Artikel Terbaru

Ayo Selamatkan Sekolah Katolik

Panitia dan narusumber dalam simposium Pendidikan di Gedung KWI Cikini, Jakarta .
[HIDUP/Antonius E. Sugiyanto]
Ayo Selamatkan Sekolah Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAda gerakan yang sedang tumbuh di kalangan umat untuk menyelamatkan sekolah Katolik. Hati umat Katolik diketuk agar ikut mencerdaskan generasi Gereja masa depan.

Sekitar tujuh tahun lalu, sebuah Taman Kanak-Kanak di Promasan, Jawa Tengah, terancam tutup. Selain karena kekurangan murid, TK yang bernaung di bawah Yayasan Kanisius itu juga kekurangan dana operasional. Isu penutupan TK tersebut sampai ke telinga beberapa umat. Mereka pun tergerak membantu, minimal menyelamatkan TK tersebut. Salah seorang yang ikut dalam aksi tanggap darurat itu ada lah Paulus Tjahjono.

Beberapa waktu sebelumnya, Paulus tergabung dalam Panitia Tetap Bakti Dwi Abad Gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Di situ ia berkenalan dengan panitia lain dari berbagai latar belakang profesi. Sebagian besar di antara mereka tergabung dalam komunitas Profesional dan Usahawan Katolik (Pukat) KAJ. Mereka inilah yang akhirnya menjadi “malaikat penyelamat” bagi TK Kanisius di Promasan itu. “Lantai sekolah diperbaiki, dinding dicat ulang, sarana dan prasarana kami lengkapi, sehingga tampilan fisiknya lebih menarik. Ternyata orangtua mulai berminat menyekolahkan anaknya di situ. TK itu kemudian hidup lagi,” ujar Paulus.

Berpangkal dari situ, niat menyelamatkan sekolah Katolik berlanjut. Pada 2009, dibentuklah sebuah yayasan untuk mengayomi gerakan ini, dengan nama Yayasan Umat Peduli Pendidikan (YUPP). Yayasan ini mempunyai misi membantu sekolahsekolah Katolik di Indonesia agar mandiri, menarik, berdaya tahan, dan misioner. Meningkatkan kualitas guru dan peserta didik juga menjadi salah satu fokus YUPP.

Dalam perjalanan selanjutnya, YUPP membuat kebijakan agar gerakan menyelamatkan sekolah Katolik tidak hanya menjadi gerakan segelintir umat di Jakarta. Semua umat di keuskupan masing-masing mesti diajak agar memiliki gerak hati yang sama. Maka, melalui jejaring Pukat dibuatlah Tim Peduli Pendidikan (TPP) di tingkat keuskupan.

Paulus yang saat ini menjabat sebagai Ketua YUPP menandaskan, TPP di keuskupan mempunyai tugas menganalisis dan mengevaluasi kondisi sekolah Katolik di keuskupan masing-masing. YUPP, kata Paulus, hanya membantu dari sisi finansial, karena harus diakui bahwa sumber duit terbesar ada di Jakarta. Tugas YUPP mengumpulkan dana untuk disalurkan ke TPP keuskupan yang membutuhkan. YUPP mendapatkan dana dari konser Natal yang merupakan agenda tahunan Pukat KAJ serta dari para donatur.

Sejauh ini, TPP sudah terbentuk di beberapa keuskupan di Indonesia, seperti di Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Padang. Sementara keuskupan lain yang sudah ada TPP tapi belum efektif adalah Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Purwokerto, dan Keuskupan Surabaya.

YUPP juga bekerja sama dengan Keuskupan Agats-Asmat untuk memberi beasiswa kepada orang muda agar bisa melanjutkan kuliah. Selama ini, YUPP telah memberikan beasiswa bagi orang muda Agats-Asmat untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan sistem ikatan dinas. Mereka dibiayai pendidikannya dengan syarat setelah tamat, wajib pulang ke Papua untuk mengajar di sekolah-sekolah. Pada 2012, YUPP memberi beasiswa untuk empat orang, 2013 untuk enam orang, 2014 untuk lima orang, dan 2015 untuk lima orang.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*