Artikel Terbaru

Menambah Uang Jajan Anak

Menambah Uang Jajan Anak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSalam jumpa, Pengasuh. Saya Rita dari Bogor. Saya mempunyai dua anak, pertama di SMP kelas 2 dan  kedua di SD kelas 6. Suami sering mengantar dan memberi uang jajan mereka Rp 10.000 per hari. Tetapi akhir-akhir ini, dua anak kami minta uang jajan dinaikkan menjadi Rp 15.000. Bagi saya cukup sulit, karena saya hanya ibu rumah tangga sementara suami buruh pabrik. Saya sudah menjelaskan tentang kondisi keuangan keluarga kepada mereka. Tetapi mereka tak mau mengerti. Katanya, mereka  malu setiap kali istirahat hanya beli jajanan seadanya. Sedangkan anakanak lain bisa makan di kantin dan membeli barang-barang lain. Sebagai ibu apakah saya harus memenuhi keinginan anak-anak kami? Apa yang harus kami buat? Terima kasih

Rita, Bogor

Apa kabar, Bu Rita? Salam jumpa. Semoga Ibu dan keluarga baik-baik. Persoalan yang Bu Rita paparkan tampaknya dialami juga oleh keluarga lain, meski dalam kualitas berbeda. Persoalan tersebut juga khas untuk anak-anak pada masa sekarang karena menghadapi tawaran yang bermacam-macam, seperti makanan, fesyen, dan gawai.

Tawaran itu tentu menjadi tantangan bagi orangtua agar dapat memenuhi. Terkait dengan yang ibu alami, berikut beberapa tips yang kira-kira dapat menjadi bahan pertimbangan. Pertama, coba ibu pelajari pola konsumsi atau pola jajan anak saat istirahat. Apa saja yang mereka beli dan makan. Kemudian buatlah kalkulasi perkiraan kebutuhan anggaran yang diperlukan.

Kedua, pelajari pula harga makanan yang ditawarkan di sekolah. Bagaimana kecukupan antara uang saku yang diberikan dengan harga makanan yang dijual di kantin. Dengan demikian ibu dapat membuat perkiraan kebutuhan sehari-hari anak saat istirahat. Ketiga, berdasarkan kalkulasi, ibu dapat menentukan, apakah uang saku yang diberikan sudah memenuhi standar minimal yang dibutuhkan anak. Termasuk apakah uang saku tersebut sekadar untuk membeli makanan ringan atau untuk makanan besar, misal nasi dan lauk.

Keempat, jika hanya sekadar jajan, maka ibu dapat membuat perkiraan mengenai tingkat kecukupan dengan uang saku yang diberikan. Snack yang mereka beli semata untuk mengganjal perut sebelum menyantap makan pokok yang tentu akan disajikan di rumah. Kelima, bila anak sebelum ke sekolah mendapatkan sarapan yang cukup, maka uang jajan yang diberikan memang diperuntukkan untuk membeli jajanan saja. Maka, penting bagi orangtua untuk memberikan sarapan yang baik, sehingga anak-anak tidak merasa lapar sepanjang hari. Jika memungkinkan, lebih baik anak-anak diberikan bekal. Meski untuk yang terakhir ini, anak-anak umumnya kurang suka. Tidak salah jika hal ini ditawarkan kepada ananda.

Keenam, terlepas dari kalkulasi ibu, ada prinsip pokok yang mungkin dapat menjadi acuan bagi ibu dan suami, yaitu mengajarkan anak-anak tentang kondisi keluarga, sehingga anak-anak dapat belajar dari kesulitan orangtua dan memahami kondisi keluarga. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada anak dalam situasi yang bersahabat.

Tak semua permintaan anak harus dipenuhi. Mereka perlu belajar ugahari, menyusun skala prioritas dan memutuskan sesuatu yang penting dan tak penting. Sehingga mereka semakin dapat mengelola kebutuhan dan memikirkan situasi orangtua.

Orangtua perlu bersepakat mengambil keputusan. Kurang elok jika ibu tak mengizinkan, sementara ayah memberi kelonggaran. Hal ini menjadi pembelajaran kurang baik bagi anak-anak. Keputusan orangtua menjadi dasar proses belajar anak. Ketegasan dan konsistensi orangtua mengambil keputusan menjadi standar acuan anak dalam pembentukan perilaku. Mungkin akan terjadi penyimpangan, namun hanya bisa dilakukan jika situasi amat spesifik. Prinsip dalam pembelajaran perilaku adalah tegas dan konsisten. Dengan demikian anak akan mendapatkan acuan yang akan dipakai untuk membentuk perilaku yang baik.

Dewi Setyorini

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*