Artikel Terbaru

Berziarah, Bertobat, Berbagi

Adrianus Sunarko OFM
[HIDUP/Y. Prayogo]
Berziarah, Bertobat, Berbagi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Praktik berziarah mengajak kita menyadari bahwa kehidupan ini adalah sebuah peziarahan. Berziarah bisa menjadi ungkapan syukur, tapi juga sekaligus ungkapan pertobatan.

Bulla Paus Fransiskus yang membuka Tahun Suci Kerahiman Allah, Misericordiae Vultus, di nomor 14 bicara secara khusus tentang ziarah dalam rangka Tahun Kerahiman Allah. “Paus mengungkapkan bahwa praktik peziarahan mendapat tempat spesial dalam Tahun Kerahiman Allah,” ujar pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Dri yarkara Jakarta Romo Adrianus Sunarko OFM. Ditemui pada Kamis pekan lalu, Anggota Tim Perumus Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2016-2020 ini juga mengungkapkan sikap dasar dan buah-buah rohani yang hendak dicapai dalam gerakan peziarahan pada Tahun Kerahiman Allah. Berikut petikannya:

Romo, bagaimana keterkaitan ziarah dengan Kerahiman Allah?

Secara umum peziarahan itu melekat dalam hidup manusia. Dalam prinsip orang beriman, seluruh hidup kita adalah sebuah peziarahan (homo viator) menuju ke tujuan yang hendak dicapai. Paus pun mengatakan bahwa untuk mencapai Pintu Suci di Roma atau gereja-gereja lain yang telah ditetapkan, orang sesuai dengan kemampuan perlu mengadakan peziarahan. Itu menjadi tanda bahwa untuk mencapai kerahiman diperlukan pengabdian dan pengorbanan. Tentu dalam rangka Tahun Kerahiman Allah, praktik peziarahan ini diharapkan mendorong umat melakukan pertobatan.

Bagaimana hal itu dapat dijelaskan dengan lebih rinci?

Dalam peziarahan ini diharapkan umat semakin menyadari bahwa ia telah mendapatkan rahmat kerahiman dari Allah secara cuma-cuma, maka ia mestinya bermurah hati membagikan kepada sesama. Peziarahan juga bisa dijadikan sarana menemukan kembali kekuatan untuk menerima Kerahiman Allah, sekaligus membagikan kemurahan itu kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan berdosa.

Paus menunjukkan sikap batin yang mesti dihayati dan diungkapkan dalam praktik peziarahan ini. Paus mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah menunjukkan langkah-langkah peziarahan. Langkah pertama adalah jangan menghakimi atau menghukum. Allah kita adalah Allah yang tidak menghukum atau menghakimi.

Langkah berikut adalah mengampuni serta memberi kepada orang lain. Logikanya, ketika kita sudah menerima dari Allah, maka kita juga harus memberikan kepada sesama. Kita sudah mengalami rahmat Kerahiman Allah, maka kita diajak mengampuni dan memberi kepada orang lain.

Apakah beda dengan peziarahan pada umumnya?

Ada yang sama, ada yang beda. Sama-sama berziarah, umat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Bedanya, peziarahan kali ini diberi kerangka Kerahiman Allah.

Ada ungkapan bahwa peziarahan ini untuk mendapatkan indulgensi. Bagaimana menurut Romo?

Bisa dimengerti dalam arti bahwa ia menyadari dirinya berada dalam keberdosaan, sehingga mengharapkan rahmat pengampunan atau indulgensi. Hanya memang harus berhati-hati. Jangan sampai diartikan bahwa seolah-olah Kerahiman Allah itu ditentukan oleh tindakan kita. Seolah-olah Allah baru akan mengampuni, jika kita melakukan ini dan itu. Menurut saya, keliru jika berpandangan bahwa indulgensi itu bisa “dibeli” dengan berbagai tindakan atau jasa kita. Ini bukan pandangan kristiani. Karena pada prinsipnya Allah sudah mengasihi dan penuh kerahiman, meskipun kita selalu berdosa. Tanpa jasa apapun dari kita, Allah sudah mengasihi kita.

Maka praktik peziarahan itu bisa menjadi ungkapan syukur; bersyukur atas rahmat Kerahiman Allah. Atau bisa juga menjadi ungkapan pertobatan; menyadari sebagai orang yang berdosa yang telah mengalami kasih dari Allah. Menurut saya, jika seseorang mengalami Kerahiman Allah, ia pasti akan tergerak untuk membagikan kepada orang lain.

Bagaimana setelah Tahun Kerahiman Allah ini selesai?

Harapannya gerakan-gerakan rohani terus berlanjut, tidak berhenti pada tahun ini saja. Maka, harus terus dicari bentuk-bentuk kegiatan umat yang berkelanjutan.

Y. Prayogo

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 22 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 29 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*