Artikel Terbaru

”Janda” Ingin Menikah Lagi

old ageing female hands, memories; Shutterstock ID 2863431; PO: aol; Job: production; Client: drone
”Janda” Ingin Menikah Lagi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDengan hormat, Bersama surat ini saya masih ingin bertanya tentang masalah yang dulu pernah dimuat di majalah HIDUP No 12 Tahun ke 59: 20 Maret 2005.

 
Perkawinan saya dilakukan/diberkati oleh pastor. Kini usia ’perceraian’ saya sudah memasuki 7 tahun. Kami berpisah karena dia terus menerus membohongi saya dalam soal apa pun termasuk ekonomi keluarga, sehingga terjadi pertengkaran setiap hari. Akhirnya saya yang meminta padanya untuk berpisah.
 
Sudah kesekian kalinya saya mencoba menghadap pastor kepala paroki, namun rasanya usaha itu sia-sia saja. Belum lama ini kami dipanggil secara bersamaan, tapi di depan pastor paroki dia tidak mau mengakui bahwa dia telah menikah lagi sejak berpisah dengan saya dan telah mempunyai dua putri.
Saya sudah berusaha memberitahunya agar dia berkata jujur, tetapi dia malah menuduh saya hendak mempermalukan dia. Dengan kata lain seolah-olah dia yang bersalah dan mengancam tidak akan datang lagi jika ada panggilan.
 
Sewaktu saya bertanya di luar sidang, dia menjawab bahwa jawaban jujur adalah percuma dan tidak ada artinya, karena masalah kami akan semakin
panjang dan rumit.
 
Yang sekarang menjadi pertanyaan saya, harus bagaimanakah saya? Solusi yang diberikan pastor kepala hanya menilik pada masa-masa pranikah dan tidak adanya masalah sewaktu menikah (menurut pastor tidak akurat alasan kami untuk mengurus perceraian).
 
Padahal kenyataannya dia sudah mempunyai keluarga lagi dan selama berpisah dia tidak bertanggungjawab atas nafkah anak kami. Saya jadi bingung harus bertindak apalagi? Adilkah itu bagi saya? Mengingat sekarang saya sudah mempunyai pengganti yang sudah bersedia masuk Katolik dan sudah dibaptis, dengan harapan kami dapat menikah dan diberkati di Gereja Katolik. Tetapi mengingat masalah di atas, bisakah saya menikah lagi di Gereja dan tetap menerima tubuh Kristus (hosti)?
 
