Artikel Terbaru

Ahli Kitab Suci Jadi Uskup Malang

Romo Pidyarto menyapa anak-anak.
[NN/Dok.Pribadi]
Ahli Kitab Suci Jadi Uskup Malang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMenekuni bidang Kitab Suci menjadi pilihannya. Ia berharap bisa terus mewartakan Injil Kristus dengan setia. Pun kala tugas perutusan baru sebagai Uskup Malang.

Pertengahan Juni 2016, Romo Henricus Pidyarto Gunawan OCarm sedang tidak berada di Indonesia. Sekelompok peziarah dari Indonesia meminta dia mendampingi berziarah. Ketika itu, ia mendapat kabar dari sekretariat Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang, Jawa Timur bahwa ada telepon penting. “Katanya itu telepon penting dari Jakarta dan yang menelepon menggunakan Bahasa Inggris,” kisahnya.

Ternyata telepon itu berasal dari Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia. Usai mendampingi ziarah, Romo Pidyarto pun bergegas ke Jakarta, menemui Nunsius Apostolik untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi. Mgr Pidyarto tiba di Nunsiatura, Kamis, 23/6. Mgr Filipazzi memberitahu perihal penunjukan Romo Pidyarto sebagai Uskup Malang, menggantikan Mgr H. J. S. Pandoyoputro OCarm. “Nunsius berpesan agar hal ini harus dirahasiakan. Sampai akhirnya diumumkan pada 28 Juni,” ungkap Mgr Pidyarto ketika ditemui di Jakarta, awal Juli lalu.

Pada Selasa, 28/6, usai Ibadat Sore Vigili Hari Raya St Petrus dan St Paulus di Katedral Malang, Mgr Pandoyo membacakan surat dari Takhta Suci di hadapan para imam, suster, dan sejumlah umat yang hadir. Dalam surat itu, Paus Fransiskus menunjuk Romo Pidyarto sebagai Uskup Malang, menggantikan Mgr Pandoyo.

Tahun ini, Mgr Pandoyo berusia 77 tahun. Sementara batas resmi seorang uskup boleh mengajukan pensiun adalah
75 tahun. Selama 1989-2016, Mgr Pandoyo menggembalakan Ke uskupan Malang.

Ragu dan Takut
Keraguan sempat merayap di hati Romo Pidyarto kala Mgr Filipazzi memberitahukan tugas perutusan baru yang mesti ia emban. “Saya merasa berat dan ragu-ragu, apakah saya mampu. Secara pribadi, saya takut menerima penugasan ini. Saya takut kalau tugas ini tidak cocok bagi saya,” ungkap imam kelahiran Malang, 13 Juli 1955 ini.

Meski dalam keraguan dan ketakutan, Romo Pidyarto meyakini, ada nilai yang lebih besar di balik semua itu. Nilai itu adalah ketaatan kepada “Pengganti St Petrus”. “Karena ketaatan saya kepada Paus yang telah menunjuk saya, saya memberanikan diri. Dengan segala perasaan berat, saya menerima penunjukkan ini,” kisah adik dari (alm) Romo Antonius Gunawan OCarm ini.

Mgr Filipazzi pun menguatkan Romo Pidyarto agar menerima tugas ini. “Nunsius mengatakan kepada saya, ‘Kalau Tuhan memberi tugas, Ia akan memberi jalan, memberi rahmat’,” ujar pengasuh Konsultasi Iman Majalah HIDUP (1995-2006) ini.

Sebelum pertemuan dengan Nunsius, Romo Pidyarto telah mendengar rumor, bahwa ia menjadi salah satu calon yang diajukan sebagai Uskup Malang. Mendengar rumor itu, ada pergolakan menyelimuti hatinya. “Sejak mendengar itu, saya berjuang keras dan bergumul dengan diri saya,” kata Dosen Kitab Suci di Sekolah STFT Widya Sasana Malang sejak 1986 ini.

Setelah pengumuman atas penunjukannya sebagai Uskup Malang, Romo Pidyarto lalu menelepon ibunya. Ketika itu, sang ibu tengah berada di kediam an kakak sulungnya di Jakarta. “Saya menelepon Ibu, yang angkat kakak saya. Ibu kaget, tapi juga bersyukur,” kenang anak kelima dari tujuh bersaudara ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*