Artikel Terbaru

Ayah Tukang PHP

Ayah Tukang PHP
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaya Rinto dari Makasar, saya sangat kecewa dengan ayah yang sering menjadi Pemberi Harapan Palsu (PHP). Sewaktu mendekati ujian semester, ayah berjanji bila nilai saya bagus akan dibelikan laptop baru untuk saya. Karena saya tidak punya laptop, juga mengingat jurusan yang saya ambil mewajibkan menggunakan laptop. Saya berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tetapi setelah itu, ayah tak kunjung membeli laptop. Berapa kali diminta selalu banyak alasan. Apa yang harus saya buat? Terima Kasih.

Rinto, Makasar

Salam kenal untuk Rinto. Sebagaimana pepatah mengatakan, janji adalah hutang sehingga harus dibayar. Oleh karenanya, jangan mudah membuat janji bila tak mungkin ditepati. Itu hanya membuat kecewa orang lain.

Teknik memberikan insentif seperti hadiah sebagai iming-iming agar seseorang termotivasi belajar adalah suatu hal yang umum dilakukan. Alasannya, semua orang suka diberi hadiah, apalagi hadiah itu sangat berharga. Hadiah diperlukan, khususnya untuk membentuk perilaku tertentu. Walau demikian, bentuk “hadiah” tak sebatas barang semata. Hadiah juga bisa berupa aktivitas yang bisa dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah. Misal, menonton di bioskop, piknik bersama, memancing dan ragam aktivitas hobi lainnya. Selain itu, hadiah bisa berbentuk pujian. Ungkapan bahwa “kamu anak hebat” dan “luar biasa” adalah salah satu manifestasi hadiah dalam bentuk lain.

Tujuan awal dari janji diberi hadiah adalah untuk meningkatkan perilaku yang baik. Dalam kasus ini adalah meningkatkan prestasi belajar. Kenapa perlu ada hadiah? Ini dikarenakan sumber motivasi belajarnya bukan berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik), tapi lebih bersumber dari luar diri (motivasi ekstrinsik); kurang memiliki greget untuk memberikan yang terbaik dan usaha maksimal; kurang ada kebutuhan dasar untuk belajar dan berprestasi sehingga perlu ada iming-iming hadiah.

Dalam kasus Rinto, mungkin ayah memandang, Rinto harus diiming-imingi hadiah dahulu baru tergerak untuk belajar lebih giat. Artinya, sumber motivasinya harus dari luar diri, yaitu ingin mendapat hadiah. Akibatnya, strategi ini digunakan ayah untuk memacu semangat belajarmu. Hanya problem muncul ketika ayah tidak konsisten dengan janjinya sehingga mendapat julukan PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk memastikan bahwa ayah tidak sekadar janji dan punya komitmen yang kuat akan janjinya adalah pembuatan kontrak secara tertulis, disetujui dan ditandatangani kedua belah pihak. Di dalam kontrak itu disebutkan target atau tujuan perilaku yang diharapkan ayah untuk dicapai anak dan hadiah yang akan didapat anak jika target tercapai. Memang rasanya aneh dan kurang etis, tapi dalam konsep teoritisnya, ini memang diperlukan untuk memastikan komitmen dua pihak. Kualitas hadiah yang didapat sebaiknya setara dengan usaha yang dibutuhkan untuk mencapai target. Semakin besar usaha yang dibutuhkan, “kualitas” hadiahnya juga semakin besar, begitu pula sebaliknya.

Faktor lain yang juga perlu disepakati adalah kedua pihak harus bersikap realistis dalam menentukan target perilaku dan jenis hadiahnya. Ayah juga harus mempertimbangkan kemampuan untuk menepati janjinya jika target anak tercapai. Sebuah kontrak perilaku mudah untuk dibuat dan dapat memecahkan problem di atas.

Sebagai seorang pelajar, Rinto juga perlu memahami tanggung jawab dan kewajiban pribadi–di samping hak–sehingga tidak semua perilaku harus ditransaksikan antara orangtua dengan anak. Langkah yang lebih bijak adalah kerjasama antara ayah–anak agar bisa membeli laptop. Misal, dengan aktivitas menabung. Bentuk hadiahnya berupa tabungan dengan nominal tertentu dan bila mampu menjaga stabilitas prestasi, tentu tabungannya juga semakin banyak. Tujuan akhirnya tetap untuk membeli laptop, hanya butuh kesabaran dan ketekunan, berproses untuk mendapatkannya. Demikian tanggapan pengasuh, semoga bermanfaat dan salam hangat untuk Rinto. Berkah Dalem.

Praharesti Eryani

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 23 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 5 Juni 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*