Artikel Terbaru

Berkawan dengan Aneka Cobaan

Caroline Kurnia Sari dan Fransiskus Denny Roelly bersama sang buah hati.
[HIDUP/Marchella A. Vieba]
Berkawan dengan Aneka Cobaan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAneka cobaan seolah berkawan karib dengan mereka.“Tuhan selalu memberikan jalan. Berdoa dan berusaha amat penting,” ujar Nia dengan yakin.

Senyum terkembang di wajah Caroline Kurnia Sari dan Fransiskus Denny Roelly. Orang takkan menyangka, di balik senyum mereka yang merekah, ada selongsong getir dalam membangun dan mempertahankan rumah tangga. Denny dan Nia, demikian sapaan mereka, mengenang kala masih mengenakan seragam abu-abu.

Kisah perkenalan dan petualangan mereka berawal dari seorang teman. Cinta rupanya tumbuh dari suatu perjumpaan. Setelah beberapa kali bertemu, mereka sepakat berpacaran. Sontak orang tua Nia amat menetang hubungan mereka. Perbedaan keyakinan menjadi pemicu.

Tanpa Restu
Nia terpuruk dalam situasi dilematis. Di satu sisi, ia tak kuasa menentang keinginan orangtuanya. Ayah dan ibu menginginkan putrinya mendapat kekasih beragama Islam. Di sisi lain, ia tak mengelak, cintanya kepada Denny terus membuncah. Sayang, sang kekasih itu beragama Katolik.

Mereka menempuh jalan pintas, kabur dari rumah. Nia dan Denny lantas menikah di bawah tangan. Mereka meretas rumah tangga baru tanpa restu orangtua. Meski mereka bisa bersatu, tapi tidak dengan keluarga Nia. Suatu ketika, orangtua Nia menyambangi rumah Denny. Ayah dan ibunya menuntut orang tua Denny mengembalikan putri mereka.

Orangtua Denny tersudut, mereka sungguh tak tahu-menahu perbuatan anaknya. Mereka baru mengetahui setelah beberapa minggu kemudian. Saat itu, Denny kembali ke rumah bersama Nia. Denny mengisahkan soal hubungan mereka. Orangtua Denny lapang dada menerima pilihan hidup anak dan menantunya itu. Mereka hanya berpesan agar mereka menemui orang tua Nia dan bertanggung jawab dengan pilihan, apapun risikonya.

Rupanya kabar kepulangan Denny ke rumah orangtuanya terdengar santer dan akhirnya sampai juga ke telinga orangtua Nia. Mereka bergegas ke rumah Denny, merebut Nia dan menuding dia sebagai penculik anak mereka. Belum puas dengan itu, Nia didesak orang tuanya melapor ke Polisi. Mereka ingin Nia mengadukan diri sebagai korban penculikan. Dengan begitu, Denny bisa dijebloskan ke dalam bui.

Nia melakukan tuntutan orangtuanya. Tetapi begitu tiba di kantor pengayom masyarakat, ia mengabaikan tuduhan orang tuanya kepada sang suami. Dalam keterangan kepada polisi, ia mengatakan suaminya sama sekali tak menculik. Ia pergi bersama dia atas kehendak pribadi dan didasari rasa saling mencintai. Orangtua Nia terkejut dan geram.

Buah Pilihan
Nia harus menanggung konsekuensi dari kejujurannya. Ayah dan ibunya mengurung ia di dalam rumah. Mereka
mengawasi ketat pergerakannya. Ayah dan ibunya juga meminta bantuan para tetangga agar memata-matai gerak-gerik sang anak. Tak berhenti sampai disitu, mereka bahkan mendatangkan “orang pintar” untuk meluruhkan seluruh ingatan anaknya tentang Denny.

“Saya disuruh minum air yang katanya telah dimantrai, tapi itu nggak mempan. Hanya karena takut dimarahi bapak, saya pura-pura lupa. Padahal mah tetap ingat dan cinta Denny,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1980 ini sembari tersenyum.

Apakah ada kekuatan di muka bumi ini yang sanggup mengalahkan keadidayaan cinta? Sepertinya tak ada. Cinta
itu bisa seperti air di sungai, ia sanggup menemukan celah sekecil dan sesempit apapun untuk menghindari batu yang menghadang. Cinta juga bak api, yang sanggup membengkokan rintangan sekeras baja. Kekuatan cinta seperti itulah yang dimiliki Nia.

