Artikel Terbaru

Cegah Kekerasan Terhadap Anak

[hurriyetdailynews.com]
Cegah Kekerasan Terhadap Anak
1 (20%) 1 vote
HIDUPKATOLIK.com – Bayi mungil itu tergolek kaku di tempat sampah. Ia telah mati. Sang ibu yang seharusnya melimpahi dirinya dengan cinta sengaja membuangnya, sesaat setelah ia dilahirkan.
 
Kasus bayi dibuang dan tindak kekerasan lainnya terhadap anak di Indonesia masih tinggi. Selain yang dilaporkan oleh media, data riil kasus-kasus kategori ini masih sulit diketahui.
 
Agaknya masih banyak orang di masyarakat kita berpandangan bahwa kasus-kasus semacam itu adalah wilayah privacy domestik masing-masing keluarga. Mereka merasa kurang pas diekspose ke publik. Para pelakunya tidak lain adalah orang-orang yang memiliki hubungan sangat dekat (secara darah maupun peran) dengan korban (anak).
 
Mereka bisa saja ayah maupun ibu (bisa asli atau tiri), saudara kandung/ sepupu, paman, bibi, kakek, nenek atau anggota keluarga lain dari si korban. Bisa juga dilakukan oleh pembantu, baby sitter, atau orang lain yang hidup bersama dalam keluarga korban.
 
Di sini tragisnya, pihak korban umumnya tidak berdaya mempertahankan diri (terutama pada korban-korban yang masih bayi sampai usia pra-sekolah/ kanak-kanak awal). Sangat ironis, jika pelakunya adalah orangtua korban (ayah, ibunya) sendiri, yang seharusnya menjadi pihak utama sebagai pelindung dan pemberi kasih sayang bagi anak.
 
Umumnya para pelaku kekerasan tersebut memang ”bermasalah” dan tindak kekerasan yang dilakukannya sedikit banyak merupakan pengalihan destruktif ke orang lain yang tidak berdaya untuk melawannya.
 
Ada berbagai faktor mengapa mereka ”bermasalah” yang kemudian cukup mempengaruhi kecenderungan maupun perilakunya melakukan tindak kekerasan di dalam keluarga, antara lain: latar belakang budaya, pola asuh, kepribadian, lingkungan pergaulan, jenis pekerjaan, kondisi ekonomi-sosial, dsb.
 
Salah satu gambarannya, misalnya, tidak sedikit di antara mereka yang dulunya diasuh dengan bahasa, sikap serta perlakuan kekerasan, ketika menjadi orangtua melanjutkan penerapan ”paket kekerasan” yang dicerapnya di masa lalu sebagai modus dominan dalam memperlakukan anak-anaknya.
 
Sengaja, tidak disengaja
Secara umum, tindak kekerasan terhadap anak bisa terjadi secara disengaja maupun tidak disengaja. Namun, sebagian besar kasus terjadi dengan kesengajaan. Adapun jenis/bentuk-bentuknya meliputi: penelantaran (child abuse), kekerasan fisik, kekerasan emosional, dan kekerasan seksual.
 
Penelantaran mencakup segala bentuk pengabaian terhadap penjagaan atas pengasuhan, keselamatan, penyediaan/pemberian makanan yang cukup, tempat tinggal layak, kesehatan, serta pendidikan. Kekerasan fisik mencakup berbagai perlakuan kekerasan fisik, misalnya memukul (dengan tangan, maupun alat lain, seperti rotan, kayu, besi), menendang, menyabet, menyundut dengan api rokok, mengguyur dengan air panas, mengikat, mengurung/mengunci dalam ruangan, dsb.
 
Sering terjadi, kekerasan fisik dilakukan karena hal-hal sepele. Misalnya, karena anak merengek, menangis, berteriak-teriak, tidak mau makan, tidak mau mandi, dsb. Padahal, perilaku-perilaku semacam itu sedikit banyak merupakan bagian dari proses pembelajaran anak yang khas bagi perkembangannya.
 
Kekerasan emosional menunjuk pada bentuk-bentuk perlakuan/sikap yang menyakiti perasaan maupun mental anak, dapat berupa sikap/perlakuan tidak memberikan kasih sayang yang tulus, cara komunikasi verbal-non verbal yang kasar, tidak mempedulikan, membenci, membatasi pergaulan, tidak memberi kesempatan bermain sesuai usia dan perkembangan anak, secara eksesif memarahi, mendiamkan, memusuhi, mengancam serta menakut-nakuti, dsb.
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*