Artikel Terbaru

Maya Jadi Nyata

Maya Jadi Nyata
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejak saya mengenyam pendidikan di sebuah SMA Negeri di Jakarta, hidup saya mulai dipenuhi dengan jaringan pertemanan Friendster kala itu, lalu berkembang menjadi Facebook. Sebagai orang muda, rasanya senang bisa punya banyak teman baru dari berbagai belahan dunia, saling menyapa dan berbagi cerita. Saya mudah mendapatkan informasi apapun yang saya inginkan tanpa batas. Saya merasa beruntung karena mengenal internet saat usia remaja. Sedangkan pada masa ini, sejak balita pun gadget dan media sosial sudah diperkenalkan orangtua kepada anak-anak.

Saya melihat, kehadiran media sosial perlahan namun pasti menanamkan pola pikir serba instan. Segala hal yang kita perlukan bisa didapatkan dengan mudah dan cepat, dengan sedikit keringat dan perjuangan. Hal ini menjadi tantangan bagi orang muda Katolik untuk tetap melihat iman. Sebagai proses panjang, iman memerlukan pengolahan terus-menerus hingga akhirnya berbuah, dan bukan hanya karena taken for granted. Banyak orang muda yang apatis dan pasif apalagi jika sudah menyangkut relasi dengan Gereja. Meski demikian, saya melihat harapan yang pasti akan masa depan orang muda Katolik di Tanah Air.

Saya mengalami perubahan dalam pemanfaatan media sosial. Pemanfaatannya tidak melulu soal update status, pamer foto, dan komentar sanasini. Tak ada yang salah dalam hal ini, karena itulah tujuan media sosial dibuat. Namun dalam pemanfaatan media sosial, setiap kita dituntut jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Langkah ini dalam rangka membangun hubungan pertemanan yang positif dan berkelanjutan, sehingga yang kita posting tidak menjadi sesuatu yang kosong dan sia-sia.

Ketika saya bergabung ke dalam sebuah grup orang muda Katolik di Facebook, membuat saya memiliki banyak teman dan relasi. Saya menjadi banyak memiliki sahabat di dunia nyata. Iman saya pun mulai bertumbuh lewat banyak pertemanan yang positif. Untuk itulah, setiap orang muda dipanggil mewartakan apa yang baik, menjadi sumber inspirasi, dan semangat bagi sesama orang muda dalam membangun Gereja dan negara.

Seiring waktu, saya melihat peluang, meski ini berangkat dari keprihatinan. Ketika mayoritas orang muda menghabiskan waktu di gadget dan media sosial, saya mulai menggalang solidaritas dan kepedulian lewat media sosial. Dengan kata lain buatlah yang “maya” itu menjadi berdampak nyata dan bermanfaat.

Selama lima tahun terakhir lewat Facebook, website, Black Berry Messenger, dan Whatsapp, saya dan teman-teman orang muda relawan Program Peduli Gereja Katolik telah menggalang solidaritas sejumlah 14 miliar rupiah lebih. Dana ini digunakan untuk memperbaiki gereja-gereja (saat ini 81 gereja) di pedalaman Indonesia yang kondisinya sangat mengenaskan. Dalam perjalanan merintis kegiatan ini, kunci keberhasilannya adalah menjadi orang muda yang jujur, berintegritas, dan bisa dipercaya orang.

Ketika negara atau Gereja kita terkikis oleh korupsi dan kepentingan diri sendiri, jadilah pribadi yang langka dan berbeda. Dengan ini pastilah kita akan jadi pemenang. Membangun kepercayaan dan integritas lewat media sosial awalnya sangat sulit karena tidak saling mengenal. Namun akhirnya menjadi terbangun, karena secara konsisten mempertahankan kejujuran dan transparansi. Teman-teman relawan yang membantu saya mengelola Program Peduli Gereja Katolik hampir seluruhnya saya kenal melalui media sosial. Maka perjumpaan nyata, bertukar ide dan pikiran menjadi penting, tidak cukup mengenal lewat media sosial. Media sosial perlu dilihat sebagai sarana membangun kepribadian yang baik dan positif. Masih banyak hal-hal baik dan berguna yang dapat dilakukan orang muda Katolik lewat media sosial, namun menuntut kemauan dan kerja cerdas.

Albertus Gregory Tan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*