Artikel Terbaru

Malaikat Tak Bersayap dari Kalkuta

Bunda Teresa sedang menyuapi bocah miskin di India.
[chatolicstories.com]
Malaikat Tak Bersayap dari Kalkuta
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comJalan berliku kehidupan Bunda Teresa bermuara pada wasiat teladan hidup bagi yang paling hina. Meski telah tiada, warisan spiritualitasnya terus bergema di seluruh dunia.

Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) melawat India pada 1986. Kesempatan itu ia gunakan untuk bertemu Bunda Teresa dari Kalkuta. Tiga tahun sebelumnya, dua tokoh perdamaian abad XX ini sudah bertemu di Vatikan.

Perjumpaan dua inspirator perdamaian itu diwarnai kehangatan dan saling meneguhkan. Mereka begitu akrab. Paus pun menyempatkan diri bertandang ke Nirmal Hriday, sebuah rumah penampungan yang didirikan Bunda Teresa bagi kaum termiskin di India. Di situ, Bapa Suci menyaksikan “surga” bagi kaum papa. Kehadirannya selama 40 menit telah mengubah semua stigma negatif kaum marginal. Ia amat terharu menyaksikan 120 tempat tidur yang diisi orang-orang sekarat, tak berdaya. Seolah derita mereka telah dilebur bersama Kristus yang tersalib.

Paus mendekati, menjabat tangan, merangkul, dan mencium mereka. Senyum kebahagiaan pun merekah dari wajah-wajah si sakit. “Saya tak bisa mengambil semua rasa sakitmu, tapi percayalah kamu telah disembuhkan,” tutur Bapa Suci.

Bunda Teresa begitu lekat dalam hati Yohanes Paulus II. Saat beatifikasi “Ibu Kaum Papa” ini, Paus berkata, “Jangan pernah kita lupa akan teladan mengagumkan yang diwariskan Bunda Teresa. Marilah kita mengingatnya, bukan hanya dalam kata-kata belaka, melainkan senantiasa memiliki keberanian memprioritaskan kemanusiaan.” Di mata Paus kelahiran Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920 ini, Bunda Teresa adalah insan yang tergila-gila “mencintai Tuhan”. Lebih dari itu, dialah pribadi beriman yang paham bahwa “Tuhan juga tergila-gila mencintainya”.

Bunga Kecil
Teresa lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu. Gonxha berarti, “kuncup mawar” atau “bunga kecil” yang tumbuh di dataran Albania. Sulit dibayangkan bunga yang bertekstur kaku ini menyebarkan aroma harum. Bunga Gonxha, kiranya mewakili pribadi Agnes yang berperasaan halus.

Perempuan kelahiran Skopje, Albania, 26 Agustus 1910 ini dibesarkan di Shkodër, sebuah kota terbesar ketiga di Albania. Skopje, termasuk Kerajaan Ottoman (Turki Utsmani). Sejarah mencatat, Kerajaan Ottoman pernah menaklukkan Kerajaan Kostantinopel dan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Pada abad XVII, Eropa menyebut kerajaan ini sebagai “Kerajaan Turki Muslim”. Kini, Skopje masuk teritori Republik Macedonia.

Bungsu buah cinta pasangan suami istri Nikollë dan Drana Bojaxhiu ini harus berjuang ekstra. Pada usia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia. Lewat ibundanya, Agnes tumbuh menjadi gadis saleh. Joan Graff Clucas, penulis biografi Bunda Teresa melukiskan,
“Agnes mulai terpesona dengan cerita-cerita kehidupan dan pelayanan misionaris di Benggala, India. Ia bermimpi kelak akan ke India.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*