Artikel Terbaru

St Lodovico Tomaz Maria Pavoni (1784-1849): Pendiri Kongregasi Pavoniani

Beato Lodovico Tomaz Maria Pavoni bermain bersama anak-anak.
[slideplayerr.com]
St Lodovico Tomaz Maria Pavoni (1784-1849): Pendiri Kongregasi Pavoniani
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMeski lahir dari keluarga bangsawan Brescia, jiwa sosialnya begitu tinggi. Ia memutuskan menjadi imam dan melayani anak-anak miskin dengan mendirikan panti asuhan, sekolah-sekolah keterampilan, bahkan Kongregasi Pavoniani.

Perang tak berkesudahan melanda Brescia, Italia. Kota itu menjadi tempat penampungan anak-anak yang kehilangan orang tua saat Revolusi Perancis (1789-1799). Di sepanjang jalan, emperan rumah, dan sudut kota tersebut, mereka menjadi pengemis.

Suatu hari, seorang imam melitas di jalan Kota Brescia. Ia menyodorkan sepotong roti kepada seorang anak, tapi anak itu menolak, lalu menangis. “Apa yang kamu inginkan, Anakku?” tanya sang imam. “Saya mau ikut Anda,” jawab si bocah.

Jawaban ini membuat imam muda itu terkejut. Namun permintaan si anak tak mungkin dikabulkan. Kalaupun anak ini ikut, tak mungkin ia tinggal bersamanya. Sementara si anak terus merengek. Tak ada pilihan lain, desakan belas kasih membuat sang imam membawa anak itu ke sebuah rumah kosong. Imam itu berjanji akan merawat dia.

Keesokan hari, kala sang imam tiba di rumah itu, ia menyaksikan rumah itu telah dipenuhi anak-anak miskin dari penjuru Brescia. Imam itu takut karena tak tahu yang harus ia buat. Ia lalu membagikan roti dan makanan kepada mereka tiap hari. Lambat laun, anak-anak mulai mencintai sang imam. Rumah itu pun diubah menjadi panti asuhan dengan disiplin hidup seperti di seminari. Panti Asuhan ini tak lain adalah cikal bakal lahirnya Congregation of the Sons of Mary Immaculate atau Kongregasi Pavoniani.

Saat ini, anggota Pavoniani sudah tersebar di Brazil, Kolombia, Eritrea, Jerman, Italia, dan Spanyol. Para imam Pavoniani berkarya dalam bidang karitatif dan penerbitkan buku. Ancora Press, salah satu percetakan terbesar yang berdiri di luar Lapangan St Petrus Vatikan, pendirinya adalah para imam Pavoniani. Semua karya ini tak lepas dari St Lodovico Tomaz Maria Pavoni.

Keluarga Saleh
Sejak kecil, Lodovico Pavoni dikenal sebagai anak yang pandai dan berbakat. Ia selalu menggondol juara di sekolah.
Kecerdasannya membuat ia banyak terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi. Selain pandai, ia dikenal sebagai anak yang cinta lingkungan. Di mata keluarganya, sulung dari lima bersaudara ini hadir sebagai pribadi berhati mulia dan berperasaan halus. Ia juga suka memelihara binatang.

Kelahiran 11 September 1784 ini berasal dari keluarga bangsawan Brescia. Keuskupan Brescia berdiri sejak abad I,
dan merupakan salah satu sufragan dari Keuskupan Agung Milan. Alexander Pavoni dan Lelie Poncarali, orangtua Pavoni, terkenal sebagai pasangan yang cinta damai. Dialog selalu diajarkan kepada anak-anak. Bagi mereka, semua masalah bisa diselesaikan dengan dialog. Anak-anak bisa tawar-menawar soal kebijakan orangtua bila tak sesuai keinginan mereka.

Dalam hal iman, Alexander dan Lelie amat tegas. Setiap kegiatan selalu diawali dan diakhiri dengan doa. Makan bersama misal, tiap anggota keluarga harus hadir dan berdoa bersama. Doa pun dibawakan secara bergilir. Pavoni kecil tak pernah melewatkan doa bersama, apalagi saat jadwal memimpin doa.

Teladan hidup itu dipraktikkan dalam pergaulan bersama anak-anak sekitar. Jiwa sosialnya sangat tinggi. Pavoni kadang membagi-bagi pakaian barunya kepada anak-anak miskin. Ia juga sering mengumpulkan anak-anak jalanan dan mengajari mereka pelajaran-pelajaran yang tak mereka dapat di sekolah formal.

Semangat Muda
Tradisi kesalehan keluarga membuat Pavoni berkeinginan menjadi imam. Ia pun masuk Seminari Dominikan di Brescia. Namun, keputusan ini tak mudah diterima keluarga. Sebagai putra sulung, ia telah dipersiapkan
melanjutkan karya-karya keluarga. Meski begitu, ia tetap mengikuti kata hati untuk menjadi imam.

