Artikel Terbaru

Gerakan Bersama Membela Korban

Pelatihan masalah perdagangan manusia di Maluku Tenggara.
[Dok. KKPPMP KWI]
Gerakan Bersama Membela Korban
Mohon Beri Bintang

style=”text-align: left;”>HIDUPKATOLIK.com – Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia mengupayakan berbagai cara untuk membela mereka yang jadi korban ketidakadilan. Warga Gereja diundang bergerak bersama.

Isak tangis menggelegar di Bandara Internasional El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), awal tahun ini. Bandara yang beroperasi sejak 2004 ini menjadi saksi luapan kesedihan keluarga Maria Bari. Maria, perempuan 32 tahun asal Nangakeo, Desa Bheramari, Kabupaten Ende, Flores, NTT adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia dipulangkan ke Tanah Air setelah meninggal dunia. Dari informasi yang terhimpun di Negeri Jiran, Maria kerap disiksa sang majikan. Sayang, tak ada pihak yang bertanggung jawab atas kematiannya. Ia meninggal dunia saat melahirkan. Ayah si jabang bayi tak ada yang tahu. Lantaran tidak memiliki dokumen resmi, maka untuk memulangkan jazad Maria, keluarga pontang-panting mencari uang. Untunglah ada bantuan dari Dinas Sosial Pemerintahan Kabupaten Ende.

Nasib serupa dialami Bernardus Kedu, 52 tahun, TKI asal Desa Tinabani, Kabupaten Ende, yang meninggal dunia di Sungkai, Perak, Malaysia Barat. Nadus, demikian ia disapa, sedikit beruntung. Kepulangannya ke Indonesia difasilitasi Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Malaysia.

Potret Nadus dan Maria mewakili nasib para pahlawan devisa di negeri rantau. Demi menambah pundi-pundi, mereka rela bekerja apapun. Ada seloroh, “Lebih baik menikmati ‘hujan emas’ di negeri orang ketimbang ‘hujan batu’ di negeri sendiri.” Akan tetapi, sebenarnya mereka menjadi kambing hitam di negara orang.

style=”text-align: left;”>Perangi Trafficking
Gereja Indonesia sebagai rumah asal para tenaga kerja tak menutup mata terhadap peristiwa mengenaskan itu. Melalui Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP), salah satu komisi di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Gereja memberi perhatian  kepada para TKI dan sejumlah persoalan lain.

KKP-PMP KWI mempunyai empat fokus, yakni Anti Trafficking, Lingkungan Hidup, Aksi Tanpa Kekerasan, dan Advokasi Hukum dan HAM. Di bidang anti trafficking, Sekretaris KKP-PMP KWI Romo Paulus Christian Siswantoko menjelaskan, sasaran sosialisasi anti trafficking adalah orang muda. Kalangan ini dinilai paling rawan dan cepat tergoda dengan iming-iming pekerjaan di negeri tetangga. Banyak kasus human trafficking berawal dari masalah ekonomi. Pola hidup konsumtif membuat orang mudah ditipu. Banyak  makelar buruh migran berkeliaran menawarkan jasa tak pasti. Romo Koko, demikian sapaannya, mengatakan, “Banyak orang ikut ‘bermain’, baik oknum tertentu maupun pemerintah.”

Mengatasi hal ini, KKP-PMP KWI ikut menganimasi pertemuan tripartit. Pertemuan ini melibatkan Keuskupan di wilayah yang bersentuhan langsung dengan para TKI. Pertama, Keuskupan yang berada di wilayah NTT sebagai kantong TKI. Kedua, Keuskupan yang berada di Malaysia yang berbatasan dengan Indonesia, missal Keuskupan Agung Kota Kinabalu dan Keuskupan Sandakan. Ketiga, Keuskupan Tanjung Selor yang menjadi tempat persinggahan sebelum para TKI masuk ke Malaysia. Selama ini, Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Kalimatan Utara, menjadi wilayah paling sering digunakan untuk keluar masuk Indonesia-Malaysia. Nunukan merupakan wilayah Keuskupan  Tanjung Selor.

Menurut Romo Koko, dengan duduk bersama, Keuskupan asal para TKI bisa menyampaikan model pendampingan yang diharapkan kepada Keuskupan tujuan (Malaysia). Keuskupan tujuan dengan cara ini mendapat informasi yang memadai mengenai para TKI yang masuk ke wilayahnya. Sementara Keuskupan transit menjalankan fungsi sebagai pendamping atau bisa menjadi “penampung sementara”.

Koordinator KKP-PMP Regio Nusa Tenggara dan Bali Pastor Reginald Piperno mengisahkan, NTT terus memerangi human trafficking. Untuk menyudahi fenomena ini, KKP-PMP KWI mencanangkan “Desa Ramah Trafficking”. Di sini diadakan berbagai sosialisasi. Adakalanya, mereka mendatangkan mantan TKI untuk berbagi pengalaman tentang potret kehidupan mereka di tanah rantau. Dari setiap kisah disimpulkan bahwa kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Kata Kepala Paroki St Maria Magdalena Kombandaru, Ende ini, “Di sana mereka  hanya menunggu kapan mati agar dipulangkan ke kampung halaman.”

style=”text-align: left;”>

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*