Artikel Terbaru

Dari Comberan Menuju Kekudusan

Bunda Teresa bersama anak-anak di rumah penampungan di Kalkuta, India.
[abcnews.go.com]
Dari Comberan Menuju Kekudusan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBerkat semangat belarasa kepada kaum papa, serta dua mukjizat yang terjadi melalui perantaraannya, Bunda Teresa dikanonisasi pada 4 September 2016.

Bunda Teresa suka puisi. Ada sebuah puisi yang amat menyentuh sanubarinya, The Paradoxical Commandments, karya penulis asal Amerika Serikat, Kent M. Keith. Keith menulis puisi itu saat berusia 19 tahun. Ia tak pernah mengira, puisi yang ia tulis saat duduk di bangku semester dua Universitas Harvard, Amerika Serikat, menginspirasi banyak orang, termasuk Bunda Teresa.

Puisi Keith, dengan sedikit perubahan, tergantung di salah satu dinding Nirmala Shishu Bhavan. Rumah yang berada di Kalkuta, India itu didirikan Bunda Teresa untuk menampung anak normal dan berkebutuhan khusus di bawah usia lima tahun. Sepenggal puisi itu berbunyi, “Apabila engkau berbuat baik, orang mungkin akan menuduhmu egois, punya maksud tersembunyi. Teruslah berbuat baik! Kebaikan yang kau lakukan sekarang, mungkin akan dilupakan besok. Tapi, teruslah berbuat baik!”

Aneka Kritik
Sejumlah orang lalu mengaitkan puisi itu sebagai refleksi perjalanan hidup dan karya Bunda Teresa. Harus diakui, keputusan dan keberaniannya meninggalkan kenyamanan tembok biara dan bersatu serta melayani kaum miskin, juga mendulang kritik, selain pujian dari khalayak. Aneka kritik ditujukan kepada pribadi Bunda Teresa, karya, dan para suster pengikutnya, Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity, MC). Pada 1994, penulis asal Inggris, Christopher Hitchens dan wartawan kelahiran Lahore, Pakistan, Tariq Ali merilis video berjudul Hell’s Angel: Mother Teresa of Calcutta. Hitchens juga menerbitkan buku Misionary Position: Mother Teresa in Theory and Practice (1995). Ia menulis, pelayanan kesehatan Bunda Teresa amat buruk, misal jarum suntik yang sama dipakai untuk beberapa pasien. Ia juga mencap, para Suster MC tak mempunyai pengetahuan medis memadai.

Kecaman juga dilontarkan Aroup Chatterjee, penulis asal Kalkuta, India. Ia sempat menjadi relawan di rumah karya Bunda Teresa. Dalam buku Mother Teresa: The Final Verdict, ia menyebut Bunda Teresa terlalu membesarkan karyanya di tengah kaum miskin, sementara ia tak mampu mengatur donasi. Tak heran, fasilitas dan karya kesehatan dinilai sangat buruk.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*