Artikel Terbaru

Bukan Menyembah Berhala

Sumber Foto: www.britannica.com
Bukan Menyembah Berhala
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comKita mempunyai patung, zaman dahulu berupa ukiran, zaman sekarang berupa tuangan. Mohon penjelasan Romo, apakah praktik itu tidak bertentangan dengan Kel 20:4-5 dan Kel 34:17?
 
Kamilus P. Hala, Long Ikis, Pasir
 
Pertama, perlu diperhatikan bahwa tujuan utama teks yang Bapak rujuk itu ialah melarang penyembahan berhala (Kel 20:5; bdk Kel 32). Larangan itu tidak bisa diartikan sebagai larangan membuat dan menggunakan patung untuk segala tujuan lain. Kenyataannya, memang pembuatan patung tidak dilarang karena Allah sendiri memerintahkan pembuatan dua kerubim dari emas yang ditempatkan di atas penutup Tabut Perjanjian (Kel 25:18-20).
 
Sebagai sarana ibadat di Bait Allah, juga digunakan benda-benda seperti Tabut Perjanjian, lembu-lembu emas, dan kerubim-kerubim di Tempat Yang Maha Kudus (1 Raj 6:23-28). Juga ular perunggu (Bil 21:8-9) pernah dihormati sambil didupai. Semua itu bukanlah sebagai obyek tujuan ibadat tapi hanya sarana.
 
Kedua, sangat menarik dan bisa memberi pencerahan kalau Kel 20:4-5 dibandingkan dengan Kej 1:26-27, karena sama-sama menggunakan kata ”gambar” dan ”rupa” (Inggris:image and likeness). Jika dalam Kel 20:4-5 Allah melarang pembuatan ”gambar” dan ”rupa” apa pun seperti Allah, tetapi justru dalam Kej 1:26-27 Allah sendiri menciptakan manusia menurut ”gambar” dan ”rupa” Allah. Selain itu, dalam penciptaan Allah juga memberi kuasa untuk menaklukkan dan memelihara alam semesta (Kej 1:28; 2:15), sehingga manusia benar-benar sangat mirip dengan Allah (Sir 17:1-3).
 
Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya Allah tidak khawatir atau takut bahwa ada makhluk atau ”benda” yang dibuat mirip dengan ”gambar” dan ”rupa”-Nya, asalkan manusia tidak menyembah hal itu.Justru ”gambar” dan ”rupa” itu bisa membantu manusia mengenal Allah lebih mendalam dan lebih tepat (Sir 17:6-13). ”Gambar” dan ”rupa” itu absah saja sebagai sarana, bukan untuk dimutlakkan sebagai tujuan.
 
Ketiga, Allah sendirilah yang mendorong manusia untuk memikirkan dan membayangkan Allah dengan gambaran duniawi. Misalnya, yang bersifat antropomorfis, ”Yang Lanjut Usianya itu” (Dan 7:13), ”ada yang kelihatan seperti rupa manusia” (Yeh 1:26), ”Rajaku dan Allahku” (Maz 5:3), ”Dia yang bersemayam di sorga” (Maz 2:4), ”TUHAN itu pahlawan perang” (Kel 15:3). Gambaran yang membandingkan dengan binatang: ”TUHAN mengaum dari Sion” (Am 1:2), ”laksana rajawali menggoyang-bangkitkan isi sarangnya… dst” (Ul 32:11). Atau gambaran dari benda mati, terutama batu karang atau api (Maz 95:1; Hib 12:29). Penggunaan gambaran mental atau batiniah ini sangat selaras dengan gagasan penggunaan gambaran manusiawi sebagai sarana bantu untuk sampai pada Allah.
 
Keempat, misteri inkarnasi adalah bukti paling kuat bagaimana ”yang manusiawi” digunakan untuk mengenal dan bersatu dengan Allah. Misteri inkarnasi menandai satu lompatan kualitas dalam penggunaan sarana manusiawi, yaitu bahwa Allah bukan hanya digambarkan tetapi menjadimanusia. Yesus Kristus adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan (1 Kor 11:7; 2 Kor 4:4; Kol 1:15). Kepada-Nya telah diserahkan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat 28:18). Yesus Kristus adalah gambaran yang sempurna dari Allah, sehingga Yesus bisa berkata: ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9).
 
Kelima, jadi penggunaan patung atau gambar dalam Gereja Katolik sebagai sarana bantu dalam hidup rohani sangat sesuai dengan kehendak Allah. Sarana bantu itu berguna untuk mengarahkan dan memusatkan pikiran dan imajinasi kita dalam penyembahan kepada Tuhan atau dalam penghormatan para kudus yang tidak bisa kita lihat. Daya cipta, rasa, dan karsa akan sangat terbantu jika menggunakan patung atau gambar dan warna yang tepat.
 
Penggunaan sarana ini mirip dengan penggunaan foto atau benda-benda lain untuk mengenang seseorang yang kita cintai. Kita tentu tidak menyamakan foto atau benda kenangan itu dengan orang-orang yang kita kenang.
 
Seringkali foto dan benda itu menjadi sarana bantu manusiawi yang sangat efektif untuk mengadakan ”kontak” dengan yang ada di balik foto atau benda itu. Konsili Nicea II (787) mengizinkan penggunaan patung atau gambar secara wajar, artinya sebagai sarana bantu dan bukan sebagai obyek penyembahan atau penghormatan.
 
Adanya penyelewengan tidak perlu menjadi alasan untuk membatalkan nilai positif sarana bantu. Penyelewengan kadang terjadi, yaitu orang menciumi, mengelus-elus patung atau gambar.
 
Ungkapan emosional yang demikian juga belum tentu dimaksudkan untuk menyembah patung atau gambar itu. Sebagai manusia yang berdarah daging, seringkali kita membutuhkan ungkapan insani yang konkret, meski pada saat itu kita tetap sadar bahwa yang dipeluk atau dicium adalah patung atau gambar, bukan Allah yang kita sembah.
 
Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 9 Tanggal 4 Maret 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*