Artikel Terbaru

St Archangelo Tadini: Pastor Cacat, Santo Bagi Pekerja Perempuan

Pastor Archangelo Tadini.
[arcangelotadini.it]
St Archangelo Tadini: Pastor Cacat, Santo Bagi Pekerja Perempuan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDipandang sebelah mata oleh umat karena cacat, ia berhasil mengembangkan kualitas iman dan perekonomian umatnya pasca Revolusi Industri.

Pastor Archangelo Tadini ditolak umatnya ketika ditugaskan sebagai Pastor Paroki di Botticino Sera, Brescia, Italia Utara. Alasannya, pastor ini cacat permanen di kaki kirinya. Pastor berperawakan kurus dan tinggi ini berjalan timpang dan kadang harus menggunakan tongkat.

Umat berpikir, seorang gembala yang cacat tidak mungkin bisa menggembalakan paroki yang sebagian besar umatnya adalah tunawisma akibat Revolusi Industri (1750-1850). Umat butuh imam yang sehat, bukan sakit-sakitan. Seorang imam di Botticino Sera harus siap berjibaku mengangkat ekonomi umat. Umat menuntut janji kepada pastor bisa mengeluarkan mereka dari kemiskinan.

Pastor Archangelo menyetujui perjanjian itu. Ia berjuang dan terus melayani umatnya. Ia memulai karyanya dengan membantu tunawisma dan perempuan agar bisa bekerja. Ia membuka pabrik pemintalan modern khusus kaum hawa. Ia juga mendirikan asuransi bagi orang sakit, cacat, tunawisma dan lanjut usia. Selain itu, dengan hasil pabrik, ia mendirikan perumahan layak huni bagi umatnya.

Lambat laun, karyanya menarik simpati umat parokinya. Kehadiran pabrik pemintalan dan asuransi kesehatan itu mendongkrak kemampuan keuangan umat. Mereka mulai menghadiri Misa dan mendengarkan khotbahnya. Ia melatih Misdinar, Paduan Suara, memberi katekese dan melayani penerimaan Sakramen. Banyak orang rela mengantre di depan ruang pengakuan. Paroki pun menjadi hidup lagi.

Imam Cacat
Archangelo Tadini tumbuh dari keluarga Katolik saleh. Sulung dari empat bersaudara ini lahir di Verolanuove, Brescia, Italia Utara, 12 Oktober 1846. Kondisi finansial keluarga tak berkecukupan sehingga ia terpaksa masuk seminari agar bisa mengenyam pendidikan bebas biaya.

Angelo menjalani masa remaja penuh derita akibat kecelakaan. Kaki kirinya pincang. Dokter memvonis, kaki kirinya tak bisa digerakkan
lagi karena sebagian urat sarafnya sudah tak berfungsi. Ia terpaksa menghabiskan hidup dengan kaki pincang. Di tengah keluarga, Angelo seorang anak penurut dan sabar, serta tak banyak mengeluh.

Cita-cita Angelo sebenarnya bukan menjadi imam. Orangtuanya kurang secara financial. Ia masuk Seminari Menengah Brescia pada usia 18 tahun. Awalnya, ia merasa minder karena banyak teman punya kemampuan di atas rata-rata, baik fisik maupun intelektual. Tapi demi mendapat pendidikan layak, ia terus bertahan dan menuruti aturan seminari yang kadang kaku.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*