Artikel Terbaru

Beato Clemente Vismara PIME: Pastor Pembangunan Mong Ping

Pater Clemente Vismara berkeliling pedalaman Myanmar dengan rakit.
[digilander.libero.com]
Beato Clemente Vismara PIME: Pastor Pembangunan Mong Ping
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSeluruh hidupnya ia melayani umat kecil di pedalaman Myanmar. Ia dijuluki “Pastor Pembangunan” di daerah misi yang dinilai mustahil berkembang.

Mong Ping, Myanmar adalah daerah yang mustahil berkembang bagi misi Katolik. Itulah yang dirasakan para misionaris Pontifical Institute for Foreign Missions (PIME). Daerah itu berupa lembah, yang diselimuti pegunungan tinggi. Perang antarkasta kian menjauhkan Mong Ping dari kesan damai. Di seantero wilayah itu, masyarakat saling membunuh. Anak-anak dan kaum perempuan dijual atau dijadikan budak.

Membuka misi di Mong Ping, sama saja bunuh diri. Tak terbayang bagaimana membangun infrastrukturnya; pun bagaimana menangani kekerasan di sana. Mong Ping sungguh terlihat mustahil sebagai sebuah target misi Gereja. Tantangan besar juga datang dari penganut agama Budha.

Berbeda dengan misi di Mong Lin, yang menuai sukses. Keberhasilan misi ini tak lepas dari kerja keras Pater Clemente Vismara PIME. Melihat hal itu, Uskup Kengtung Mgr Fernando Guercilena PIME (1899-1973) mengutusnya bermisi ke Mong Ping. Di tengah kebimbangan, Pater Clemente sempat pulang kampung ke Italia untuk mengumpulkan dana misi, berziarah dan retret. Lalu ia pun bermisi ke Mong Ping. Pastoral kehadiran yang dipraktikkannya mampu mempertobatkan warga Mong Ping.

Di sana, Pater Clemente mengajari umat keterampilan-keterampilan dasar, seperti memasak, menyulam, menanam padi, dll. Berkat kerja kerasnya, Mong Ping menjadi daerah yang maju pesat, bahkan terkenal sebagai penghasil imam hingga kini. Ia bermisi di Myanmar selama 65 tahun, dan wafat di sana pada usia 90 tahun. Ia dikenang sebagai “Pastor Pembangunan” dan penyayang anak-anak.

Panggilan Imamat
Clemente Vismara, bungsu dari lima bersaudara pasangan Attilio Egidio Vismara dan Stella Annunziata Porta, lahir di Agrate Brianza, daerah Lombardia, Italia, 6 September 1897. Keluarganya hidup miskin. Tak heran, ia menghabiskan masa kecil dalam keadaan serba seadanya. Penghasilan Attilio sebagai tukang jahit harus cukup untuk menafkahi lima anak. Sementara, Stella seorang ibu rumah tangga saleh.

Saat usia lima tahun, ibunya meninggal dunia, 22 September 1902. Clemente lalu diasuh keempat kakaknya karena sang ayah harus mencari nafkah. Di mata anak-anaknya, Attilio tak hanya ayah yang berjuang mencari nafkah, tapi juga berperan sebagai ibu yang berperasaan halus. Ia tak pernah menolak permintaan anak-anaknya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*