Artikel Terbaru

Peneguhan Perkawinan Katolik

Peneguhan Perkawinan Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDalam “Surat Larangan dari Denpasar” yang dilaporkan Majalah HIDUP No. 29, 19 Juli 2015 dikatakan bahwa “tidak diperkenankan atau dilarang untuk menyelenggarakan peneguhan perkawinan Katolik pada masa-masa yang tidak diizinkan oleh norma Liturgi Gereja Katolik seperti masa Prapaskah, Pekan Suci, Masa Adventus dan lainlain (bdk. PUMR No. 372, 374).” Padahal saya melihat sendiri bahwa pada masa-masa itu tetap ada peneguhan perkawinan di paroki-paroki. Bagaimana mengerti peraturan dan kenyataan ini?

Stevanus-Novita, Malang

Pertama, kita perlu membedakan antara peneguhan perkawinan dan penggunaan rumus Misa bagi Mempelai (Misa pro sponsis), yaitu Misa khusus untuk perkawinan. Rumus Misa khusus berkaitan dengan sakramen dan sakramentali disebut Misa Ritual. Sebuah peneguhan pernikahan bisa dilakukan dengan menggunakan rumus Misa bagi Mempelai, tetapi bisa juga menggunakan rumus hari Minggu atau Hari Raya yang bersangkutan yang ditambah dengan upacara perkawinan.

Kedua, tema yang dibahas dalam Surat Larangan dari Uskup Denpasar ialah larangan peneguhan perkawinan di luar tempat ibadat resmi Gereja Katolik. Surat ini sama sekali tidak membahas tentang penggunaan rumus Misa bagi Mempelai. Pedoman Umum Misale Romawi No. 372 dan 374 yang dirujuk dalam Surat Larangan tersebut sebenarnya berbicara bukan tentang peneguhan perkawinan, tetapi soal penggunaan rumus Misa bagi Mempelai. “Misa Ritual dilarang pada hari-hari Minggu selama Masa Adven, Prapaskah, dan Paskah, pada hari-hari raya, pada hari-hari dalam oktaf Paskah, pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, pada Rabu Abu, dan selama Pekan Suci” (PUMR 372; bdk 374). Maka, sesungguhnya rujukan Surat Larangan dari Uskup Denpasar ke PUMR 372 dan 374 kurang tepat, karena tema pembahasan keduanya berbeda. Pemakaian rujukan itu bisa menimbulkan kesimpulan yang salah bahwa pada masa-masa khusus tersebut peneguhan pernikahan di Gereja dilarang. Inilah kesimpulan penanya.

Ketiga, peraturan terkini tentang peneguhan perkawinan dalam Gereja Katolik Roma diuraikan dalam Ordo Celebrandi Matrimonium (OCM) yang sudah dipugar dan diumumkan pada 19 Maret 1990 oleh Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen. Komisi Liturgi KWI sudah menerjemahkan dan menerbitkan OCM dengan judul “Tata Perayaan Perkawinan” (Jakarta: Obor, 2011). Pada Petunjuk Umum dari TPP, No. 32, dikatakan secara eksplisit: “Pada hari Jumat Agung dan Sabtu Suci secara mutlak dilarang merayakan Perkawinan.” Dengan kata lain, pada masa-masa khusus tersebut pada butir kedua, tetap boleh dilakukan peneguhan perkawinan, kecuali dua hari, yaitu Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Keempat, larangan penggunaan Misa bagi Mempelai (Misa pro Sponsis) yang diatur dalam PUMR 372 dituangkan sekali lagi dalam TPP No. 34 dengan koreksi dan tambahan rincian tentang waktu yang dimaksud, hari-hari liturgi kelas satu, yaitu Natal, Minggu Kebangkitan, masing-masing dengan oktafnya, Minggu Pentakosta, Trihari Suci Paskah, Penampakan Tuhan, Kenaikan Tuhan, Tritunggal Maha Kudus, Tubuh dan Darah Kristus, Hati Yesus, Kristus Raja, Maria Dikandung Tanpa Dosa, dan Maria Diangkat ke Surga. Ini berarti,  peneguhan perkawinan tetap boleh diadakan pada hari Liturgi kelas satu ini, tetapi harus memakai “Misa hari yang bersangkutan, lengkap dengan bacaan-bacaannya”.

Jadi, sama sekali tidak dimaksudkan bahwa peneguhan perkawinan dilarang. Hal ini nampak jelas dari ungkapan dalam TPP No. 34 yang sama: “Yang dipertahankan ialah ‘Berkat untuk Mempelai’”. Jika peneguhan perkawinan diadakan bukan pada hari liturgi kelas satu dan tidak digunakan Misa bagi Mempelai, misal pada hari Minggu biasa, TPP No. 91 menjelaskan, “Jika tidak dirayakan Misa bagi Mempelai, salah satu bacaan dapat diambil dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium) khusus untuk perkawinan …. Hendaknya dipilih bacaan yang menyatakan pentingnya nilai dan martabat perkawinan dalam misteri keselamatan.”

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*