Artikel Terbaru

Alat Musik Liturgi

Alat Musik Liturgi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah pantas jika dalam perayaan Ekaristi  digunakan alat musik liturgi seperti jemaat  Protestan?  Bagaimana pandangan Gereja?

Andreas Tjahyono, Jakarta

Pertama, Gereja menyadari bahwa penggunaan musik dalam liturgi bisa sangat membantu menambah keagungan dan kekhidmatan upacara liturgi dan mengangkat pikiran dan perasaan seluruh jemaat kepada Allah. Musik liturgi itu bisa dimainkan untuk mengiringi nyanyian atau bisa juga dimainkan secara solo (instrumental). Permainan instrumental bisa membantu fokus batin sesuai dengan kebutuhan yang ada. “Musik liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.” Tujuan Musik Liturgi ialah “kemuliaan Allah dan pengudusan umat beriman” (SC 112) bukan untuk show atau pamer.

Kedua, alat musik liturgi resmi dalam Gereja Katolik adalah orgelpipa. Inilah alat musik liturgi yang paling banyak membantu keagungan dan kekhidmatan upacara liturgi Gereja (bdk. Kongregasi Suci untuk Ritus, Musicam Sacram, No. 62). Tetapi karena harganya yang sangat mahal, Gereja terbuka terhadap penggunaan alat musik lain, misal organ dan keyboard. Diharapkan penggunaan alat-alat musik itu mendekati suara orgel.

Alat-alat musik lain, baik lokal atau tradisional, boleh digunakan asalkan melalui pertimbangan otoritas lokal. Merekalah yang menilai apakah alat musik itu cocok untuk membantu meningkatkan keagungan dan kekhidmatan upacara liturgis atau tidak, seturut kebudayaan dan tradisi setempat.

Jika menurut pendapat umum hanya cocok untuk musik sekular, maka hendaknya alat musik itu sama sekali tidak dipakai dalam liturgi Katolik (MS 63). Misal alat musik “jidor”, tentu dirasakan oleh umat tidak bisa membantu untuk menambah keagungan dan kekhidmatan upacara liturgi, karena itu tidak cocok untuk liturgi. Demikian pula alat musik band dirasakan oleh banyak orang sebagai ungkapan acara yang bersifat sekular, ngepop (profan), maka alat musik band juga dirasa tidak cocok digunakan dalam liturgi.

Dalam hal ini perlu disadari adanya perbedaan rasa liturgi dalam hal keagungan dan kekhidmatan upacara liturgis antara Gereja Katolik (perayaan Ekaristi) dan Gereja Protestan (Perjamuan Tuhan). Kehadiran nyata (Lat: praesentia realis) dari Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus menjadi faktor utama yang melahirkan perbedaan ini. Penggunaan alat musik band bisa dirasakan sangat mengganggu kekhidmatan umat dalam perayaan Ekaristi. Di lain pihak dalam kebaktian Gereja Protestan umat merasa terbantu karena menambah kemeriahan kebaktian.

Ketiga, selain pertimbangan kesesuaian alat musik itu dengan upacara liturgi, perlu juga dipertimbangkan lingkup budaya dan kesesuaian dengan “rasa budaya” umat yang mengikuti upacara liturgi itu, misal gamelan dipandang sebagai alat musik yang sangat dekat dengan upacara rohani, dan karena itu banyak orang dengan budaya Jawa akan terbantu untuk mengalami keagungan dan kekhidmatan upacara liturgis. Akan tetapi, jika gamelan digunakan pada perayaan Ekaristi umum pada hari Minggu di kota-kota besar, dirasakan gamelan tidak bisa diterima semua umat, karena umat yang hadir berasal dari aneka budaya dan banyak yang merasa “asing” dengan iringan gamelan.

Pertimbangan yang sama juga dilakukan jika digunakan kolintang atau angklung. Alat-alat musik tradisional atau lokal sangat cocok digunakan dalam Misa inkulturasi. Yang sangat perlu dihindari ialah kesan seolah-olah alat musik itu menjadi yang utama dalam upacara liturgis, sehingga memberi kesan show atau sebuah acara pertunjukan atau hiburan dalam upacara liturgi.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 40 Tahun 2016, Terbit pada Minggu: 2 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*