Artikel Terbaru

Gereja Merangkul Korban Ketidakadilan

Romo Agustinus Heri Wibowo
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Gereja Merangkul Korban Ketidakadilan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKomisi Keadilan Perdamaian resmi menjadi komisi ke-11 di KAJ. Fokus kerjanya ialah menampilkan wajah Gereja yang siap merangkul mereka yang menjadi korban ketidakadilan dan kekerasan.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo sangat mengapresiasi terbentuknya Komisi Keadilan Perdamaian (KKP) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). “Saya sungguh sangat bersyukur, karena citacita yang saya pikirkan selama saya melayani di KAJ, sekarang mendapatkan bentuk yang lebih jelas,” ujarnya saat acara peluncuran KKP dua pekan lalu. Mgr Suharyo menjelaskan, yang mendorong kelahiran KKP bukan dirinya. Komisi ini hadir atas dorongan umat KAJ. “Saya hanya menunggu dan mengusik suara hati teman-teman agar tergerak.”

Namun Mgr Suharyo tak serta merta mengamini bahwa dengan adanya KKP, bentuk-bentuk ketidakadilan dan kekerasan terhapuskan dari Jakarta. Orang yang tersingkirkan dan mengalami ketidakadilan akan selalu ada. Hanya saja, lewat program-program kerja yang akan dicanangkan KKP setidaknya menunjukkan wajah cinta dan belas kasih Gereja kepada mereka yang sedang kesusahan.

Awal KKP mendapatkan bentuk yang lebih jelas hingga resmi menjadi komisi ke-11 di KAJ dimulai Juni 2016. Ketika itu, sebuah short message service (SMS) masuk ke handphone milik Romo Agustinus Heri Wibowo. Pengirim SMS itu adalah Vikaris Jenderal KAJ Romo Samuel Pangestu. Isi pesannya, mengundang Romo Heri datang ke Gedung Karya Pastoral (GKP) KAJ untuk mengikuti pertemuan. “Katanya mau membuat komisi yang baru,” ujar Romo Heri.

Ketika Romo Heri tiba di GKP, sudah berkumpul sejumlah orang, yang terdiri dari para aktivis hukum, gender, dan lingkungan hidup. Agenda utama pertemuan adalah pembentukan komisi dan penyusunan divisi-divisi. Saat pemilihan ketua komisi, Romo Heri terpilih untuk menahkodai komisi baru ini. Surat Keputusan pengangkatan Romo Heri menjadi Ketua KKP ditandatangani Mgr Suharyo pada Kamis, 25 Agustus 2016, dengan Nomor 363/3.10.13/2016.

Ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, akhir Agustus lalu, Romo Heri menjelaskan bahwa komisi yang baru terbentuk ini mempunyai fungsi mengkoordinasi, memfasilitasi, menginspirasi, dan menganimasi paroki agar menghadirkan wajah Gereja yang memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Secara resmi, realisasi program kerja KKP baru akan dimulai Januari 2017. Sementara waktu yang tersisa selama 2016 ini digunakan untuk sosialisasi ke paroki se-KAJ. “Sehingga awal 2017, jika kami menawarkan program-program yang terkait dengan KKP ke paroki, mereka sudah tahu pola dan bentuk yang hendak dicapai melalui komisi ini,” imbuh Romo Heri yang sedang menyelesaikan studi Magister Hukum di Unika Atma Jaya Jakarta.

Pada prinsipnya, kata Romo Heri, komisi ini akan bersinergi dengan paroki untuk membangun jaringan bantuan hukum berbasis paroki, memfasilitasi pendidikan hukum dan hak asasi manusia bagi umat, membantu dan membela warga miskin yang menjadi korban ketidakadilan, serta menganimasi gerakan ramah lingkungan di paroki. Menurut Romo Heri, sejauh ini sudah ada beberapa paroki yang memberi tanggapan sangat positif dengan mengajukan undangan kepada KKP agar memulai sosialisasi di paroki mereka. “Semoga paroki yang lain juga segera menangkap peluang ini sebagai salah satu bentuk kerasulan sosial Gereja.”

“Selamat bekerja para romo, suster, bapak ibu serta saudara-saudari untuk mewujudkan cita-cita kita bersama. Semoga kerjasama ini menghasilkan buah-buah kemuliaan bagi Tuhan dan berkat bagi saudara-saudari kita yang menjadi korban ketidakadilan,” ujar Mgr Suharyo pada peluncuran KKP KAJ.

Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*