Artikel Terbaru

Perlakuan Benda Suci

Perlakuan Benda Suci
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.comMembaca Majalah HIDUP No. 16, 19 April 2015 yang bertemakan “Benda Suci, Jangan Buang Sembarangan,” bagaimana memperlakukan mobil, sepeda motor, rumah dengan semua perabot, alat-alat pertanian yang sudah diberkati, jika benda-benda itu rusak? Jika patung yang terbuat dari tanah liat itu rusak, apakah cukup dibakar atau ditanam saja? Apakah perlu didoakan?

Ervinna Hildarini, Jakarta

Pertama, baik kalau kita membedakan dua jenis pemberkatan. Pemberkatan pertama adalah yang mengubah secara tetap status benda itu dari tidak suci menjadi suci. Biasanya pemberkatan jenis ini dilakukan terhadap benda-benda yang dipakai dalam ibadat atau tindakan-tindakan keagamaan. “Pemberkatan-pemberkatan tertentu mempunyai arti tetap karena menahbiskan pribadipribadi untuk Allah atau mengkhususkan benda dan tempat-tempat tertentu untuk keperluan liturgi” (KGK 1672). Contohnya antara lain, air suci, rosario, salib, patung atau gambar kudus, minyak, juga daun palma, abu untuk Rabu Abu. Benda-benda ini lah yang disebut dengan benda rohani.

Kedua, pemberkatan kedua adalah yang memohon kan berkat atas orang, rumah, alat-alat transportasi, benda-benda bahkan kegiatan tertentu, tetapi tidak mengubah status benda itu secara tetap menjadi suci. Contoh pemberkatan ini, misal anak-anak yang diberkati sesudah komuni, rumah, kendaraan, makanan. Benda-benda yang sudah diberkati ini tidak disebut sebagai benda rohani, karena status benda itu tidak berubah. Penjelasan tentang Sakrarium (HIDUP No. 16, 19 April 2015) berlaku untuk benda-benda rohani dari pemberkatan yang pertama. Maka, jika mobil, sepeda motor, rumah, alat pertanian, serta yang lain, yang sudah diberkati itu rusak, tidak perlu memperlakukan seperti benda-benda rohani. Jika benda-benda ini rusak dan ada perbaikan yang meliputi bagian yang lebih besar, benda-benda ini bisa dimintakan berkat ulang.

Ketiga, benda-benda rohani harus diperlakukan secara hormat sekalipun benda-benda itu sudah rusak atau harus dibuang. Cara pembuangan meliputi dua tahap, yaitu pertama menghancurkan bentuk dan rupanya, misal jika ada hosti yang rusak, maka sebaiknya tidak dibuang begitu saja dalam rupa hosti ke dalam sakrarium, tetapi merendam terlebih dahulu ke dalam air sehingga hancurlah bentuk hosti itu. Baru kemudian air larutan tepung hosti itu dibuang di sakrarium. Demikian pula, gambar atau buku yang rusak sebaiknya dihancurkan dahulu yaitu dengan disobek kecil-kecil sampai tak berbentuk, baru kemudian dibakar. Jika pembakaran bisa dilakukan secara sempurna sampai menghancurkan segala bentuk gambar dan tulisan, maka tidak perlu disobek terlebih dahulu. Patung yang terbuat dari tanah liat, kaca atau logam tidak akan hancur karena di bakar. Maka sebaiknya patung itu dihancurkan terlebih dahulu dengan palu atau sarana lain, kecuali jika patung terbuat dari bahan yang mudah dan hancur karena dibakar.

Tahap kedua ialah membuang sisa-sisa bahan dari benda-benda suci itu. Pembuangan tidak boleh sembarangan, artinya disatukan bersama dengan sampah yang lain. Karena itu diperlukan sakrarium sebagai tempat pembuangan atau jika tidak ada, sisa-sisa itu bisa dikubur kan atau ditanam di tanah. Tentu tujuannya ialah bahwa sisa bahan benda suci itu akan kembali terurai menjadi tanah. Pemikiran yang dianut mirip dengan pemakaman. Seluruh proses ini harus dilakukan dengan hormat.

Keempat, jika kita melihat pembuangan itu mirip dengan pemakaman, maka kita bisa mengandaikan bahwa setiap kali pembuangan benda-benda rohani itu dilakukan, tentu akan sangat baik jika disertai dengan doa seperti ketika kita menguburkan jenazah seseorang. Doa ini perlu dilakukan bukan hanya oleh imam, tetapi juga oleh awam yang melakukan pembuangan. Inti doa ialah bersyukur dan berterima kasih atas sarana rohani yang sudah diberikan dan kini sarana-sarana rohani itu dikembalikan kepada Sang Pencipta alam semesta.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 23 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 5 Juni 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*