Artikel Terbaru

Romo Berthold Anton Pareira Ocarm: Karmelit Pertama Asal Flores

Romo Berthold Anton Pareira Ocarm bersama keluarga usai Misa syukur emas Imamat.
[Paulus Centis Jr]
Romo Berthold Anton Pareira Ocarm: Karmelit Pertama Asal Flores
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comMenjadi Karmelit merupakan pilihan ketiga, itupun karena iklan. Imam yang sejak kecil gemar bermain “misa-misaan” ini baru saja merayakan usia emas Imamat.

Nyala lilin meliuk gemulai di atas meja kecil. Dua bocah ke luar dari dalam kamar. Mereka melangkah gontai lalu berlutut beberapa sentimeter di depan kenap atau meja kecil. Kakak beradik itu bangkit dan mengambil posisi masing-masing. Si adik berdiri di samping meja, sementara sang kakak di belakang kenap.

Ton, nama anak tertua, berlagak imam, sedangkan adiknya menjadi misdinar. Mereka bermain “misa-misaan”. Ton berusaha meniru gerak-gerik imam di altar. Saudara-saudari Ton yang melihat aksi itu kerap mengurai senyum. Mereka tak berani tertawa, sebab kata orang tua mereka, tak boleh bercanda saat Misa.

Ton gemar bermain “misa-misaan” karena rasa takjubnya yang membuncah kepada figur imam. Tak pelak, bola matanya seakan mengawasi setiap gerak-gerik imam saat Misa. Ton ingin menjadi imam. Sayang, tekad itu terbentur usia. Ia masih teramat belia. Bermain “misa-misaan” seakan menjadi obat pelipur angan sementara.

Rumah Terbakar
Bermain “misa-misaan” tak selalu mematri kenangan gembira bagi Ton. Ia pernah merasa amat gamang, ciut, dan gamam. Pada usia lima tahun, rumahnya ludes dilalap si jago merah. Penyebab kebakaran berasal dari lilin “misa-misaan”. Api menjilat gesit dinding rumah yang terbuat dari pelupuh dan beratap alang-alang.

Saat kejadian, orangtuanya tak ada di rumah, hanya Ton dan saudara-saudarinya. Ketika orangtua tiba di rumah, mereka amat terkejut menyaksikan bangunan yang telah rata tanah. Tak ada barang yang selamat. Namun, mereka masih bersyukur. Tak ada satupun buah hatinya yang menjadi korban keganasan si jago merah.

Panggilan Ton menjadi imam tak koyak karena peristiwa kebakaran. Ia tetap ingin menjadi imam. Kekaguman kepada imam tak raib seperti nasib barang-barang di rumah. Rasa itu terus terawat berkat teladan hidup orangtua, Yosef Lambertus Nong Selong Pareira dan Lucia Maria DaNona Nong Selong Pareira.

Yosef dan Lucia selalu mengajak buah hati ke gereja bersama setiap Minggu. Dengan begitu, Ton selalu bisa bertemu, mengamati, dan memupuk rasa kagum kepada sang gembala umat. Yosef dan Lucia terus merawat panggilan bocah kelahiran Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), 13 Juni 1939 ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*