Artikel Terbaru

Gawai Istri Bersandi

Gawai Istri Bersandi
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comSalam, Pengasuh. Usia pernikahan kami tiga tahun. Setahun yang lalu, saya merasa heran. Istri saya  memakai sandi (password) di gawainya. Alasan dia demi menjaga privasi. Saya berulangkali mengatakan kepada istri bahwa kita sudah hidup bersama, mengapa masih ada yang perlu disembunyikan? Apakah dalam suatu pernikahan masih perlu privasi di antara suami-istri, handphone misalkan? Mohon saran apa yang perlu saya lakukan?

Antonius Budiono, Yogyakarta

Pak Antonius, setiap orang mempunyai kebutuhan akan rasa aman dalam kehidupan. Salah satu cara untuk memperoleh rasa aman adalah menjaga jarak dengan orang lain. Privasi adalah suatu cara untuk menjaga jarak sosial tersebut. Dengan privasi, seseorang bisa merasakan kesendirian dan berjarak dengan orang lain, sehingga ia merasa aman dari ancaman orang lain.

Tiap orang berbeda untuk mendapatkan rasa aman. Hal ini dipengaruhi pengalaman. Dengan kata lain, jarak privasi yang dibutuhkan, ditentukan oleh lingkungan selama ini. Selain itu juga dipengaruhi oleh keterbukaan terhadap orang lain. Orang yang hidup di lingkungan yang akrab, penuh kehangatan, dan penerimaan akan menetapkan jarak yang tidak jauh dengan orang lain. Sebab, ia mudah merasa aman walaupun berdekatan dengan orang lain. Sebaliknya orang yang hidup di lingkungan yang kurang akrab, kurang penerimaan atau penuh konflik akan memasang jarak yang cukup jauh dengan orang lain untuk mendapatkan rasa aman.

Hidup perkawinan seharusnya mempersatukan suami istri. Sehingga tidak ada lagi jarak sosial atau emosional di antara keduanya, agar bisa mewujudkan hal tersebut tentu butuh waktu, penyesuaian, dan perubahan diri. Salah satu faktor penting yang berpengaruh adalah masa pacaran. Bila masa pacaran diwarnai oleh penerimaan terhadap kekurangan masing-masing, maka akan memberi rasa aman untuk membuka kekurangan atau kelemahan, serta kesalahan yang dilakukan, sehingga jarak sosial yang dipasangpun tidak akan jauh atau ruang privasi akan menyempit.

Kita belajar untuk menerima kondisi pasangan, termasuk teman sepergaulan, dan sebagainya. Dengan penerimaan ini, pasangan merasa diri diterima. Ia juga akan merasa aman untuk menyampaikan atau memperlihatkan diri seutuhnya. Di sisi lain, kita berusaha membuka diri seutuhnya juga kepada pasangan dengan kadang-kadang menunjukkan isi gawai sendiri kepada istri dan tidak memasang sandi, agar ia bisa membuka sewaktu-sewaktu.

Seseorang yang mau membuka diri apa adanya kepada orang lain akan merangsang mereka untuk juga membuka terhadap orang itu. Hal ini menunjukkan, orang bisa merasa aman dengan membuka diri terhadap orang lain dan sekaligus memberi contoh bagaimana bersikap terbuka terhadap orang lain.

Sebelum melakukan hal itu, sebaiknya Anda introspeksi diri terlebih dahulu mengenai motif untuk mengetahui isi handphone istri. Bila niat utama mencari kesalahan atau karena didorong kecurigaan dengan siapa saja sang istri berinteraksi, sebaiknya ubah dulu motivasi untuk membuka handphone istri. Bila tidak, tindakan itu sangat mungkin menjadi pemicu konflik dengan istri. Bila tindakan ini didasari keinginan untuk lebih mengenal istri dan lingkungan pergaulannya, maksud ini bisa diutarakan terlebih dahulu untuk memberi sinyal kepada sang istri bahwa Anda ingin lebih menyatukan diri dengan dia dan menerima lingkungan pergaulannya juga. Selamat mencoba.

George Hardjanta

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*