Artikel Terbaru

Beato Ignatios Shukrallah Maloyan ICPB (1869-1915): Uskup Agung Martir Gereja Armenia

Paus Fransiskus didampingi Patriark Cilicia, Grégoire Pierre XX (Krikor) Ghabroyan melihat lukisan Beato Ignatios Shukrallah Maloyan saat mengunjungi Gereja Katolik Armenia, Turki.
[mupinterest.com]
Beato Ignatios Shukrallah Maloyan ICPB (1869-1915): Uskup Agung Martir Gereja Armenia
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPada masa penganiayaan, ia dikenal sebagai sosok yang mampu membangkitkan iman Gereja Katolik Armenia, Turki. Ia pun wafat karena setia pada imannya.

Sejauh mata memandang, tak ada tanda-tanda kehidupan. Padang pasir menghampar luas. Panas siap menyengat setiap orang yang melintas. Demikian situasi Gurun Suriah. Tempat ini selalu menghadirkan kisah seram. Umat Katolik Armenia punya sejarah pahit di tempat ini. Tahun 1915, para pemeluknya dibakar hiduphidup di situ.

Di antara umat Katolik Armenia yang pernah meregang nyawa di sekitar Gurun Suriah, ada Mgr Ignatios Shukrallah Maloyan, Uskup Agung Mardin, Turki. Ia dibunuh karena menolak menanggalkan imannya akan Kristus. Sebelum dibunuh, ia mengajak umat merayakan Ekaristi. Perayaan iman itu menjadi Ekaristi terakhirnya. Ia wafat sebagai Martir Kristus bersama pada imam dan umatnya.

Shukrallah atau Choukrallah (Turki) lahir di Mardin, Turki, 15 April 1869. Orangtuanya bernama Melkon dan Faridé Maloyan. Sedari kecil, ayah dan ibunya meletakkan dasar iman yang kuat dalam dirinya. Shukrallah terbiasa berdoa dan berdevosi. Perlahan namun pasti, ia ingin
mengabdikan diri dan hidupnya hanya untuk Tuhan.

Provinsi Mardin, tempat lahir Shukrallah, merupakan salah satu provinsi di Turki Tenggara. Mardin cukup tersohor karena beberapa daerah cukup dikenal saat itu, seperti Kızıltepe, Midyat, Nusaybin, Derik, Dargeçit, Yeşilli dan Ömerli. Orang Kurdi sering menyebut Provinsi Mardin dengan sebutan Parêzgeha Mêrdînê atau “Tempat Aman”. Kini, daerah Mardin menjadi pusat pelatihan bagi Kurdistan
Workers Party (PKK).

Hidup Nomaden
Di masa kecilnya, Shukrallah terpaksa hidup nomaden karena situasi perang. Tercatat, tiga kali ia pindah dari Midyat, Derik, dan terakhir menetap di Dargeçit. Bukan saja perang yang ia alami, tetapi juga sisa-sisa kepercayaan Jahiliyah–zaman kebodohan atau kegelapan dimana tatanan sosial dan akhlak tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Perubahan tata sosial yang diadopsi dari daerah-daerah Jazirah Arab sangat kental dengan kehidupan keras, hidup berkelompok berdasarkan suku dan suka berperang. Kondisi inilah yang mewarnai kehidupan awal Shukrallah. Maka, demi mempertahankan iman, keluarganya terpaksa hidup berpindah-pindah ke tempat yang bisa menjamin keamanan hidup mereka. Terkadang ia harus bersembunyi untuk berdoa dan berdevosi.  Ketika di Dargeçit, pastor parokinya melihat bahwa Shukrallah punya tabiat iman yang sangat kuat. Pastor itu pernah berujar, “Kelak anak ini menjadi orang kudus.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*