Artikel Terbaru

Melompati ”Lingkaran Setan”

Fransiskus Rociawan Yulianto
[HIDUP/M.Fransiska FSGM]
Melompati ”Lingkaran Setan”
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – ”Tuhan berilah saya kekuatan hari ini saja,” pinta Rosi. Kemudian jemari lelaki gondrong itu menggulirkan biji-biji rosario seraya berdoa, ”Bapa kami yang ada di surga …”
Setiap malam Fransiskus Rociawan Yulianto selalu memanjatkan doa itu. Ia tahu dirinya rapuh dan sering jatuh dalam godaan.
Hampir sepuluh tahun ia berkubang dalam dunia narkoba. Dunia yang membawa sejuta kenikmatan itu menyeret Rosi dalam kehancuran.
Coba-coba
Awalnya, Rosi coba-coba. Ia melihat teman-temannya menikmati dunia itu. Ketika duduk di kelas I STM Perindustrian Yogyakarta, pemuda kelahiran Solo, 24 Juli 1978 ini mencoba minum minuman keras. Setelah itu, ia mulai melirik ganja.
Rosi mulai ketagihan. ”Rasanya ingin lagi dan lagi,” begitu akunya. Ketagihan itu ia penuhi dengan mengisap ekstasi, shabu-shabu, putauw, dan heroin. Setiap kali menggunakan obat-obat itu, anak pertama dari tiga bersaudara ini merasa dirinya kuat, percaya diri, dan mampu melakukan segala hal.
”Saya mampu menghias ruangan semalam suntuk,” cerita Rosi ketika diminta bantuan mendekor aula paroki untuk acara pernikahan temannya. Selain itu, ia mampu berlatih drum, gitar, atau alat musik lain berjam-jam tanpa henti. Itu membuat ia tak mampu dan enggan meninggalkan dunia narkoba yang menjadi sahabatnya.
Lambat-laun Rosi mengalami kesulitan belajar. Ia sulit konsentrasi. Hati kecilnya resah dan gelisah. Ia sering melamun atau membayangkan sesuatu yang indah. Akibatnya, Rosi tidak naik kelas. Ia pindah sekolah ke SMA I Ngerambe, Ngawi, Yogyakarta. Rosi terseok-seok menyelesaikan sekolahnya.
Ia dinyatakan lulus dengan nilai minim. Dan, Rosi tak peduli.
Menghamburkan uang
Buah cinta Suroyo dan Lucia Sugiarti ini bertekad melanjutkan studi di Akademi Perhotelan Yogyakarta. Tetapi, apa daya cita-citanya kandas. Di semester empat, ia berhenti kuliah.
”Saya sering membolos. Uang kuliah pemberian mama, saya gunakan membeli
obat. Bahkan, saya sering mengambil uang mama,” akunya. Yang ada di benaknya, bagaimana ia dapat memperoleh uang. Rosi tak pernah pusing memikirkan mamanya siang malam bekerja membanting tulang. Sudah lama perempuan itu menjadi kepala keluarga. ”Papa pergi ketika saya berusia sepuluh tahun,” ungkap Rosi.
Kepergian papanya membuat Rosi kehilangan pegangan. Ia belum siap menerima kenyataan itu. Meski sudah lama ia sering menyaksikan mama dan papanya bertengkar. ”Konon mereka menikah karena dijodohkan. Tetapi, entahlah…,” kenang Rosi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*