Artikel Terbaru

Jangan Sampai Mati Sekolahku

Suasana belajar di SMA St Andreas Kedoya.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Jangan Sampai Mati Sekolahku
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaat ini, sekolah Katolik tidak lagi di menara gading. Masalah kekurangan murid yang berimbas pada defi sit keuangan menjadi sebab utama penutupan sekolah.

Mulai tahun ajaran ini, Pengurus Yayasan Karya Kasih (YKK) memutuskan tidak menerima pendaftaran siswa-siswi baru di SMA St Andreas Kedoya, Jakarta Barat. Ada tiga sebab yang melatari keputusan ini, yaitu sekolah defisit anggaran, hasil Ujian Nasional 2015 yang hanya meluluskan enam orang, dan jumlah peminat murid baru sangat kurang.

SMA St Andreas harus bersaing, baik dengan sekolah negeri maupun sekolah swasta dengan bendera tarekat religius atau yayasan milik perorangan. Kenyataan membuktikan, sekolah negeri dalam menjaring murid baru selalu ditentukan tanggal penutupan penerimaan siswa baru. Tetapi sekolah Katolik tidak berani membuat target waktu, karena masih menunggu murid “buangan” dari sekolah negeri.

Pilihan Terakhir
Ketua Pengurus YKK Gerardus Liong Fon Sin mengakui, defisit anggaran di yayasannya bukan baru terjadi beberapa tahun terakhir. Kekurangan itu sudah berjalan 15 tahun. Saat ini unit SMA masih bisa bertahan karena biaya operasional sudah menggunakan uang pangkal. Ini adalah napas terakhir sekolah dan sudah bisa dipastikan sekolah memasuki masa kritis. “Paling bisa bertahan lima tahun karena uang pangkal tidak banyak. Unit SMA St Andreas sementara berada di posisi ini,” ungkap Fon Sin.

Berbagai cara sudah ditempuh Forum Komunikasi Orangtua Murid (Forkom) bersama YKK bersama Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (MPKKAJ), Komite Sekolah serta para guru dan karyawan untuk mengatasi situasi ini. Dalam pertemuan 15 Oktober 2015, Forkom menolak tiga alasan ini, lebih-lebih alasan defisit anggaran 2015 yang berkisar 1,5 miliar rupiah. Alasannya, YKK membuat keputusan sepi hak dan tidak mengkomunikasikan lebih dahu lu. Muncul pro kontra dalam hal ini.

Masalah ini bisa teratasi, bila ada campur tangan umat paroki, mengingat Persekolahan Andreas adalah sekolah milik Paroki St Andreas Kedoya. Pun intervensi MPK-KAJ, misal membentuk tim untuk membuat jejaring antarsekolah Katolik guna mencari solusi bersama. Wakil Ketua Dewan Paroki St Andreas Marthin Charles mengatakan, dulu umat sering menyumbang untuk sekolah, tapi gerakan orang tua asuh ini lama-lama meredup. “Umat sekarang lebih sering menyumbang untuk pembangunan daripada untuk pemeliharaan gedung,” ujar Marthin.

Berangkat dari pengalaman ini, YKK sudah ancang-ancang memilih opsi lain. Seandainya permasalahan ini berlanjut, unit SMA St Andreas akan beralih status menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau menyerahkan pengelolaan kepada keuskupan.

Sebetulnya, ancaman sekolah Katolik tutup tak hanya dialami Sekolah St Andreas. Pengalaman serupa juga menimpa SMK Sint Joseph di Kramat, Jakarta Pusat, yang bernaung di bawah Yayasan Perhimpunan Vincentius Jakarta (PVJ). SMK ini punya dua jurusan, yakni Otomotif Mesin dan Elektronika. Bendahara I PVJ, Paulus Tjahjono menjelaskan, sejak tiga tahun terakhir, Jurusan Elektronika sudah tidak menerima murid baru. “Kami tutup. Kami hanya menerima murid untuk jurusan Otomotif Mesin. Jurusan Elektronika hanya melanjutkan pendidikan siswa yang ada sampai lulus,” ujar Paulus.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*