Artikel Terbaru

Putri Tunggal Enggan Menikah

Putri Tunggal Enggan Menikah
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, saya Michel. Saya mempunyai seorang putri semata wayang. Ia sudah berpacaran selama lima tahun terakhir, bahkan sudah bertunangan. Namun, tunangannya belum merencanakan pernikahan. Menurut pengakuan putri kami, ia ingin menyelesaikan studi doktoral dan akan memakan waktu sekitar tiga hingga empat tahun lagi. Sementara usia putri kami semakin bertambah. Sejauh ini, putri kami tidak mempermasalahkan soal waktu pernikahan. Namun sebagai orangtua, saya khawatir mengingat dia adalah putri kami satu-satunya, sekaligus mengharapkan pada umur seperti sekarang, sudah menikah. Bagaimana kami bisa mengkomunikasikan masalah ini dengan dia? Terima kasih, Romo.

Michel, Bandung

Ibu Michel yang baik, sebagai ibu, tentu sangat memperhatikan masa depan anak, apalagi dia anak tunggal. Ibu ingin mempersiapkan masa depan yang pada umumnya dianggap baik dan normal. Orangtua juga ingin agar anak-anaknya memikirkan apa yang penting bagi hidupnya sesuai dengan yang orangtua anggap paling baik. Semua itu dapat dimengerti sebagai orangtua. Akan tetapi, harus dipahami bahwa perjalanan hidup setiap orang berbeda. Tidak semua orang harus menikah pada usia tertentu. Tidak semua orang harus memaksakan diri menikah, meskipun mereka belum cocok atau belum sreg. Cita-cita seorang ibu belum tentu dapat diwujudkan anak, meskipun ibu sangat ingin dia mewujudkannya.

Jika putri Ibu merasa khawatir dengan usia, dia pasti sudah memutuskan untuk menikah cepat. Barangkali dengan penundaan karena masalah sekolah ini, dia sendiri memang belum merasa mantap dan beralasan kuat untuk segera menikah. Usia berapa yang Ibu anggap tua? Hal ini juga penting diketahui agar orangtua jangan mendesak mereka menikah demi alasan usia.

Pernikahan sangat membutuhkan kemantapan, kedewasaan, pengenalan, persiapan, dan cinta sejati. Semua hal itu mendasar untuk dimiliki setiap calon menikah. Jika mengabaikan hal ini, pernikahan hanyalah sebuah paksaan yang berisiko tinggi. Tidak sedikit kasus perceraian hanya karena dulu mereka menikah sebab kondisi terpaksa. Lebih baik Ibu bertanya kepada anak Ibu mengenai hal ini.

Bicaralah dari hati ke hati soal perasaan Ibu. Jangan lupa menyertakan pernyataan, “Meskipun Ibu ingin kamu segera menikah, tetapi kamu harus memastikan bahwa kamu benar-benar siap dan mantap menikah dengan pasanganmu.” Tanyakanlah mengapa dia belum mantap dan masih mau menunda terkait dengan studi pacarnya itu. Penjelasan dari anak Ibu sangat harus dihormati, agar kelak Ibu jangan disalahkan karena dia menikah terpaksa demi ibunya.

Usia bukan jaminan bahwa orang sudah siap menikah. Perkenalan yang berlangsung cukup dan keterbukaan masing-masing pihak sangat dibutuhkan agar kedua pihak siap menikah sampai maut memisahkan. Pernikahan Katolik tidak bisa diceraikan, maka proses dan kemantapan harus lebih panjang dan disiapkan dengan bijaksana.

Pendidikan adalah hal penting untuk masa depan keluarga. Karenanya, hal itu tidak boleh hanya dipandang sebagai penghambat kelancaran hari perkawinan. Barangkali mereka berdua telah melihat masa depan dengan segala persiapan mental yang lebih berguna bagi mereka, meskipun usia telah matang.

Bukan hanya anak Ibu yang harus diajak bicara, melainkan juga pacarnya. Ajaklah mereka bicara dari hati ke hati. Sebagai orangtua, Ibu mempunyai kesempatan memberi inspirasi, tetapi tidak berhak memaksa demi ketaatan buta. Marilah kita kembali kepada tujuan semula, agar anak dapat hidup bahagia sampai tua bersama pasangannya.

Ajaklah anak Ibu berdoa dan memantapkan diri untuk mengambil sikap. Jangan membiarkan dia berpikir sendiri, jangan pula mengambil keputusan sepihak. Inilah saat bagi Ibu dan ananda agar lebih dekat serta bisa berkomunikasi secara terbuka. Sekali lagi, peran Ibu adalah sebagai pemberi inspirasi dan bukan pengambil keputusan terakhir. Semoga Tuhan memberkati.

Alexander Erwin Santoso MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*