Artikel Terbaru

Santa Anna Wang (1886-1900): Persembahkan Kepala Bagi Kristus

Santa Anna Wang
[thejamesrefige.com]
Santa Anna Wang (1886-1900): Persembahkan Kepala Bagi Kristus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAnna Wang mempersembahkan kepalanya demi iman akan Kristus. Ia meninggal dunia pada usia belia, 14 tahun. Ia dibunuh oleh pemberontak Boxers di Tiongkok.

Satu per satu beberapa orang digiring memasuki sebuah ruangan yang di sebut “Ruang Timur” di Desa Da Ning, Habei, Tiongkok. Di ruang tersebut, mereka dipaksa meninggalkan Kristus. Mereka yang murtad dipersilakan ke luar menuju pintu “Ruang Barat”. Sayang, tawaran itu disambut penolakan. Malah mereka berteguh hati, “Kami dilahirkan Katolik, seumur hidup tetap Katolik!”

Penolakan itu membuat pemimpin Boxers naik pitam. Boxers adalah kelompok pemberontakan di Tiongkok (1899-1901). Boxers memberontak dan menolak kekuasaan asing di sektor perdagangan, politik, teknologi, dan agama. Mereka ingin membunuh semua tradisi Barat, bahkan orang Kristen dianggap bertanggung jawab untuk nominasi asing di Tiongkok. Banyak umat Kristen di Shadong dan Shanxi dianiaya dan dibunuh.

Namun ancaman para Boxers tak menciutkan keyakinan mereka. Bila perlu nyawa diserahkan demi iman yang mereka peluk. Ujungnya, mereka semua dipenggal. Salah satu orang yang memberi kepalanya untuk iman akan Kristus itu bernama Anna Wang. Ia terbunuh pada usia 14 tahun.

Dipaksa Menikah
Anna Wang lahir di Majiazhuang, Weixian, Hebei Selatan, Cina, pada 1886. Ia lahir dalam sebuah keluarga Kristen miskin. Tapi Anna tak punya banyak waktu untuk menerima kasih sayang ibunya. Ketika Anna baru berusia lima tahun, sang ibu meninggal dunia. Sejak saat itu, Anna tumbuh sebagai pribadi mandiri. Anna mesti merelakan waktu bermain untuk bekerja di ladang. Pun dalam studi, ia harus belajar keras karena kemampuan akademiknya tak seberapa dibanding rekan-rekannya. Tetapi di mata gurunya, Suster Lucy Wang, Anna seorang yang saleh.

Meski ditempa dengan kerja keras, Anna tak pernah meninggalkan hidup doa. Di sela-sela kesibukannya, ia kerap meluangkan waktu untuk berdoa. Ia mau berlama-lama bersimpuh didepan patung Bunda Maria. Ujub doanya hanya dua, yakni mohon istirahat kekal bagi ibunda tercinta dan mohon perdamaian dunia.

Ketika berusia sebelas tahun, sang ayah memaksa Anna menikah dengan seorang pemuda bangsawan yang jauh lebih tua dari dia. Paksaan itu ditolak karena Anna telah memutuskan menjadi biarawati suatu saat nanti. Penolakan ini mendatangkan cemohan dari keluarga kaya tersebut, pun dari lingkup keluarganya sendiri. Sang ayah geram dan mengabaikannya. Terpaksa ia hidup sebatang kara dengan mengandalkan iman akan Tuhan. Itu masih diperparah lagi dengan keputusan sang ayah menikahi seorang perempuan malas yang hanya suka berdandan. Situasi itu membuat Anna tak menaruh hormat kepada ibu tirinya.

Pilihan Sulit
Penderitaan Anna kian bertambah ketika daerahnya di duduki pemberontak Boxers. Pada 21 Juli 1990, Boxers bersenjata tiba di Majiazhuang. Perlahan-lahan, pasukan ini unjuk taring dengan merebut setiap desa yang disinggahi. Banyak gereja dan sekolah dibakar, pun imam dan orang-orang Kristen dibantai secara brutal.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*