Artikel Terbaru

Warisan Dosa Leluhur

[google image]
Warisan Dosa Leluhur
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBenarkah ada warisan dosa dari orang tua atau leluhur yang hanya bisa dihapuskan melalui Retret Pohon Keluarga? Apakah sakramen Tobat tidak bisa menghapuskan dosa-dosa warisan itu?

Nikolaus Hendrikus Dafa, Malang

Pertama, berbicara tentang warisan dosa, kita perlu membedakan antara dosa asal dan dosa pribadi. Dosa asal bukanlah sebuah tindakan dosa, tetapi suatu keadaan dosa yang kita warisi dari dosa pertama manusia. Manusia pertama menerima kekudusan dan keadilan asli bukan bagi diri sendiri, tetapi untuk seluruh kodrat manusia. Dengan tidak percaya kepada Allah dan menyalahgunakan kebebasan, manusia pertama melakukan dosa pribadi, tetapi dosa ini menimpa kodrat manusia, yang selanjutnya diwariskan dalam wujud keadaan dosa. Keadaan dosa ini diteruskan kepada seluruh umat manusia, melalui kodrat manusia yang terluka (Rom 5:12.19; KGK 404), yaitu malapetaka, kehilangan rahmat kekudusan asli, takut kepada Allah, cenderung mencari kepentingan sendiri (KGK 397-399). Keadaan dosa menjadi kenyataan universal. Penderitaan dan kecondongan ke arah yang jahat membebani seluruh umat manusia turun-temurun karena kesatuan umat manusia (KGK 402-404). Hanya dosa asal (keadaan dosa) ini yang diwariskan.

Kedua, memang seringkali muncul pendapat bahwa dosa pribadi leluhur diwariskan kepada anak cucu. Pendapat ini didasarkan Kel 20:5 “Aku Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan Bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (bdk. Kel 34:6-7; Bil 14:17-18). Pandangan ini sudah dikoreksi Sabda Allah melalui Nabi Yehezkiel, yaitu bahwa setiap orang harus menanggung dosanya sendiri (Yeh 18:4). Hukuman atas dosa anak atau cucu tidak akan ditimpakan kepada orangtua (Yeh 18:21). Nabi Yeremia menyampaikan koreksi yang serupa, “Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu” (Yer 31:29- 30). Jadi, tidak benar bahwa dosa pribadi orangtua atau leluhur diwariskan ke generasi berikut.

Ketiga, menurut Ajaran Gereja, penghapusan dosa asal terjadi hanya melalui Sakramen Baptis yang memberikan “kepada kita pengampunan yang begitu berlimpah ruah, sehingga tidak ada satu kesalahanpun, baik yang melekat pada kita oleh “turunan”, maupun sesuatu yang kita lalaikan atau lakukan dengan kehendak sendiri, yang tidak dihapuskan dan tidak ada siksa yang masih perlu disilih. Namun orang tidak dibebaskan dari semua kelemahan kodrat oleh rahmat pembaptisan; sebaliknya setiap orang harus berjuang melawan rangsangan hawa nafsu yang tanpa henti-hentinya mengajak kita untuk berbuat dosa” (KGK 978). Dengan penegasan ini, tak perlu ada sarana lain untuk menghapuskan dosa, karena semua dosa sudah diampuni oleh Sakramen Baptis. Sesudah dibaptis, barulah Sakramen Tobat berguna untuk memohonkan pengampunan atas dosa-dosa yang dilakukan sesudah yang bersangkutan dibaptis.

Keempat, dengan berpegang kepada ajaran yang jelas bahwa beban dosa pribadi tidak diwariskan, kita masih bisa mengatakan bahwa orangtua mewariskan kepada anak-anak kecenderungan yang tertanam dalam gen-gen manusia. Dalam interaksi dengan situasi konkret dan kebebasan setiap orang, kecenderungan itu bisa akhirnya membentuk watak anak-anak. Sangat mungkin watak anak sangat dekat dengan watak orangtua. Akibatnya, kelemahan dan tingkah laku generasi yang lebih tua terbentuk dalam generasi yang lebih muda sehingga dosa-dosa yang dilakukan juga sama. Sebuah retret dalam komunitas bisa membantu mengenali kelemahan ini dan memperkuat kehendak orang yang bersangkutan untuk mengatasi dan mengubah kelemahan dan dosa. Kebersamaan komunitas dalam mendoakan seseorang sangat berguna agar kuasa rahmat melemahkan kecenderungan dosa ini dan menguatkan tekad untuk berubah dalam diri orang tersebut. Inilah “wilayah” berfungsinya Retret Pohon Keluarga.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*