Artikel Terbaru

Indra Charismiadji: Trik Selamatkan Sekolah Katolik

Indra Charismiadji
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Indra Charismiadji: Trik Selamatkan Sekolah Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAda berbagai cara untuk menyelamatkan Sekolah Katolik. Satu hal yang perlu lakukan sekarang adalah singkirkan sekat, mari kita bersatu.

Tes terakhir untuk mengukur tingkat pendidikan di beberapa negara dilakukan Program for Inter national Student Assessment (PISA). Tahun 2015, yang mengikuti tes adalah anak-anak usia 15 tahun dari 65 negara. Ada tiga bidang yang diuji, yakni matematika, sains, dan membaca. Hasil survei itu menempatkan Indonesia di urutan 64. Survei juga dilakukan Pearson, sebuah lembaga yang mengadakan kajian pendidikan dengan nama The Learning Curve. Hasilnya, Indonesia menempati urutan 40 dari 40 negara. Kemudian Trend Mathematics and Sains Study (Teams) juga melakukan survei dengan melakukan tes kemampuan matematika dan sains. Indonesia ranking 40 dari 42 negara.

Data dari World Education Forum, Indonesia menempati urutan 69 dari 76 negara, untuk bidang pendidikan. Sementara dari bidang literasi bangsa, per Januari 2016, Indonesia ada di ranking 60 dari 61 negara. Lagi, pada Agustus lalu, World Education Forum membandingkan kemampuan literasi orang Jakarta dengan orang Denmark; satu kota dibandingkan satu negara. Hasilnya, tingkat literasi orang Jakarta dengan gelar strata satu ke atas sama dengan orang Denmark yang sekolah di SMP ke bawah. “Jadi problem besarnya bukan hanya di sekolah Katolik atau negeri. Problem pendidikan kita ada di nasional. Secara umum, kualitas pendidikan kita kacau,” ujar Indra Charismiadji.

Melihat hasil-hasil survei tersebut, warga Katolik yang juga adalah warga bangsa Indonesia ikut bertanggungjawab terhadap pendidikan di negeri ini. Tapi mau bagaimana? Sekolah Katolik sedang memasuki masa krisis finansial dan peminat. Indra yang adalah pemerhati pendidikan menawarkan beberapa trik menyelamatkan sekolah Katolik. Berikut petikan wawancaranya.

Secara nasional di mana posisi sekolah Katolik?

Kita membagi Sekolah Katolik dalam dua bagian. Pertama, sekolah-sekolah yang masih jadi favorit. Kedua, sekolah “gurem”, yaitu sekolah-sekolah yang hidup segan mati tak mau. Di tengah-tengah keduanya, ada sekolah negeri yang dalam beberapa tahun terakhir dapat sokongan dana sangat besar dari pemerintah. Di masing-masing bagian sekolah Katolik itu, ada ancaman yang mengintai. Sekolah Katolik favorit harus bersaing dengan sekolah-sekolah berlabel internasional dan plus yang tumbuh pesat. Sementara sekolah “gurem” semakin tercekik, karena kurang murid dan dana.

Kecenderungan masyarakat kita memilih yang mana?

Pasti milih yang negeri dong, karena gratis. Sebagian orangtua berpikir, ia sekolahkan anaknya di sekolah negeri yang gratis, tapi bimbingan belajar (bimbel) di bimbel yang terbaik. Kualitas yang tidak terpenuhi di sekolah, bisa didapat di bimbel. Sekolah Katolik favorit memang masih stabil, tapi harus ingat bahwa pesaing sangat banyak. Kalau tidak berbenah, suatu hari pasti kalah. Sementara sekolah “gurem”, ya akan banyak yang tutup kalau tidak diselamatkan.

Bagaimana cara menyelamatkan sekolah “gurem”?

Yang saya usulkan sekarang adalah model Charter School. Artinya, biaya seluruhnya ditanggung pemerintah, pengelolaan diserahkan kepada masyarakat. Dalam konteks kita, misalkan pengelolaannya diserahkan kepada keuskupan, paroki, atau tarekat. Beberapa negara di Amerika dan Eropa sudah memulai model ini.

Apakah model ini diterima pemerintah?

Mari kita perjuangkan! Sekarang saya sendiri. Mari kita berjuang bersama! Yang dibutuhkan sekarang adalah bersatu. Saya lihat, di internal umat Katolik masih terkotak-kotak. Suster berantem dengan romo, bruder berantem dengan suster, hanya gara-gara rebutan murid. Padahal kalau bersatu, suara kita bisa didengar pemerintah. Kita sendiri bisa menyelamatkan sekolah-sekolah yang terancam tutup tadi.

Bagaimana caranya?

Tiap yayasan yang mengelola sekolah Katolik maunya jalan sendiri. Seharusnya kita sharing resources. Contohnya, selama ini sekolah A beli buku pelajaran untuk 20 anak ke penerbit C. Itu pasti lebih mahal dibanding yayasan Katolik bersatu lalu ramai-ramai beli 5000 eksemplar buku pelajaran. Kan diskonnya lebih besar.

Sekolah kita juga tidak punya duit kalau harus menerapkan ujian berbasis komputer. Padahal kalau kita bersatu, kemudian sekali beli komputer, katakanlah 3000 unit, diskonnya gila-gilaan. Cara lain, kita taruh satu orang di Kementerian Pendidikan. Tugasnya melobi supaya sekolah-sekolah Katolik dapat bantuan. Setelah dapat, kita bagi untuk semua yayasan. Jadi, kita solid dan bekerja lewat satu pintu. Mari kita bersatu! Jangan STS, susah tapi sombong!

Stefanus P. Elu

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*