Artikel Terbaru

Ahli Kitab Suci Jadi Uskup Malang

Ahli Kitab Suci Jadi Uskup Malang
1 (20%) 1 vote

Logo Keuskupan Malang [Dok. Keuskupan Malang]
Logo Keuskupan Malang
[Dok. Keuskupan Malang]

Benih Panggilan
Benih panggilan Mgr Pidyarto tumbuh seiring dengan benih panggilan yang bertunas di hati sang kakak, (alm) Romo Anton Gunawan OCarm. Pada 1967, sang kakak masuk Seminarium Marianum Lawang, Malang. Setahun berselang, Pidyarto mengikuti jejak sang kakak. “Waktu itu saya baru lulus SD, saya ikut-ikutan saja sekadar ingin mengikuti kakak. Jarak umur kami satu setengah tahun. Saat di seminari, saya merasa banyak hal yang tidak menyenangkan. Saya pikir untuk apa di seminari?” ujar Mgr Pidyarto.

Mengetahui anaknya ingin masuk seminari, ibu Romo Pidyarto merasa senang. “Tapi ayah saya, meski tidak rela, diam saja. Tidak melarang, tidak merelakan juga. Ayah membiarkan kami,” tutur Mgr Pidyarto.

Setelah empat tahun di seminari, ia melanjutkan pendidikan di SMA St Albertus Malang atau yang lebih dikenal dengan SMA Dempo. Ketika masa SMA inilah, ia merasakan panggilan hidup menjadi imam kian mantap dan murni. “Gereja membutuhkan imam. Saya merasa memiliki sesuatu yang bisa diberikan.”

Mgr Pidyarto lahir dari keluarga Katolik. Kebulatan panggilannya menjadi imam turut dipengaruhi kehidupan rohani dan nilai-nilai kekatolikan yang ditanamkan orangtuanya sejak kecil. “Bersama kakak-kakak dan saudara yang lain, kami biasa berdoa Rosario bersama. Hampir setiap hari mengikuti Misa harian, itu turut mempengaruhi kehidupan rohani kami,” ungkap Ketua STFT Widya Sasana Malang 2000-2004 ini.

Ia menerima tahbisan imam bersama sang kakak pada 7 Februari 1982. Keduanya menerima tahbisan Imamat dari Mgr F.X. Hadisumarta OCarm, Uskup Malang kala itu, di Katedral St Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang.

Wartakan Injil
Mgr Pidyarto menerima Tahbisan Episkopal pada Sabtu, 3/9, di Stadion Gajayana Malang. Uskup pentahbis utama
adalah Uskup Agung Jakarta sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Ignatius Suharyo. Sementara Uskup pentahbis pendamping adalah Uskup Bandung Mgr Antonius Bunjamin Subianto OSC dan Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono.

Mengemban tampuk pimpinan Keuskupan Malang, Mgr Pidyarto memilih moto uskup Fideliter Praedicare Evangelium Christi, ‘Dengan Setia Mewartakan Injil Kristus’. Sebagai gembala utama, ia berharap bisa bersama dengan gembala umat yang lain membangun iman umat secara integral.

• Perisai yang terbagi menjadi tiga bagian, dengan pola pembagian yang digunakan dalam lambang¬Ordo Fratrum Beatae Virginis Mariae de Monte Carmelo¬atau Ordo Karmel.
• Bagian kiri atas, dengan latar belakang merah, adalah Kitab Suci, bidang minat Mgr Pidyarto, me wartakan Sabda Allah merupakan prioritasnya.
• Bagian kanan atas, dengan latar belakang biru, adalah fleur-de-lis atau Bunga Lili atau Bunga Bakung berwarna kuning keemasan. Bunga Bakung melambangkan St Perawan Maria, Bunda Allah yang sungguh ia kasihi.
• Bagian tengah bawah dengan latar belakang putih, adalah Monumen Tugu di Kota Malang, tempat kelahiran dan ladang penggembalaannya.
• Di atas perisai ditempatkan galero atau topi khas klerus berwarna hijau, dengan enam jumbai di masing-masing sisi. Di bagian tengah belakang perisai adalah sebuah salib pancang berwarna kuning keemasan. Galero hijau dengan enam jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang uskup.
• Bagian bawah perisai terdapat pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan moto penggembalaan Mgr Pidyarto,
Fideliter Praedicare Evangelium Christi, ‘Dengan Setia Mewartakan Injil Kristus’.

Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*