Artikel Terbaru

Reynold Vincent: Tuhan Selalu Punya Rencana

Reynold Vincent membawakan fi rman di PDPKK Paroki Keluarga Kudus Cibinong.
[HIDUP/Yusti H.Wuarmanuk]
Reynold Vincent: Tuhan Selalu Punya Rencana
2.6 (52%) 5 votes

HIDUPKATOLIK.comSakit berulangkali menghentikan langkahnya untuk meniti karier. Rupanya Tuhan memiliki rencana lain dalam hidupnya. Ia memilih menjadi seorang pewarta.

Pagi masih pucat, Reynold Vincent telah tiba di kantor. Wajahnya tampak ceria. Maklum, hari itu merupakan hari pertama ia bekerja di PT Firstwap Internasional. Di perusahaan teknologi in formasi ini, Reynold didapuk sebagai Senior Human Resources Development.

Belum lama mencecap pekerjaan, Reynold jatuh hati. Tanggung jawab yang ia pikul merupakan impiannya sejak lama. Ia mudah beradaptasi dengan situasi dan pekerjaan di ladang karyanya. Reynold mempelajari seluruh standar operasional perusahaan pada hari-hari pertama ia bekerja. Ia juga berusaha mengenal satu per satu karyawan.

Reynold turut serta menggenjot laju perusahaan. Omset perusahaan naik dua kali lipat. Sayang, ia hanya bertahan sembilan bulan di perusahaan yang terletak di kawasan Mampang, Jakarta Selatan tersebut. Sakit yang diderita, membuat ia harus meninggalkan karier. Kata dokter, ia terkena suspek stroke di wajah sebelah kiri. Ia pun undur diri pada Juli lalu.

Berpindah Kerja
Sudah lima kali Reynold berpindah-pindah pekerjaan. Di tiap perusahaan tempatnya bekerja itu, ia mendulang gaji fantastis. Perpindahan ini bukan lantaran ia tak betah atau karena terkena putus hubungan kerja. Sakitlah yang membuat karier pria kelahiran Yogyakar ta, 27 September 1979 ini terhenti.

Reynold mengenang, setiap pekerjaan selalu ia lakukan dengan penuh perhatian. Ia sadar, mencari pekerjaan di ibukota tak mudah. Tapi uniknya, kala orang lain sulit mendapat pekerjaan, keberuntungan selalu menghampiri dirinya. “Lamaran saya selalu diterima perusahaan,” ujarnya.

Pada 2003, dari Kota Gudeg, Reynold mencari peruntungan di Jakarta. Ia datang dengan berbekal misi mulia, membahagiakan orangtua. Tak hanya itu, ia ingin membuktikan tanggung jawabnya kepada orangtua sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. “Minimal tak bergantung hidup dengan orangtua,” imbuh Reynold.

Reynold berharap meraup sukses seperti orangtuanya. Harapan serupa juga dikehendaki ayah, ibu, serta kedua adik nya. Mereka juga berharap, putra sulung nya itu koleganya. Mereka juga sempat mengira Reynold gila. Bagaimana mungkin pada zaman sekarang, dimana segala sesuatu diukur dengan uang, ia justru mau menjadi pewarta.

Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini mengaku, jodoh sepertinya belum berpihak kepadanya. Sebaliknya, ia justru mendapat aneka pekerjaan. Kadang ia merasa sedih belum mendapat pendamping hidup. Tapi, ia tak ingin duka itu terus bercokol di dalam dirinya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*