Artikel Terbaru

Mendorong Kerasulan Literasi

[parentingoc.com]
Mendorong Kerasulan Literasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Salah satu warisan “maha penting” para orang tua kepada anak adalah kebiasaan membaca. Mengapa? Karena kegemaran membaca bisa menjadi modal penting bagi anak dalam mengarungi masa depan. Anak yang gemar membaca, hanya memerlukan sedikit sentuhan improvisasi kreatif untuk mandiri. Tidak sulit lagi mengarahkan dia menjadi penulis. Ima jinasi dan pengetahuannya sudah kaya. Akalnya panjang, luas dan dalam serta lebih matang dibanding anak-anak lain.

Yang sering dikeluhkan adalah kurangnya bacaan. Siapa bilang? Dengan keadaan minat baca yang rendah, kita sama sekali tidak kekurangan bacaan. Apalah gunanya bacaan ber lim pah jika anak-anak kita tidak memiliki minat baca? Bacaan-bacaan itu akan teronggok begitu saja sampai akhirnya hancur dimakan ngengat lalu dibuang. Banyak anak dekat dengan aneka bacaan, namun tidak memiliki keinginan membaca karena tidak dibiasakan.

Dengan begitu, yang perlu dibenahi adalah minat baca. Orangtua dan kemudian anak harus merasa memetik manfaat dari membaca baru mereka mau membaca. Maka yang perlu dilakukan adalah kampanye tentang manfaat membaca. Hal ini harus dilakukan dengan intensif disertai contoh keuntungan konkret dari membaca itu.

Kebanyakan dalam keluarga dan sekolah, membaca atau ajakan membaca tak ubahnya ajakan kosong. Mereka yang mengajak (kalau toh mereka ajak) baik orangtua maupun guru, sama sekali tidak menunjukkan minat baca apalagi bisa menunjuk secara konkret keuntungan dari membaca. Guru di sekolah, untuk pelajaran bahasa Indonesia atau pelajaran lain, acap menyuruh anak membuat klipping. Setelah anak-anak membuat dan mengumpulkan, klipping-klipping itu hanya di tumpuk tanpa bermanfaat sedikit pun untuk anak, juga untuk guru yang bersangkutan. Mestinya, melalui tugas tersebut, guru bisa memicu rasa ingin tahu anak didik untuk membaca.

Hemat saya, hasil survei UNESCO pada 2011 yang menempatkan tingkat membaca masyarakat Indonesia pada angka 0,001 persen, melulu bukan karena ketidaktersediaan buku, tapi terutama karena banyak orang Indonesia yang tidak mau, atau tidak suka membaca. Bayangkan, bacaan sepanjang empat layar ponsel android saja sudah dianggap kepanjangan.

Maju Karena Membaca
Sangat benar bahwa negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan lain-lain maju karena masyarakatnya banyak membaca. Namun yakinlah, mereka tidak serta-merta gemar membaca. Mula-mula mereka melihat ada manfaat dari membaca, lalu muncul rangsangan, kemudian memburu bacaan. Setelah, atau bersamaan dengan itu, untuk menjawab kebutuhan yang ada, pemerintah menyediakan bacaan melalui berbagai regulasi, semisal undang-undang tentang perbukuan.

Tentu saja kita tidak perlu kembali ke cara-cara negara maju pada ratusan tahun lalu saat mereka mulai memacu minat baca warganya. Indonesia sudah maju sedemikian rupa. Penyediaan buku dan upaya memacu minat baca harus dilakukan secara sinergis. Yakinlah, bukan karena bacaan tersedia lalu minat baca muncul, tapi bagaimana orang mendapat manfaat dari membaca. Itulah yang membuat orang mau membaca.

Yakinkanlah pula, dengan banyak membaca, anak selalu terangsang untuk bertanya “mengapa dan bagaimana”. Kedua kata tanya tersebut merupakan alat picu bagi mereka untuk masuk ke alam pengetahuan amat luas. Dari sini nantinya akan muncul penulis-penulis berbakat yang bisa mewarnai dunia.

Hemat saya, Gereja jangan terlalu sibuk membangun gedung ibadah yang megah-megah atau gua Maria yang hebat, tapi bangunlah juga gedung perpustakaan dan lengkapi dengan buku-buku berkualitas dan bersamaan dengan itu kondisikan umat atau kaum muda untuk akrab dengan perpustakaan itu dan mau membaca. Adakan berbagai kegiatan yang mengajak anak-anak menggemari kebiasaan membaca. Pasti banyak dari umat yang mau menyumbang buku jika melihat perpustakaan itu berguna. Para Pastor pun perlu mengingatkan tak henti pentingnya membaca. Inilah yang namanya “kerasulan literasi”.

Emanuel Dapa Loka, Ketua Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 23 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 5 Juni 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*