Menjalani aturan hidup di biara yang serba ketat kadang membuat Pavoni putus asa, tapi ia tetap setia pada panggilannya. Ia menjadi calon imam yang unggul dalam teori, praktik, riset, dan analisis politik.

Pater Carlo Domenico Ferrari OP (1769-1846), Rektor Seminari -seorang Dominikan (Ordo Fratrum Praedicatorum, OP) yang kemudian hari berinkardinasi menjadi imam Keuskupan Brescia (1807) dan diangkat menjadi Uskup Brescia (1833-1846) mengatakan, teori-teori politik yang dipelajari membuat Pavoni tak segan-segan
mengkritik sistem pemerintahan Perancis. Pada 1799-1814, Italia mengalami pergolakan di era Napoleon Bonaparte
(1769-1821). Italia Utara dan Tengah diduduki dan dicaplok, serta dijadikan negara boneka Kekaisaran Perancis. Karier Napoleon mulai diperhitungkan dengan diangkat menjadi komando tentara Perancis di Italia.

Selama berkuasa, Napoleon melakukan perubahan besar-besaran dalam semua lini kehidupan yang berimbas kepada Gereja. Ia menerapkan sistem administrasi pemerintahan, hukum, dan sentralisasi keuangan. Semua aturan ini disusun berdasarkan ide Revolusi Perancis yang berakibat banyak Gereja dan seminari ditutup.

Di tengah situasi itu, Pavoni ditahbiskan imam di Brescia pada 1807. Tahun 1812, ia ditunjuk sebagai asisten pribadi Uskup Brescia, Mgr Gabrio Maria Nava (1758-1831). Selang enam tahun, ia dipercaya mengelola Basilika St Barnabas di Marino. Selama melayani, ia menyaksikan begitu banyak anak muda tak memiliki masa depan. Pietro Schedoni (1759-1835), penulis berkebangsaan Italia mencatat, “Banyak anak muda menjalani hidup yang keras di jalanan, membuat mereka kerap terlibat kekerasan.”

Pavoni lalu merawat dan mengajari anak-anak jalanan soal iman Katolik. Ia mengumpulkan anak-anak dan mendirikan panti asuhan bagi mereka. Pada 1821, ia memulai menjalankan sekolah kejuruan yang kemudian berkembang menjadi Institut St Barnabas Brescia dengan percetakan Ancora Press.

Di sekolah itu, anak-anak muda mendapat pekerjaan, seperti menjadi tukang kayu, perak, sepatu, dan pandai besi. Pastor Pavoni melihat, semangat anak muda begitu besar. Ia lalu mendirikan peternakan dan Sekolah Pertanian di Brescia.

Kongregasi Baru
Pastor Pavoni kian bersemangat. Anak-anak yang dulu tak punya tujuan hidup, kini bisa mengatur hidup sendiri di dalam asrama. Melihat kemajuan ini, muncul ide dalam benaknya mendirikan kongregasi. Ia lalu menghadap Paus Gregorius XVI (1765-1846) dan minta persetujuan mendirikan kongregasi.

Pada 1843, Paus resmi mengizinkan pendirian kongregasi baru, yang diberi nama Congregatio Filiorum Mariæ Immaculatæ atau Pavoniani (FMI). Pada 8 Desember 1847, Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa, Pastor Pavoni dan anggota pertama mengucapkan kaul kebiaraan.

Sementara, Napoleon masih unjuk taring. Demi keamanan, banyak biara berpindah. Biara Pavoniani berpindah ke Bukit Salan, Desa Saiano, sekitar 12 kilometer dari Brescia. Di tempat itu, dalam kondisi digerogoti pneunomia,
Pastor Pavoni terus mengajar anak-anak. Menjelang wafat, ia berpesan kepada anak-anak, “Kita harus menyesuaikan hidup dengan Yesus, Guru Ilahi kita.”

Ia wafat pada 1 April 1849. Proses penggelaran kudus dimulai sejak Paus Benediktus XV (1854-1922) pada 12 Maret
1919. Dekrit keutamaan Kristiani Pastor Pavoni direstui pada 5 Juni 1957 oleh Paus Pius XII (1876-1958), dan ia digelari venerabilis. Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) membeatifikasi pada 14 April 2002, karena pengakuan adanya mukjizat penyembuhan yang dialami Maria Stevani pada 1909 dari penyakit demam tirofid usai berdoa kepada sang beato. Akhirnya, Paus Fransiskus merestui kanonisasi Beato Pavoni pada 9 Mei 2016. Rencana, Misa Kanonisasi digelar pada 16 Oktober 2016. Gereja mengenang dia setiap 1 April.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*