Artikel Terbaru

Stephanus Wahyu Widayat Jati: Dipanggil Jadi Sang Juara

Stephanus Wahyu Widayat Jati sedang melatih basket.
[NN/Dok.Pribadi]
Stephanus Wahyu Widayat Jati: Dipanggil Jadi Sang Juara
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaat SMP, ia diusir dari pertandingan sepak bola karena gemar berkelahi. Ia berganti haluan, memilih bola basket. Ia pun menorehkan prestasi, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Stephanus Wahyu Widayat Jati melompat kegirangan. Pelatih tim bola basket Cahaya Lestari Surabaya (CLS) Knights itu tak mampu menahan rasa senang. Betapa tidak, setelah mengarungi musim yang ketat, tim asuhannya berhasil menyabet mahkota juara Indonesian Basketball League (IBL) 2016, usai mengalahkan tim papan atas, Pelita Jaya.

Di awal musim, CLS Knights bukanlah favorit juara. Apalagi Wahyu baru menjalani debut sebagai pelatih kepala tim bola basket profesional ini. Namun Wahyu menjalani musim debutan yang nyaris sempurna. Tim asuhannya hanya kalah tiga kali sepanjang musim, dua di musim regular, satu kali di tiga laga final. Anak-anak asuhnya persis menyadari kontribusi penting Wahyu. Mereka mengarak Wahyu di Britama Arena Jakarta, tempat laga partai final, Mei silam. Trofi juara ini menjadi kado bagi CLS Knights yang Agustus ini genap berusia 70 tahun.

Delapan Mahkota
Wahyu mengenal bola basket kala duduk di bangku SMP. Perkenalan itu mungkin bisa dikatakan sebagai pelarian. Sejatinya, Wahyu remaja adalah penggemar sepak bola. Namun, gurunya melarang Wahyu bermain sepak bola karena nyaris tak ada laga sepak bola tanpa perkelahian. “Di dekat rumah ada sebuah SMP, di mana saya sering melihat teman-teman bermain basket. Akhirnya saya coba ikut dan akhir nya langsung jatuh cinta,” kenang ayah dua anak ini.

Sejak itu, Wahyu menggeluti olahraga basket hingga terlibat dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 1995 di Surabaya, Jawa Timur. Tak puas tergabung dalam tim basket sekolah, Wahyu bergabung dengan tim basket amatir, Mitra Guntur.

Suatu ketika, Mitra Guntur bermain melawan Tim Satria Muda Jakarta dalam laga uji coba. Laga ini digunakan Wahyu untuk unjuk gigi. Alhasil, Doedi Gambiro, pemilik Satria Muda menawari Wahyu bermain di tim senior Satria Muda yang baru terbentuk untuk mengikuti liga profesional Kobatama. Wahyu tak melewatkan kesempatan itu.

Selama 14 tahun, ia berhasil mempersembahkan enam kali gelar juara liga basket profesional Indonesia bagi tim elit ibukota itu. Kontribusinya begitu kentara. Wahyu beberapa kali meraih gelar individu untuk kategori top rebound, top steal, top assist, dan puncaknya Most Valuable Player (MVP) di final IBL 2004.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*