Artikel Terbaru

Ketidakpastian Informasi

Ketidakpastian Informasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ada akhir Juli lalu, muncul foto menarik yang beredar di media online. Di foto itu tam pak Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, datang mengunjungi kelompok ibu-ibu yang sedang melakukan aksi unjuk rasa damai melawan rencana pemerintah mendirikan pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Unjuk rasa itu terjadi dekat Istana Negara Jakarta, Minggu petang, 31 Juli 2016.

Mgr Suharyo mengunjungi lokasi unjuk rasa tanpa mengenakan jubah uskup. Ia berkemeja batik dan menyempatkan duduk di tenda yang dibangun ibu-ibu yang berunjuk rasa. Rencana, pembangunan pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng di Jalur Pantura Jawa wilayah timur mulai dari Kudus, Pati dan seterusnya menuju timur hingga kawasan utara Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sebuah gambar tentu memiliki beragam makna di benak sekian banyak orang yang melihat, begitu pula gambar Mgr Suharyo ini. Begitu gambar itu bertiup ke seluruh penjuru dunia melalui ruang media berbasis internet, baik itu media berita online, maupun media sosial, maka kecepatan gerak nya melintasi ruang dan waktu menjadi tidak tertahankan. Dalam waktu sekejap, komentar demi komentar menggelinding semakin besar dan kemudian menjadikan organisasi bernama Gereja Katolik menjadi sasaran penilaian, baik maupun buruk dari segenap penjuru dalam jumlah yang besar.

Semua kalangan, tanpa kecuali menjadi produsen kata-kata, berisi tudingan penuh kecurigaan. Adapula yang mengapresiasi perhatian Uskup Agung Jakarta sebagai representasi perhatian dan belarasa pemimpin formal berbasis agama. Sekalipun demikian, tidak sedikit pula yang mencurigai ada motif politik di balik bingkisan mie instan yang turut di bawa Mgr Suharyo.

Sejauh itu kecurigaan orang? Kecurigaan tersebut dapat dipahami mengingat Mgr Suharyo bukan hanya seorang Uskup Agung Jakarta, melainkan juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup bagi umat anggota Tentara Nasional Indonesia dan Polisi. Sehingga kehadiran Mgr Suharyo tidak hanya memiliki wajah sosial kemanusiaan, melainkan juga mengandung suasana politik, bersetuju dengan penolakan terhadap keputusan pemerintah untuk memberikan hak penambangan bagi perusahaan semen yang berencana beroperasi di kawasan Kendeng.

Kecurigaan itu semakin mengental ketika Mgr Suharyo kemudian menjelaskan mendapat undangan dari Presiden untuk mendiskusikan hal tersebut pada 2 Agustus 2016. Dalam dunia ilmu komunikasi, terutama terkait dengan komunikasi organisasi dan korporat, kecurigaan semacam ini merupakan potensi ancaman bagi organisasi seperti Gereja Katolik, terlebih ketika ada wacana tentang ketakutan umat bahwa Bapak Uskup dapat ditangkap karena berlawanan sikap dengan pemerintah. Hal ini disebut sebagai isu. Isu pada gilirannya bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan organisasi. Kelangsungan organisasi tidak hanya ditandai dengan eksistensi saja, tetapi juga kepercayaan publik kepada organisasi tersebut. Isu dapat bergulir menjadi ancaman yang disebut sebagai krisis.

Apa yang terjadi ketika isu tersebut menggelinding melalui media sosial dengan mekanisme “share” yang menjadi salah satu fitur khas media sosial? Merujuk Steven Fink (Puspitasari, 2016: 91) ketika sebuah informasi membanjiri ruang publik dapat menciptakan ketidakpastian. Ketidakpastian membuat publik mereka-reka yang sesungguhnya terjadi. Hal itu memunculkan beragam persepsi dan prasangka yang menimbulkan keresahan dan ketidakpercayaan kepada Bapak Uskup.

Maka, akan sangat baik jika Gereja terus-menerus mengkomunikasikan kepada publik. Setidaknya kepada umat Katolik melalui para imam tentang sikap belarasa yang menjadi nilai yang dianut Gereja. Gereja perlu terus menjelaskan bahwa sikap Bapak Uskup dilandasi semangat belarasa, agar dengan demikian umat bisa mengambil sikap untuk memberikan dukungan kepada Gereja. Dengan cara ini umat diminta untuk tidak menyangsikan motif-motif yang tersembunyi di balik aksi pemihakan kepada kelompok masyarakat Kendeng.

Puspitasari

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 39 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 25 September 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*