Artikel Terbaru

Suka OB di Kantor

[google image]
Suka OB di Kantor
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSalam jumpa, Pengasuh. Saya Tina dari Depok, Jawa Barat. Saya belum menikah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai sekretaris. Di tempat kerja, saya bertemu seorang Office Boy (OB) beragama Katolik. Orang-nya sabar, tak pernah menuntut, pendengar, dan tak banyak bicara. Bahkan kalau dimarahi atasan, ia hanya mengakui kesalahan meski tak bersalah dan hanya bisa meminta maaf. Saya pernah melihat dia menangis di dekat toilet, tapi saat saya bertanya, ia hanya berkata, tak apa-apa. Pribadi OB ini membuat saya pelan-pelan tertarik kepada dia. Berbeda dengan pacar saya yang sudah setahun pacaran. Saya merasa tak nyaman karena orangnya kasar. OB ini tidak jelek, tapi pribadinya menarik dan sangat “care” dengan orang lain. Dari dulu saya berharap pacar saya seperti OB itu. Apakah ini tanda saya jatuh cinta? Kalau betul, apa yang harus saya buat?

Tina, Depok

Salam kasih, Tina. Kasus Tina cukup menarik. Inilah bukti, cinta itu anugerah Allah yang diberikan kepada manusia dan tak mengenal batas, tak memandang usia, status sosial ekonomi, ras, pendidikan, bahkan agama. Untuk memastikan apakah itu cinta, hanya Tina yang tahu. Saya berasumsi, Tina sudah dewasa dan mandiri sehingga yang dicari adalah “calon” pasangan hidup, bukan sekadar pacar yang bisa putus, nyambung, dan berganti pasangan bila dirasa tak cocok.

Mengacu kepada definisinya, ada perbedaan mendasar antara makna cinta dengan simpati. Cinta adalah emosi, kasih sayang yang intens atau kuat dan ketertarikan secara pribadi. Ada kesediaan berkorban, memperhatikan, menyayangi, membantu, patuh, dan mau melakukan seperti harapan orang yang dicintai. Dalam buku The Art of Loving, Erich Fromm, seorang Psikoterapis mengatakan, ada empat indikator cinta, yaitu peduli, tanggung jawab, rasa hormat, dan memahami. Berbeda dengan simpati, yakni perasaan kasihan, sedih karena kondisi orang lain, kesediaan berbagi perasaan, dan merasa dekat karena situasi.

Dari definisi itu, nampak bahwa Tina belum sampai tahapan cinta, tapi masih tahap bersimpati kepada si OB, seseorang yang dipersepsi sabar, mudah mengalah, patuh, dan perhatian kepada orang lain. Rasa simpati ini mungkin menjadi kian mendalam karena OB beragama Katolik dan membandingkan dengan perilaku kasar pacar. OB dipersepsi dapat lebih memenuhi harapan dan kebutuhan Tina dibanding sang pacar. Peranan emosi tampak amat menonjol dalam kasus ini.

Memilih pasangan hidup ideal adalah satu bagian terpenting dalam hidup seseorang. Malapetaka besar dialami seseorang kala ia salah memilih pasangan. Orang Jawa terkenal sangat berhati-hati dalam memilih pasangan. “Bibit, bebet dan bobot” adalah filosofi Jawa berkaitan dengan kriteria mencari jodoh. Bibit berkaitan dengan asal-usul atau keturunan. Bebet berarti status sosial. Bobot berarti kualitas diri, baik lahir maupun batin, seperti agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, dan kecakapan.

Dalam kasus Anda, rasa suka kepada OB muncul karena simpati, bahkan mungkin kasihan karena ia “orang kecil”. Si OB tak banyak menuntut, sabar, menjadi pendengar yang baik, dan perhatian. Agama Katolik mengajarkan kita agar berbelas kasih kepada orang tertindas, tertekan, dan difabel. Boleh jadi, Tina hanya bersimpati kepada OB, dan itu bukan cinta.

Rasa tak puas terhadap pacar juga menjadi faktor pencetus kemunculan perasaan suka dan simpati. Terkait dengan perilaku kasar pacar, ada baiknya relasi itu dicermati kembali karena perilaku kekerasan saat berpacaran dalam jangka panjang akan memunculkan perilaku kekerasan dalam rumah tangga. Kita sering secara sadar mengabaikan dan menutup mata terhadap kelemahan pacar dan berharap itu akan berubah karena kekuatan cinta.

Namun, tak mudah mengubah karakter seseorang karena ini terbentuk melalui proses hidup yang panjang. Cinta itu agung, di dalamnya ada rasa hormat, peduli, kasih, tanggung jawab yang tinggi, serta tidak tampil mendominasi, dan memaksakan kehendak pribadi kepada pasangan. Maka, diperlukan kepekaan rasa, ketajaman pengamatan, dan pemikiran jernih sebelum mengambil keputusan. Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat. Berkah Dalem.

Praharesti Eriany

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*