Suatu ketika Nia pun kabur dari rumah. Kediaman keluarga Denny menjadi tempatnya berlabuh dalam pelarian
ini. Mungkin karena melihat keberanian dan perjuangan sang menantu, orangtua Denny menyarankan agar anaknya
menuruti kemauan orangtua Nia. Mereka resmi menikah secara Islam. Meski demikian, Denny ke gereja saban Minggu. Sayang, karena pernikahannya bukan sakramen, ia tak bisa menerima Hosti Suci. Pilihan itu datang atas kesadarannya sendiri.

Nia kerap kali merasa heran. Bagaimana mungkin suami dan keluarganya begitu tabah menerima perlakuan tak senonoh dari keluarganya? Mengapa mereka tak membalas semua perlakuan keji itu? Tetapi justu mengganjar dengan kebaikan, perhatian, dan belas kasih kepada dirinya. Untaian tanya itu selalu bercokol di benak dan batin, bahkan saat ia bersimpuh, menengadahkan tangan kepada Allah sekalipun.

Seiring waktu, Nia diam-diam pergi ke gereja dan mengikuti pelajaran agama. Sampai suatu saat, satu hari sebelum
dibaptis, Nia menghadap Denny dan keluarga suami. Nia mengatakan, ingin menjadi Katolik. Suami dan keluarganya amat menentang. Mereka tak ingin kepindahan Nia kian melukai hati orangtuanya. “Saya kaget, apa yang harus saya katakan kepada mertua nanti?” tanya Denny mengenang.

Orangtua Denny berusaha mengulur niat sang menantu. Mereka berpesan, sebelum mewujudkan rencana itu, ia harus bertemu dan bicara dengan orangtuanya. Nia sadar akan buah keputusan itu. Orangtuanya tak lagi mengakui
ia sebagai anak begitu dibaptis dan menjadi Katolik.

Nia dan Denny juga menerima Sakramen Tobat dan membarui janji pernikahan mereka di Gereja Hati Kudus
Kramat, Keuskupan Agung Jakarta, pada 16 Desember 2001. Rupanya cobaan berkawan karib dengan pasangan ini. Tak lama setelah acara itu, Denny mengalami kecelakaan motor. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,
Jakarta Pusat.

Nia limbung dan pingsan begitu mendengar kejadian yang menimpa suami saat perjalanan ke tempat kerja. Nyawa
Denny kritis, ia berada dalam sakratul maut. Denny mengalami pendarahan hebat sehingga membutuhkan transfusi
darah. Sementara persedian darah di rumah sakit habis, selain itu Denny juga harus segera dioperasi.

Dalam kemelut itu, otak Nia masih bisa bekerja lincah. Ia memohon kepada teman dan saudara-saudaranya yang
rela mendonorkan darah mereka untuk suaminya. Selalu ada risiko menerima donasi darah dari donatur, Nia tahu
itu. Tapi ia tak menghiraukan. Saat itu, keselamatan nyawa suami amat penting. Ia tak ingin kehilangan orang yang
dicintainya.

Di tengah situasi genting, ketika suaminya berada dalam ruang operasi, Nia menarik diri dari kumpulan orang. Ia
larut dalam suasana hening, berdoa, sandaran, dan harapannya yang terakhir. Ia hanya meminta satu hal, suaminya selamat. Pinta Nia rupanya di dengarkan Tuhan.

Usai satu persoalan terlewati, Nia kembali menghadapi tantangan lain, yakni biaya rumah sakit. Syukur, ia mendapat keringanan biaya dari rumah sakit. Ia juga menerima bantuan uang dari teman dan saudaranya. Ujian demi ujian yang menerpa mereka tak membuat goyah hingga kini. Ia percaya, pada saat seperti itulah Tuhan ingin
menguji kadar kesetiaannya. Pada saat tak memiliki apa-apa yang diandalkan lagi, kepada siapa harus berharap dan
bersandar, selain Dia yang Maha Tahu dan Maha Rahim?

Merangkul Kembali
Kesetiaan dan perjuangan Nia dan Denny dalam menghadapi berbagai persoalan, ternyata menyentil perasaan
orangtua Nia. Sentilan itulah yang menggerakkan perasaan orangtua Nia untuk merangkul mereka sebagai anak dan menantu kembali. Langkah Nia dan Denny mengarungi perjalanan hidup bersama sedikit lebih tenang.

Di sela rutinitas mereka sebagai pelipat gambar kertas anak-anak, Nia dan Denny selalu menyempatkan diri ambil
bagian dalam kegiatan lingkungan. Nia juga menjadi lektris di gereja. Sementara kedua buah hati mereka, Aldo dan Jona terlibat menjadi misdinar. “Saya percaya, Tuhan senantiasa memberi jalan. Asalkan kami tak berhenti berdoa dan berusaha,” pungkas Nia.

Marchella A. Vieba

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*