Artikel Terbaru

Menghormati Sakramen Mahakudus

Menghormati Sakramen Mahakudus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHampir setiap hari saat berangkat kerja, saya melakukan adorasi Sakramen Mahakudus selama 15 menit di gereja paroki. Dengan bekal adorasi ini, hati saya mantap bekerja. Tetapi ketika saya berlibur di rumah orangtua di desa, saya tak bisa melakukan adorasi karena di desa itu tidak ada gereja atau kapel. Bolehkah saya membawa Sakramen Mahakudus dari gereja untuk ditempatkan di meja altar di rumah kami yang biasa digunakan untuk perayaan Ekaristi, sehingga saya bisa melakukan adorasi Sakramen Mahakudus?

Fransiska Jumaiyah, Malang

Pertama, sungguh luhur kerinduan Anda untuk melakukan adorasi Sakramen Mahakudus setiap hari. Namun kerinduan ini saja tidaklah memadai sebagai alasan untuk menyimpan Sakramen Mahakudus di rumah, biarpun rumah itu sering digunakan sebagai tempat merayakan Ekaristi. Kitab Hukum Kanonik mengatur, “Tak seorang pun diperbolehkan menyimpan Ekaristi suci di rumahnya atau membawanya dalam perjalanan, kecuali ada kebutuhan pastoral yang mendesak dan dengan tetap mengindahkan ketentuan-ketentuan Uskup Diosesan.” (KHK Kan 935).

Untuk menggambarkan sikap tegas Gereja menghormati Sakramen Mahakudus, bahkan juga dalam biara-biara, Sakramen Mahakudus tidak boleh disimpan di sembarang tempat atau ruangan, tetapi harus ditempatkan di dalam Gereja atau ruang doa utama. Perubahan penempatan haruslah dilakukan seizin Uskup. KHK Kan 936: “Dalam rumah tarekat religius atau rumah kesalehan lain, Ekaristi mahakudus hendaknya disimpan hanya dalam gereja atau ruang doa utama dari rumah itu; tetapi atas alasan wajar Ordinaris dapat juga mengizinkan untuk disimpan dalam ruang doa lain dari rumah itu.”

Kedua, peraturan Gereja ini dimaksudkan untuk menjaga penghormatan yang selayaknya diberikan kepada Sakramen Mahakudus, baik dalam perjalanan maupun dalam penyimpanannya. Gereja menghindari pelecehan terhadap Sakramen Mahakudus yang mungkin saja diperlakukan seperti barang-barang biasa. Gereja mengimani bahwa Yesus Kristus hadir dalam rupa hosti yang sudah dikonsekrasikan itu. Karena itu, Sakramen Mahakudus juga harus diperlakukan dengan penghormatan yang tertinggi seperti jika kita menghormati Tuhan Yesus. Pelecehan terhadap barang-barang yang sudah dikuduskan, terlebih Sakramen Mahakudus, disebut profanasi (bdk. KHK kan. 938 # 3).

Ketiga, penghormatan kepada Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus juga harus dilengkapi dengan lampu khusus atau lilin yang tetap bernyala untuk menandakan dan menghormati kehadiran Kristus (KHK kan. 939). Juga ketika Sakramen Mahakudus dipindahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain, selalu harus ada sebuah lilin bernyala sebagai tanda kehadiran Yesus Kristus dalam
Sakramen Mahakudus itu.

Jika dalam perayaan Ekaristi, imam selebran lupa mencampurkan air ke dalam anggur, apakah perayaan Ekaristi itu sah? Apakah tetap terjadi perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus? Apakah anggur yang dipakai haruslah anggur merah?

Katarina Dyah, Pontianak

Pertama, air tidak termasuk substansi dari Ekaristi. Kelupaan mencampurkan air tidak menghambat perubahan transubstansiasi, yaitu perubahan roti menjadi tubuh Kristus dan anggur menjadi darah Kristus. Jadi, perayaan Ekaristi itu tetap sah meskipun imam selebran lupa mencampurkan air ke dalam anggur.

Kedua, anggur yang dipakai tidak harus anggur merah. Juga anggur putih boleh dipakai. Yang penting harus dijaga agar anggur itu murni, artinya tidak dicampur dengan hal-hal lain. Di beberapa keuskupan, untuk menjamin kemurnian anggur, ada ketetapan bahwa anggur yang digunakan haruslah anggur yang dijual resmi Gereja setempat. Di Italia, anggur yang diminum sehari-hari bisa digunakan untuk anggur Misa.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 22 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 29 Mei 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*