Artikel Terbaru

Sekolah Katolik Tanggung Jawab Bersama

Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM
[NN/Dok. Pribadi]
Sekolah Katolik Tanggung Jawab Bersama
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comBanyak sekolah Katolik sedang sekarat. Padahal kehadiran sekolah Katolik bisa menjadi sarana mewartakan Kabar Gembira.

Berhadapan dengan arus besar pendidikan yang meningkat drastis belakangan ini, sekolah Katolik dituntut lekas berbenah. Kalau tidak, sekolah-sekolah Katolik yang pada masa lalu menjadi unggulan, bakal tergilas sampai habis. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sudah merespon situasi ini delapan tahun lalu dengan mengeluarkan Nota Pastoral. Hasil Nota Pastoral tahun 2008 itu memandang pendidikan sebagai media pewartaan Kabar Baik, unggul, dan berpihak kepada yang miskin.

Dokumen ini sangat relevan dan penting untuk ditilik sebagai kriteria guna mengukur perkembangan pendidikan di sekolah Katolik. Menindaklanjuti Nota Pastoral 2008 tersebut, Komisi Pendidikan (Komdik) KWI bersama Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) mengeluarkan standar dan karakteristik sekolah Katolik. Terdapat empat standar dan karakteristik yang ingin dicapai, yaitu misi dan identitas, tata kelola dan kepemimpinan, keunggulan akademik dan non akademik, serta penyelenggaraan pendidikan. Empat hal tersebut bertujuan memandu sekolah Katolik supaya tetap mempertahankan visi dan misi Gereja yang berpusat pada nilai-nilai Injil, dengan senantiasa berpihak kepada yang miskin dan tersingkir.

Ketua MNPK Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM mengatakan, sekolah Katolik dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dari sudut penyelenggara dan pengelolaan ada tiga macam, yakni sekolah yang ditangani paroki, sekolah yang ditangani tarekat, dan sekolah yang dikelola awam perorangan. Menurutnya, sekolah Katolik yang dikelola tarekat imam, suster, dan bruder relatif lebih mampu bertahan dan berkembang. Sedangkan sekolah yang dikelola paroki dan awam banyak yang terkena imbas tren penurunan jumlah siswa beberapa tahun terakhir. “Jumlah siswa semakin kurang, dengan demikian pemasukan sedikit, sementara biaya operasional sekolah cenderung stabil,” ujar Romo Darmin.

Menurut Romo Darmin, tren menurunnya peminat sekolah Katolik lebih menonjol di Pulau Jawa. Dalam hal ini, ukurannya bukan soal mampu tidak mampu. Sekolah-sekolah negeri yang dikelola pemerintah terus berbenah dengan sekolah gratis, sembari terus meningkatkan mutu sekolah. Hal ini membuat orangtua yang dulu rela membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik, mulai berpaling ke “sekolah gratis” dengan mutu yang hampir sama.

Sementara di luar Pulau Jawa, minat terhadap sekolah Katolik masih stabil. Romo Darmin memberi contoh. Di daerah asalnya, Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, ada gerakan pindah ramai-ramai dari sekolah negeri ke sekolah Katolik, karena sekolah-sekolah Katolik rata-rata menyediakan asrama. Sekolah Katolik yang mempunyai asrama menjadi pilihan utama dibandingkan sekolah Katolik yang tidak memiliki asrama.

KOMENTAR ANDA:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*