Atas jawaban dari Romo saya ucapkan banyak terimakasih.
Maya, Jakarta
Pastor Dr Al. Purwa Hadiwardaya MSF: Ibu Maya yang baik, Saya dapat memahami kebingungan ibu terhadap sikap pastor kepala di paroki ibu. Tetapi, ibu juga perlu memahami bahwa pastor kepala tersebut juga harus taat kepada Hukum Gereja Katolik. Semua pastor berada di bawah, bukan di atas hukum gereja. Di bawah ini saya sampaikan lagi beberapa ketentuan hukum gereja yang mungkin terkait dengan masalah ibu.
A. Perkawinan dua orang terbaptis:
Perkawinan antara dua orang merupakan sebuah perkawinan sah dan sekaligus sebuahperkawinan sakramen bila pada waktu menikah kedua mempelai sudah terbaptis secara sah, tidak terkena halangan nikah, tidak cacat kesepakatan nikahnya, dan telah mengucapkan janji-nikah mereka di hadapan seorang pastor dan dua saksi.
Pimpinan Gereja Katolik tidak mau/mampu menceraikan suami-istri bila perkawinan mereka itu merupakan perkawinan sah dan sekaligus perkawinan sakramen, serta sudah mereka sempurnakan dengan
hubungan seks.
Maka, kalau pun suami-istri terbaptis itu sudah diceraikan oleh pengadilan sipil, secara yuridis suami istri terbaptis itu masih dianggap oleh pimpinan Gereja Katolik sebagai suami-istri.Perceraian oleh negara maupun oleh agama-agama lain tidak diakui oleh Gereja Katolik.
Karena itu, selama suami/istrinya masih hidup, seorang duda/janda cerai tidak akan pernah mendapat izin dari pimpinan Gereja Katolik untuk menikah lagi
secara Katolik (dengan siapa pun).
Selama duda/janda cerai itu masih hidup sendirian, ia masih diizinkan untuk menerima sakramen-sakramen, termasuk komuni. Tetapi kelak, bila ia menikah
lagi di luar Gereja, pada prinsipnya ia tidak diizinkan menerima komuni.
Meskipun demikian, ia boleh mencoba meminta kebijakan tertentu dari bapak Uskup setempat. Bapak Uskup mempunyai beberapa wewenang yuridis yang tidak dimiliki oleh pastor-pastor yang biasa.
B. Perkawinan beda-agama:
Perkawinan antara seorang Katolik dan seseorang yang belum dibaptis merupakan sebuahperkawinan yang sah bila waktu menikah kedua mempelai sudah mendapat dispensasi dari halangan nikah beda-agama, tidak cacat kesepakatan nikahnya, dan menikah di hadapan seorang pastor dan dua saksi. Meskipun demikian, perkawinan mereka itu bukan sebuah perkawinan sakramen.
Suami-istri beda-agama semacam itu masih dapat diceraikan oleh Paus di Roma bila beliau berkenan melakukan hal itu. Wewenang itu dimiliki oleh Paus
di Roma karena beliau adalah pengganti Petrus, yang mendapat kuasa khusus dari Tuhan Yesus sendiri, seperti terungkap dalam Injil Matius pasal 16 ayat 19.
Meskipun demikian, perlu dicatat dua hal berikut. Pertama, bahwa proses perceraian semacam itu biasanya memakan waktu yang lama. Kedua, bahwa
Paus tidak selalu berkenan menceraikan pasangan suami-istri meskipun mereka berdua berbeda agama.
Barulah setelah ia diceraikan oleh Paus dari suami/istri yang tidak-Kristen itu, pihak Katolik dapat menikah lagi secara sah di depan seorang pastor dan dua saksi.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan Hukum Gereja Katolik di atas, inilah tanggapan saya atas masalah yang ibu ajukan.
Kemungkinan pertama, bila waktu menikah ibu Maya maupun mantan-suami sudah sama-sama dibaptis secara sah: pastor tidak akan pernah bisa menikahkan ibu lagi secara Katolik, selama mantansuami ibu itu masih hidup.
Kemungkinan kedua, bila mantan-suami ibu belum pernah dibaptis secara sah: pastor baru akan bisa menikahkan ibu lagi secara Katolik, setelah Paus di Roma berkenan menceraikan ibu dari mantan suami ibu.
Selain itu, masih ada satu kemungkinan lain lagi. Karena mantan-suami ternyata suka berbohong, boleh diselidiki kalau-kalau sebelum dan ketika menikah dengan ibu pun dia berbohong kepada ibu. Ibu bisa saja meminta kepada pastor paroki untuk menyelidiki kemungkinan itu. Bila ada tanda-tanda bahwa mantan-suami ibu sudah sejak dulu membohongi ibu, hal-hal berikut layak ibu perhatikan.
1. Sebuah perkawinan dapat dinyatakan tidak sah bila terbukti bahwa ketika menikah sebenarnya ada halangan perkawinan yang belum di-dispensasi oleh pimpinan Gereja Katolik. Halangan-halangan perkawinan ialah: impotensi yang tak-tersembuhkan; hubungan saudara kandung antara kedua mempelai;
ikatan dari perkawinan sah sebelumnya; tahbisan suci; beda agama; usia terlalu muda; hubungan saudara dekat; dan sebagainya.
2. Sebuah perkawinan juga dapat dinyatakan tidak sah bila terbukti bahwa ketika menikah sebenarnya salah satu atau kedua mempelai mengucapkan janji nikah yang cacat. Suatu janji nikah adalah cacat, misalnya bila janji nikah itu hanya ada di bibir saja, sama sekali berbeda dengan isi hati mempelai yang mengucapkannya.
3. Sebuah perkawinan juga dapat dinyatakan tidak sah bila terbukti bahwa kedua mempelaimenikah dengan cara yang tidak benar. Cara menikah seorang Katolik adalah tidak benar, misalnya bila ia tidak menikah di hadapan seorang pastor Katolik.
Perlu ibu ketahui, bahwa pihak yang berhak membatalkan perkawinan adalah Tribunal Keuskupan di keuskupan di mana ibu tinggal. Tentang hal itu, silakan
ibu berkonsultasi dengan pastor paroki ibu. Selain itu, perlu ibu perhatikan bahwa di dalam Hukum Gereja Katolik, membatalkan perkawinan berarti
menyatakan tidak sahnya perkawinan. Maka membatalkan perkawinan bukan berarti menceraikan! Semoga penjelasan-penjelasan ini berguna!

Pastor Dr Al. Purwo H. MSF

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 6 Tanggal 11 Februari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*