Artikel Terbaru

Intelektual Katolik

Intelektual Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada masa lalu, terutama jaman Orde Baru, peran kaum intelektual tenggelam dalam kekuasaan hegemonis yang menaikkan kaum teknokrat menjadi tokoh penting di negeri ini. Jangan heran bila kaum intelektual yang kehilangan peran hanya menjadi kelas menengah yang biasa-biasa saja. Mereka tak memiliki peran politik, ekonomi, dan budaya secara signifikan.

Kaum intelektual sebagai bagian dari kelas menengah nyaris tak memiliki sikap politik yang jelas dan cenderung bersikap oportunis. Bahkan ada olok-olok tentang kelas menengah di jaman Orde Baru adalah kaum yang bercirikan berperilaku seperti katak yang sedang berenang menuju ke atas. Mereka menginjak yang di bawah, menyikut kiri kanan, dan menjilat ke atas.

Pada era Presiden Soeharto berkuasa, kelas menengah Indonesia, seperti halnya politik kelas yang lain, pada hakikatnya berpihak pertama-tama dan terutama kepada kepentingan material sendiri. Ideologi dan corak politik mereka adalah menjilat kekuasaan kelas atas atau berkorban demi kesejahteraan kaum tertindas di kelas bawah.

Namun demikian kaum intelektual sebagai aktor dominan dalam masyarakat si pil yang dinamis seharusnya mampu melakukan pengembangan, penguatan, dan konsolidasi demokrasi dalam banyak cara. Fungsi pertama adalah dan yang paling mendasar adalah menyediakan “basis pem batasan” kekuasaan negara, mengupayakan kontrol negara oleh masyarakat, dan menumbuhkan institusi-institusi politik demokratis sebagai sarana paling efektif untuk menerapkan kontrol tersebut. Setelah transisi, fungsi ini meliputi pengawasan, pemantauan, dan pembatasan penerapan kekuasaan oleh negara dan meminta mereka tunduk kepada hukum, serta mengupayakan pemenuhan harapan publik kepada sebuah pemerintahan yang ber tanggung jawab.

Kaum intelektual Indonesia sebagai bagian dari masyarakat sipil seharusnya ikut mewujudkan pers yang bebas, independen, mampu melakukan investigasi. Tanpa itu semua juga munculnya kelompok warga yang mendesakkan reformasi kelembagaan, maka korupsi pasca-transisi dari rezim otoritarian akan berkembang-biak seperti yang terjadi di Brasil, Argentina, Turki, Pakistan, Thailand, dan kebanyakan negara di Afrika, serta negara bekas Uni Soviet.

Kaum intelektual seharusnya mendorong dan melakukan pendidikan demokrasi. Dalam jangka panjang, pekerjaan ini akan memunculkan perubahan kultural, yang dapat merombak cara pendidikan anak dan cara berhubungan dengan kekuasaan, juga cara masyarakat memahami sejarah politik negara serta mempersiapkan orang muda mempercayai dan bekerja sama dengan rekan-rekan mereka.

Kaum intelektual juga mesti ikut mendorong masyarakat sipil agar mampu menggulirkan demokrasi. Antara lain dengan membangun banyak saluran alternatif di luar partai politik. Fungsi ini sangat penting dalam menyediakan akses ke kekuasaan bagi kelompok-kelompok yang secara tradisional tersisih. Hal penting lain yang harus dilakukan kaum intelektual adalah mempersatukan konstituen baru yang melintasi pembelahan regional, religius, etnis, atau partisan yang telah lama hadir. Masyarakat sipil di negara maju pada umumnya menampung semangat pluralistik serta menghasilkan beragam kepentingan.

Kaum intelektual Indonesia bersama elemen masyarakat sipil demokratis yang lain memiliki tugas mulia untuk merekrut dan melatih para pemimpin politik baru. Organisasi warga umumnya berkembang dari model gerakan menjadi aktivitas pengembangan keterampilan memimpin dan advokasi. Hal ini akan memberikan kesempatan munculnya berbagai program pelatihan yang berbasis non-partisan bagi pejabat terpilih dan para kandidat lokal.

Kelompok intelektual Katolik adalah kelompok yang sebenarnya merupakan minoritas dalam minoritas. Maka, intelektual Katolik harus bisa menjadi kelompok the creative minority. Kelompok ini harus bisa memberi warna yang unik dan khas dengan mengedepankan adab dalam berbangsa dan bernegara, terutama ketika negara dilanda berbagai masalah krisis dan dekadensi.

Stanley Adi Prasetyo

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*