun saat ini butuh waktu seminggu baginya untuk merampungkan pekerjaan serupa. “Saya masih bersyukur, Tuhan masih memberi kekuatan, mata, dan talenta ini,” kata biarawati bernama asli Benedicta Reden ini.

Di kamar jahit, dengan penuh keceriaan dan sukacita, ia terus menekuni pelayanannya. Selain menjahit pakaian para suster, ia juga merajut kain-kain perca, tas, bantal kursi, dan aneka karya lain dari kain-kain sisa. Sudah 13 tahun, jemarinya menari di atas mesin jahit otomatis itu. “Butterfly” merupakan sahabat kedua di bilik jahit. Sebelum itu, lebih dari 30 tahun, ia menjalin relasi dengan mesin jahit manual.

Biarawati yang telah merayakan usia emas hidup membiara pada tiga tahun silam itu, menjahit habet para suster berdasarkan pesanan, entah permintaan pribadi maupun tarekat, termasuk bagi para suster novis. Pada usia yang kian meninggi ini, entah sudah berapa puluh atau mungkin ratus karyanya menempel di tubuh para saudari setarekat.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Suster Gertrud amat menyukai prakarya. Ia amat antusias mendengar penjelasan guru prakarya. Dengan tekun ia mengerjakan setiap tugas yang diberikan sang guru. Tak pelak, ia selalu membubuhkan nilai terbaik untuk mata pelajaran prakarya di buku laporan pendidikannya.

Sekitar 1978, ia menemukan muara nan luas untuk bidang yang digandrunginya. Pada waktu itu, ia didapuk sebagai Kepala Panti Asuhan St Vincentius Pringsewu, Lampung. Suatu ketika, ada umat yang mendonasikan mesin jahit dan obras untuk anak-anak panti. Sr Gertrud mendatangkan pengajar untuk memberikan pelatihan bagi seluruh penghuni panti selama enam bulan. Minat dan ketekunan berbuah manis. Mayoritas anggota panti bisa menjahit.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*