Artikel Terbaru

Batu yang Hidup

Batu yang Hidup
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Mendirikan gereja bukan saja perkara semen, pasir, dan batu yang disusun, lantas dicat dengan elok. Ketika bangunan telah rampung, ketika umat khusyuk berdoa di dalamnya, ketika area parkir penuh dengan mobil, ketika jalan di depan gereja macet, ketika lagu dan darasan doa menggema hingga keluar gereja, pada saat itulah gereja membawa pesan yang terkadang bernuansa ekonomi, politik, dan sosial.

Gereja yang nyaman serta aman menjadi dambaan setiap umat. Namun di sisi lain, kenyamanan dan keamanan itu juga mengandung unsur eksklusif. Gereja yang menjulang tinggi nan megah juga bisa terasing dengan suasana sekitar yang kotor, pengap, kumuh, dan bau. Di sinilah, gereja dalam arti bangunan bisa menjadi penanda yang justru memperkuat pemisahan antara “kami dengan yang lain”.

Kondisi ini kadang juga turut membentuk cara beriman umat. Iman hanya dipahami sekadar di dalam gereja; iman yang terkungkung dalam  tembok-tembok pemisah. Kesalehan menjadi warga Gereja lebih utama dan pertama dibanding menjadi warga masyarakat yang baik.

Bahkan, seringkali umat melihat kedua hal tersebut tidak ada kaitannya sama sekali. Tak heran jika gedung gereja juga turut serta membuat wajah umat yang asing dengan sekitar, yang tidak pernah hadir serta terlibat dalam dinamika masyarakat dan bangsa.

Susunan batu dan bata itu mestinya disuntik dengan iman hingga menjadi “batu-batu yang hidup”. Batu-batu yang juga mampu menyampaikan Kabar Sukacita. Ini tentu bukan perkara mudah. Paus Fransiskus dalam Nasihat Apostolik Evangelii Gaudium pun mengajak kita menjadi Gereja yang terbuka bagi semua orang; Gereja yang melibati secara konkret kehidupan manusia dengan keriaan dan kedukaannya. Gereja yang rela berkotor tangan, yang mau berkumuh dan terluka, terutama bagi yang paling miskin dan tersingkir.

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*